Menyuruh Anak ke Warung

Bagi sebagian orang tua, menyuruh anak membeli sesuatu di warung mungkin hanyalah perkara sepele. Hanya soal permintaan tolong sederhana yang tidak perlu dibesar-besarkan. Apa sih istimewanya mengirim anak berbelanja?

Tapi buat saya, menyuruh anak ke warung adalah momen serius yang terkait banyak hal. Tidak hanya soal memberi kepercayaan, tapi juga soal kemandirian, rasa percaya diri hingga melatih keberanian. Dan bukan hanya untuk si anak. Tapi juga untuk saya sendiri, sebagai ibu.

Momen menyuruh anak ke warung ini baru saja saya alami akhir pekan kemarin. Saat saya meminta anak sulung saya membeli roti dan susu di toko dekat rumah. Sudah lama memang saya berencana melakukan hal ini. Selain untuk melatih anak saya, juga untuk melatih saya melepas anak pergi sendiri. Sebenarnya sudah beberapa kali anak saya pergi tanpa saya atau Ayahnya. Tapi selalu dalam rombongan. Entah itu teman sekolah, anggota keluarga besar, atau tim sepak bola. Belum pernah dia pergi melakukan sesuatu sendirian.

Maka ketika akhir pekan lalu stok susu dan roti kami habis, saya pun menawarinya untuk membeli dua hal itu di warung yang berjarak sekitar 350m dari rumah. Sebelum-sebelumnya saya sudah berulang kali mengatakan bahwa akan ada saat di mana saya memintanya pergi berbelanja tanpa saya. Sehingga ketika hari itu tiba, dia tidak kaget. Setelah menjelaskan ini-itu dan memberinya arahan yang dirasa perlu, saya membekalinya uang 50 kronor, tas belanja dan ponsel saya untuk berjaga-jaga, lalu melepasnya berangkat belanja sendiri. Estimasi saya, aktivitas berbelanja itu akan dia lakukan dalam kurun waktu 15 menit. Dan saat itulah saya sadar, 15 menit itu adalah salah tingkah terpanjang pertama saya sebagai ibu 😄

Continue reading “Menyuruh Anak ke Warung”

Saya batal Golput tahun ini

Saya batal Golput tahun ini.

Pemilu tahun ini terasa lebih dilematis daripada sebelum-sebelumnya. Kenapa? Karena pilihannya bukan lagi madu lawan cuka. Tapi cuka merek A atau cuka B. Sama saja asamnya.

Salah satu kandidat sama sekali bukan pilihan untuk saya. Mereka yang masa kecilnya mempertanyakan ketiadaan pilihan (kenapa harus suka kuning kalau sukanya warna lain, misalnya), masa pembentukannya menonton Batas Panggung, masa dewasanya akrab dengan multikulturalisme, pasti paham mengapa.

Jadi pilihannya hanya ada satu,

atau Golput.

Sejak memilih pertama di Pemilu 2004, saya bergonta-ganti pilihan mengikuti nilai dan prinsip yang diperjuangkan. Idealnya kan begitu. Politik adalah seni tentang prinsip-prinsip pemerintahan, bukan soal populisme dan pelanggengan kekuasaan. Saya tak pernah terikat partai. Merasa harus memilih ini karena begini. Atau itu karena partainya begitu. Saya mencari nilai. Melihat apa yang ditawarkan oleh orang-orang itu. Lalu memilih yang benar menurut akal dan nurani saya.

Tahun 2009 saya Golput. Semesta sepertinya berkonspirasi demikian. Saya bangun kesiangan dan ban motor saya bocor tiga kali selama perjalanan menuju TPS (saya tinggal di Jogja tapi masih terdaftar di Gunungkidul). Alhasil begitu sampai, TPS sudah tutup. Saya tak menyesal, toh saya belum benar-benar yakin siapa yang akan saya pilih saat itu.

Tahun 2014 saya vokal dengan pilihan saya. Bahkan menunjukkan dukungan secara terang-terangan. Saya merasakan hawa baru sekaligus harapan baru bagi Indonesia. Rasanya seperti memilih Obama dalam versi yang lebih dekat, lebih terjangkau, dan lebih relatable.

Tapi tahun ini, keraguan langsung muncul saat pengumuman calon kandidat. Sejujurnya saya mengharapkan lebih dari dua calon. Mungkin tiga, atau syukur-syukur empat. Barangkali akan lebih dinamis. Tidak terjebak dalam oposisi biner seperti sekarang.

Saya makin ragu saat tak satupun kandidat membahas substansi masalah. Ribut soal ukuran tempe. Saat mereka sibuk menyerang lawan bukan memperjuangkan nilai. Juga karena tak ada yang serius membahas isu-isu tentang perubahan iklim atau pelanggaran HAM.

Bahkan hingga sosialisasi Pemilu di Lund, juga ketika amplop surat suara saya terima, saya masih bertanya-tanya, haruskah saya memilih atau Golput saja?

Setelah merenung cukup lama, membaca lagi di sana-sini, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, saya akhirnya memilih cuka dengan tingkat keasaman yang bisa saya “tolerir”. Cuka yang masih mungkin memberikan ruang untuk usulan dan kritik. Cuka yang bisa diajak “ngobrol”, bukan yang gelap mata dan membenarkan segala cara. Plus, saya tidak bisa (dan sedikit takut) membayangkan kalau sampai cuka yang satunya yang menang.

Jadi, sayapun batal Golput tahun ini. Kalau, kamu?

Lund, Jogja dan segala sesuatu di antaranya

Pulang tahun ini bisa dibilang sedikit di luar rencana. Awalnya kami berniat pulang ke Indonesia di akhir tahun, sekalian mengungsi dari musim dingin Swedia yang ajaib. Juga menunggu tabungan agak ”mendingan” dulu setelah libur panjang musim panas tahun lalu 😅.

Tapi dua kabar baik di bulan Maret membuat kami menata ulang semua rencana perjalanan.

Pertama, adik ipar saya menerima lamaran dari calon suaminya waktu itu. Rencana pernikahan pun disusun dan waktu yang tepat bagi semuanya adalah di bulan Juli. Kedua, tes urin yang saya lakukan menunjukkan bahwa saya positif hamil dengan perkiraan lahir Desember 2018, sehingga tidak mungkin melakukan perjalanan di bulan-bulan itu. Dua hal ini, kemudian membuat kami memindahkan rencana pulang ke Indonesia ke bulan Juli.

Continue reading “Lund, Jogja dan segala sesuatu di antaranya”

Segenggam Daun So dan Sepetak Tanah di Belakang Rumah

40cdd708-cefc-4922-b190-038d5cee858aPohon Melinjo, yang bernama latin Gnetum gnemon, lebih lazim disebut dengan pohon So di kampung halaman saya. Saya tidak tahu persis dari mana sebutan itu berasal, tapi pohon So adalah salah satu tanaman yang mudah ditemui di halaman belakang rumah-rumah.

Mungkin karena pohon ini termasuk mudah tumbuh di tanah yang kering dan berkapur. Mungkin juga karena pohon ini memiliki banyak fungsi: daun dan kulit buahnya bisa disayur, sementara buahnya diolah menjadi emping.

Tanpa saya sadari, pohon So telah menjadi bagian penting dari memori saya atas kampung halaman. Salah satu hal yang paling saya ingat dari masa kecil saya adalah menyaksikan nenek saya memanen melinjo dari dua pohon besar yang ada di belakang rumahnya. Dan saya yang memunguti buah-buah melinjo, memisahnya sesuai warna: hijau, kuning, atau merah.

Continue reading “Segenggam Daun So dan Sepetak Tanah di Belakang Rumah”

Sepatu

Wajah saya mendadak sumingrah saat kami melewati satu toko di Klostergatan. Sayapun berhenti sebentar. Menatap etalase di depan saya dengan mata berbinar. “Waaaahhhh, bagus banget sepatunya,” kata saya sambil menunjuk sepatu boots berbahan kulit dan berwarna dusty pink. Suami saya hanya tersenyum kecil lalu berujar: “Ada apa sih dengan kamu dan sepatu?”

Ya. “Ada apa dengan saya dan sepatu?”. Pertanyaan itu juga kerap saya ajukan ke diri saya sendiri. Di antara sekian banyak aksesoris yang diidentikkan dengan wanita, saya paling mudah tergoda oleh sepatu. Koleksi saya bukan sangat banyak. Karena bagaimanapun, obsesi seringkali dibatasai oleh keadaan dan kemampuan. Haha. Jadi seberapapun terobsesinya saya dengan sepatu, saya tak sampai harus punya lemari khusus. Meskipun, harus saya akui, saya pernah punya puluhan alas kaki di waktu yang bersamaan (dulu sebelum negara api menyerang 😀 ).

Continue reading “Sepatu”

Saya dan Film India

Sebagai generasi yang lahir pertengahan 1980an, saya adalah generasi MTV yang masa pembentukan karakternya dihiasi dengan menonton boyband lalu lalang di televisi. NSync, Westlife, Backstreet Boys, Boyzone adalah sederet grup yang wajah para personilnya menghiasi dinding kamar saya, berdampingan dengan poster para pemain sepak bola.

Namun, selain sebagai generasi MTV, saya juga adalah generasi 90an yang tumbuh dengan menonton film India di salah satu stasiun televisi yang (waktu itu) mengklaim dirinya sebagai televisi pendidikan 😅. Inspektur Vijay, Nandini si Siluman Ular, dan Tuan Takur adalah nama-nama yang tidak asing di telinga saya. Sewaktu SD, merekalah yang kerap saya lihat siang-siang sepulang sekolah (secara tidak utuh karena pasti ceritanya sudah hampir selesai ketika saya sampai di rumah).

Kuch_Kuch_Hota_Hai_poster
Gambar dipinjam dari Wikipedia

Pengalaman menonton film India yang tidak utuh itu belakangan ternyata memberikan satu memori khusus bagi saya. Terutama ketika salah seorang teman sekelas saya di masa SMP mengajak saya menonton “Kuch-kuch Hota Hai“, drama romantis ala India yang ceritanya berputar di persoalan cinta dan persahabatan (iya klise iya, ga usah dibahas 😀 ). Saya yang sedang di masa puber, seketika langsung terpesona pada film itu (juga pada Shahrukh Khan, ahem!), dan mulai berpikir bahwa jatuh cinta lalu tiba-tiba menari dan bernyanyi mengelilingi pohon di kala hujan itu seru juga 😅 . Sebegitu tersihirnya saya dengan film tersebut, sampai-sampai saya menabung untuk membeli kaset berisi lagu-lagunya. #semuaorangpernahalaydimasanya 😀

Continue reading “Saya dan Film India”

Year End Note

The end of 2017 is almost here. Time surely flies before we even realize. The day when I left Indonesia for Sweden still feels like yesterday. But in fact, I’m going to witness my second new year in Sweden, in the next few hours. The 2017 itself is really something for me as this is the year of a new beginning and also a year of paradox because there were unfulfilled dreams at one side, and dreams come true moments at the other side. Just like you, and other people in this world, I had quite random stories in 2017. Not all the stories had happy endings. But there were more stories to be grateful for. And I thank God, the most gracious and most merciful, for that. Anyway, here is the recap for the year:

January:

Trying to embrace the ways of living in Sweden. Adaptation was the key word during this month. We experienced the first snow in Lund. And Hayya started her new school.

February:

Zaki bought me a new phone. Went to Lomma beach on winter. Made cilok 😁

Continue reading “Year End Note”