• Cinta dalam Secangkir Kopi

    Belakangan ini, aku sering memesan kopi kesukaanmu. Kopi berasa yang kau tahu pasti tak pernah kusuka. Tapi aku memesannya bukan karena telah berganti selera. Aku memesannya karena cinta. Karena kita.   Ya, kita.   Dengan memesannya, kubayangkan kau tengah duduk di sampingku. Menikmati setiap teguk kopi favoritmu itu. Dengan memesannya, kuharapkan kau ada di sisiku.

  • Kita, dan Kesunyian Masing-masing

    Di sana, Kau berkawan dengan bosan. Sepi tak henti berlalu lalang. Dan lengang menjelma rindu, Mengetuk-ngetuk pintu kesabaranmu.   Di sini, Keterasingan menjadi rutin. Sepi mampir saban hari. Dan rindu menjelma harapan. Mendamba pelukmu barang sebentar.   Jarak merengkuh kita dalam nasib yang sama. Memunculkan hening. Menyemaikan nelangsa.   Ah, Kita dan kesunyian masing-masing…     Jogja-Lund

  • Hari kedua puluh empat di bulan itu

      Dan masih saja kuteringat, Pada bulan itu di hari yang kedua puluh empat, Pada senja yang menyapa sesaat Pada hangat, Secangkir kopi dan segelas teh pekat. Ah, bagaimana aku bisa lupa? Pada rintik yang mengurung kita di perbatasan Jogja, Pada kata yang kau rangkai tanpa jeda, Pada jiwa, Yang tiba-tiba saja merasa bahagia. Tanpa

  • Kisah Para Sepatu

    Satu demi satu, Sepatu-sepatu mulai bertingkah mendedah kisah Bertutur kata layaknya manusia “Memangnya kamu saja yang punya cerita,” begitu kata mereka   Satu demi satu, Sepatu-sepatu mulai bertingkah mendedah kisah   “Aku sepatu yang paling disayang” kata sepatu tertua Wajahnya usang pertanda usia   “Tapi aku yang paling cantik” tukas si sepatu batik “Setiap memakaiku

  • Elegi Dua Bungkus Teh Melati

    Tinggal dua bungkus tersisa. Untuk waktu yang tak lagi lama. Harum aroma teh melati. Yang kuseduh tiap pagi. Mengawali hari.. Tapi aku tak sambat. Untuk waktu yang kian dekat. Seperti teh itu aku pasrah. Diseduh air panas yang membuatku gerah. Seperti teh itu waktu akan menjelma hangat. Kian bersahabat. Terasa manis sekaligus sepat. Biarlah hanya