Crush

Zaki and I had a bedtime talk the other day, about me who had just changed my current crush from Alexander Skarsgård to Thomas Beaudoin. He found it’s bit strange because I change my crush like a girl changes her dress (yeah, just like that Katy Perry’s song 😆). Very quickly.

Unlike him who’s “committed” to Jennifer Aniston since F.R.I.E.N.D.S was still the biggest show on TV (I know. It’s so last year, right? Told Zaki already!). None of my crushes stayed for more than a month. I’m too easy to fall for someone indeed. I watch a movie for once and I can instantly crazy over one of the characters. It’s been like that since forever. I once obsessed with Jude Law, Matthew Goode, Hugh Grant, Hugh Jackman, Josh Hutcherson, Miles Teller, Armie Hammer, Shah Rukh Khan, Chris Pratt, Alexander Skarsgård and the list went on. Currently, I’m smitten by a Canadian actor: Thomas Beaudoin which I first noticed from a cheesy romantic comedy on Netflix 😅. But I’m 100% sure it won’t last long. Give me few weeks and I will easily move to another crush. Haha. That’s just how it is. Easy come, easy go.

Continue reading “Crush”

Bekerja Sukarela di Swedia

Tak banyak orang (mungkin) yang mau bekerja sukarela (volunteering). Selain karena persoalan waktu, soal balasan/imbalan/upah/kontraprestasi juga sering menjadi pertimbangan tersendiri. Sebenarnya, bekerja sukarela sudah lama menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Hal ini tampak dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti kerja bakti, gotong royong, dan sebagainya. Namun, seiring dengan semakin sibuknya kehidupan modern, maka lebih mudah bagi masyarakat sekarang untuk membayar orang melakukan suatu pekerjaan daripada terlibat dalam pekerjaan tersebut. Misal dengan membayar hansip untuk menjaga lingkungan tempat tinggal daripada menjalankan metode sisklamling bergilir. Tentu saja tidak ada yang salah dengan hal itu. Barangkali memang seperti itulah mekanisme yang lebih pas untuk kehidupan masyarakat Indonesia jaman now.

Tapi, tidak begitu dengan di Swedia. Volunteering di sini, adalah hal yang jamak. Kegiatan sekolah, dari mulai hal-hal teknis seperti memasang gantungan baju overall hingga mengelola pameran, sering melibatkan peran orang tua. Begitu juga dengan kegiatan kommun (semacam lingkungan kelurahan/kotamadya) yang dilaksanakan dengan partisipasi aktif dari masyarakatnya. Tentu saja tak ada paksaan. Mau ikut ayo. Tidak ikut ya boleh-boleh saja. Namanya juga sukarela.

Continue reading “Bekerja Sukarela di Swedia”

Better When I’m Writing

Zaki asked me the other day, what things I am still passionate about lately. I gave him three answers, and among those, the first and most definite one was writing. Later I realised that writing is actually the only thing I consistently do since I was still in the elementary school. Though I must admit, I never had any chance to work on it properly.

Part of it was because it seemed like being a writer was less prestigious than being a doctor, or a teacher, or an astronaut, or an architect, or any other profession in this world. And it was just so hard to keep your passion when everyone around you didn’t take it really seriously. In my case, I found it was hard for me not to be tempted with the idea of being “somebody”. And the general definition of “somebody” in Indonesia is anything but freelance, including writing. Most people will consider it as merely a hobby.

I got some people who supported my passion, in different ways, though. My dad used to take me to his school library so I spent most of my childhood drowning into books and that’s how book became one of my obsessions (there’s a story about it here). My mom gave me a diary so I had something to write on. And there was a teacher in my junior high school who once asked me to join a writing competition. I didn’t join the competition at the end (because I wasn’t sure what to write and bit lazy, to be honest) but he was one of the few people who made me feel that I can write. Somehow. Someday.

Continue reading “Better When I’m Writing”

Senandung Musim Gugur

Jauh sebelum saya mengunjungi negara empat musim, musim gugur sudah menjadi musim favorit saya. Meski lahir dan besar di negara dua musim yang hanya mengenal hujan dan kemarau, entah mengapa saya merasa terhubung dengan memori musim gugur yang saya baca di majalah-majalah, saya lihat di televisi atau saya bayangkan dari puisi-puisi. Mungkin karena karakter dasar saya yang (sok) romantis dan melankolis. Sehingga daun-daun jatuh saya anggap sebagai momen magis yang menghanyutkan.

Jangankan musim gugur di belahan bumi selatan atau utara, “musim gugur” di kampung halaman saya, yang ditandai dengan daun-daun pohon Akasia yang berguguran, atau pohon Jati yang meranggas, sudah cukup membuat saya duduk melamun lama menikmati setiap detilnya.

img_6857
Musim gugur di kampung halaman

Ah, saya ini memang sentimentil. Gemar berkubang dalam romantisme yang saya buat-buat sendiri.

Continue reading “Senandung Musim Gugur”

30 Something and Over It

Looking back on the birthdays I had in the last 31 years, I realized how life around me has changed, and changed the way I see my life as well.

I personally think that birthday is a paradox moment. The day when we feel happy on one side because there’s no other day that is more ours than that day. But, on the other side, we also feel sad or at least worried to know that we are older than before. Ha. (Somebody pass me that anti aging cream, please! 😆 )

I don’t celebrate birthday often. Not in a way it’s usually celebrated. There is no big celebration tradition in my family. Birthday is just like any other day. Though I remember, there were some small birthday parties when I was a little kid. The simple parties with the same routine: my mom bought two regular cakes, stacked them, then decorated them with fresh flowers and leaves ( yes, no fancy icing whatsoever. I didn’t even know that black forest cake was exist at that time 😂 ), or we would buy something special for dinner like chicken satay or Javanese noodle, then took a family picture. Just like that. Sometimes I got presents. Sometimes I didn’t. But it didn’t really matter. The happiness was still mine because I was surrounded by the people I love and love me back.

Continue reading “30 Something and Over It”

Dilema Mengenalkan Multi Bahasa ke Anak

Saya tidak tahu apakah ini perasaan saya saja, atau rata-rata orang tua di luar sana juga merasakan hal yang sama. Tapi saya merasa, menjadi orang tua sering menempatkan kita pada situasi yang kompleks. Antara mau begini. Tapi juga begitu. Ingin yang ini. Tapi mau juga yang itu. Kita sebut saja perasaan kompleks itu sebagai dilema.

Dalam hal masa depan anak misalnya. Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Kita mendoakan, membimbing dan mengarahkan. Tapi sebagai orang tua juga, saya sadar, bahwa hidup anak saya sepenuhnya adalah hak dia. Kita tidak berhak memaksa dia menjalani apa yang kita mau atau memaksa mereka untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita yang belum/tidak terpenuhi. Makanya saya termasuk yang tidak terlalu suka mengajari anak saya banyak hal tanpa persetujuan darinya. Mungkin karena saya sendiri juga malas belajar, haha, sehingga saya tahu tidak enaknya diajari tanpa kita sendiri mau. Tidak terkecuali dalam hal belajar bahasa.

Continue reading “Dilema Mengenalkan Multi Bahasa ke Anak”

When Ms Random meets Mr Planner

Saat-saat ketika merencanakan perjalanan adalah saat-saat di mana saya semakin menyadari betapa sesungguhnya saya dan suami adalah pribadi yang sangat bertolak belakang. Saya adalah manusia random. Happy go lucky person yang percaya bahwa semesta telah diatur sedemikian rupa. Cenderung mengalir saja tanpa perencanaan. Sementara suami adalah Mr Planner sejati. Sangat perhatian pada detail dan memiliki manajemen resiko yang terlalu tinggi. Hampir semua hal dalam hidupnya melalui perencanaan matang. Satu-satunya hal spontan yang pernah dia lakukan (yang masih dia ingat) adalah menjadikan saya sebagai pacarnya meski baru beberapa minggu kenal. Haha. Dan ini yang biasanya menjadi kartu AS saya untuk mengingatkan bahwa beberapa hal baik justru dimulai dari sebuah kesertamertaan (ahem!).

Tentu saja sebagai pasangan kami juga saling memengaruhi. Saya tak lagi anti rencana. Sementara dia mulai bisa menerima fakta bahwa tidak semua hal bisa ia kendalikan. Tapi tetap saja, yang namanya karakter dasar tidak bisa 100% diubah. Saya masih kerap ceroboh dan masa bodoh. Suami masih suka khawatir berlebih dan uring-uringan. Dan karakter dasar itu semakin menguat justru ketika kami dihadapkan pada satu hal yang sama-sama kami sukai: traveling!

Continue reading “When Ms Random meets Mr Planner”