To The Daughters of Mine

“Setapakmu,

Kelak mungkin akan berbeda arah denganku.

Lajumu,

Pasti akan jauh melampaui kecepatanku.

Tapi jangan lupa untuk sesekali melambat.

Agar kamu bisa merekam apa yang belum terlewat.

Tak perlu tergesa.

Karena yang sudah terencana akan sabar menunggu di sana.

Dan setiap kali kamu pulang,

Kita akan berbincang tentang sepatu-sepatu yang kita kenakan.”

***

“Those little feet will soon roam the world.

Those little feet will soon make a run for the future.

And I will stand tall, behind their every step.

Always be there, in every victory and any turn they take.

Cause in those little feet, lay my hope and my prayer.

In those little feet, my happiness finds a way.”

***

 

 

Lund, 2019

To the daughters of mine: Little H & Baby K

Di Bawah Pohon Berdaun Salju | Under The Snow-Leaf Tree

Di bawah pohon berdaun salju itu, kutemukan kita.
Duduk berdua menatap ranting-ranting putih yang mulai merenta.
Aku akan mengeluh kedinginan.
Lalu kau akan merapatkan pelukanmu.
Dan para tetangga akan bertanya-tanya.
Untuk apa kita duduk berdua di bawah pohon berdaun salju.
Saat suhu tak mau bergerak dari titik beku.
Yang tak mereka tahu, di bawah pohon itu, tersimpan rindu.” 


“Under that snow-leaf tree, I found us.
Sitting side by side, staring at the branches turned white.
I would complain about the cold.
Then you’d took me to your arms to hold.
And the neighbors would wonder.
Why should we sit under that snow-leaf tree.
When the temperature dropped under zero degree.
What they didn’t know, under that three, there was love.”

Seorang Penulis yang Bertanya pada Dirinya Sendiri

Seorang penulis suatu hari bertanya pada dirinya sendiri.

Apa jadinya jika dunia kehabisan kosakata?

Akankah diksi menjadi sunyi?

Tak ada lagi awalan atau akhiran?

Tak perlu lagi imbuhan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tak kunjung ia temu jawabnya.

Tapi setengahnya ia tak lagi peduli.

Toh, kata sekarang makin kehilangan makna.

Tak lagi diperhatikan tanda bacanya.

Tak lagi dihiraukan ejaan dan aturan bakunya.

Seseorang bisa bilang ”kami” atau ”kita” tanpa peduli bedanya.

Barangkali penulis itu sedang mencari cerita dibalik bahasa

Atau,

Ia hanya seorang penulis yang tengah lelah merajut aksara.

 

Lund, 15 Desember 2017

The Colors of Autumn

img_6375

The leaves turned red on those days of October

When fall was here and winter was near

Could you taste the sweetness in the air?

The taste of a life free from despair?

I pictured us walking hand in hand

Along the way where everywhere was a yellow lane

I remembered how I would have waited for you

On that old wet bench in Lundagård around 1 pm or two

Our love grew strong despite the wind

Flourishing like mushrooms under the autumn rain

I became gold, you were getting brown

To the colors of heaven we were all belong.

img_6599

Lund, 2017/10/23

Lund, 17 Juli

Thank you for growing old with me

Cinta membawa kita menua bersama,

Sejak sebelas tahun yang lalu,

Sekarang,

Dan (semoga) untuk seterusnya

Cinta membawa kita melewati pergantian usia bersama,

Dalam hingar bingar masa muda,

Dalam sepi yang sempat diciptakan oleh jarak,

Dan dalam hening,

Serangkaian doa yang kupintakan untukmu secara rutin:

Agar mudah semua urusanmu,

Agar berkah umur barumu,

Agar cinta tak pernah lelah membawamu melangkah sejauh apapun,

Bersamaku.

————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

Thank you for bringing out the best in me

Dear daughter,

Since the day you were born,

I try to be the person you can rely on

Though I may not be perfect, I’m grateful you are growing up as a better version of me and your dad

Happy birthday, my sweetie pie

I’m wishing you thousands of bless, countless happiness and anything at its best.

Love,

Bunda Hayu

Bagaimana Caranya Merindumu?

“Sengaja tak lagi kulirik jam yang berdetik.

Agar tak terasa lama, saat-saat kita kembali bersua.

Karena sungguh, aku tak tahu lagi bagaimana caranya menunggumu.

Bait-bait kangenku mulai sumbang.

Kalimat-kalimat rinduku mulai berulang-ulang.

Mungkin rasaku telah kehabisan kosakata.

Menantimu telah mementahkan semua frasa.

Atau mungkin sudah saatnya kamu pulang.

Agar semua kerinduan ini cukup tersampaikan dalam satu pelukan.”

Jogja-Lund

7 Oktober 2016