• Kita, dan Kesunyian Masing-masing

    Di sana, Kau berkawan dengan bosan. Sepi tak henti berlalu lalang. Dan lengang menjelma rindu, Mengetuk-ngetuk pintu kesabaranmu.   Di sini, Keterasingan menjadi rutin. Sepi mampir saban hari. Dan rindu menjelma harapan. Mendamba pelukmu barang sebentar.   Jarak merengkuh kita dalam nasib yang sama. Memunculkan hening. Menyemaikan nelangsa.   Ah, Kita dan kesunyian masing-masing…     Jogja-Lund…

  • Hari kedua puluh empat di bulan itu

      Dan masih saja kuteringat, Pada bulan itu di hari yang kedua puluh empat, Pada senja yang menyapa sesaat Pada hangat, Secangkir kopi dan segelas teh pekat. Ah, bagaimana aku bisa lupa? Pada rintik yang mengurung kita di perbatasan Jogja, Pada kata yang kau rangkai tanpa jeda, Pada jiwa, Yang tiba-tiba saja merasa bahagia. Tanpa…

  • Kisah Para Sepatu

    Satu demi satu, Sepatu-sepatu mulai bertingkah mendedah kisah Bertutur kata layaknya manusia “Memangnya kamu saja yang punya cerita,” begitu kata mereka   Satu demi satu, Sepatu-sepatu mulai bertingkah mendedah kisah   “Aku sepatu yang paling disayang” kata sepatu tertua Wajahnya usang pertanda usia   “Tapi aku yang paling cantik” tukas si sepatu batik “Setiap memakaiku…

  • Elegi Dua Bungkus Teh Melati

    Tinggal dua bungkus tersisa. Untuk waktu yang tak lagi lama. Harum aroma teh melati. Yang kuseduh tiap pagi. Mengawali hari.. Tapi aku tak sambat. Untuk waktu yang kian dekat. Seperti teh itu aku pasrah. Diseduh air panas yang membuatku gerah. Seperti teh itu waktu akan menjelma hangat. Kian bersahabat. Terasa manis sekaligus sepat. Biarlah hanya…

  • Kosakata Asmara

    Sudah lupakah kamu? Pada kosakata asmara yang mesra kita umbar di waktu-waktu dulu? Sudah lupakah kita? Pada peribahasa cinta yang menghiasi hari-hari kita nyaris tanpa jeda? Mengapa kini tak lagi ada kata bersalut gula? Kalimat berbalut rayuan gombal? Atau frase penuh bisikan rindu? Barangkali kita hanya kehabisan diksi Atau mungkin kata-kata tak diperlukan lagi Mungkin…