Investasi Perlengkapan Bayi

Sejak sebelum punya anak, saya sudah mudah tergoda dengan barang-barang perlengkapan bayi yang lucu-lucu, yang seperti melambai-lambai minta dibawa pulang. Belakangan ketika sudah punya anak, saya sadar banyak perlengkapan bayi yang sebenarnya enggak butuh-butuh amat untuk dibeli. Dari situ saya belajar melakukan semacam “investasi.” Membeli perlengkapan bayi yang memang benar-benar nyaman, berguna dan tahan lama, bukan sekedar “cute” saja. Tentu saja melalui proses trial and error juga. Ada barang-barang “tidak berguna” yang pernah saya beli sewaktu anak pertama saya lahir dulu. Misal saya pernah beli pelindung lutut, sepatu (bayi yang belum berjalan sebenarnya tidak perlu sepatu, bukan? 😅) atau detergen khusus bayi.

Dari beberapa pembelian, berikut adalah daftar perlengkapan bayi terbaik yang pernah saya beli. Siapa tahu bisa menjadi referensi bagi mereka yang merencanakan punya anak, atau sekedar ide kado.

Continue reading “Investasi Perlengkapan Bayi”

Ke Billund Naik Kereta

“Liburan kita “orang tua” banget ya mas sekarang,” ujar saya pada suami saat kami baru saja sampai di Legoland Billund, Minggu (23/6) lalu.

 

Kami berdua terkekeh. Tapi tentu tak ada nada kecewa di sana. Saya berkomentar begitu lebih karena di antara kami berdua tidak ada yang benar-benar menggemari amusement park, tidak ada yang masa kecilnya asyik bermain lego (level saya cuma lego ala pasar yang gedhe-gedhe dan terbuat dari plastik berbahaya itu 😆) tidak pernah juga kencan di Dufan, jadilah kami tak sering-sering amat bermain di taman bermain macam begini.

Tapi setelah menjadi orang tua dari bocah yang sekarang hampir 9 tahun, yang memang menyukai lego, dan tinggal di Lund yang hanya sepelemparan tiket kereta dari Billund, rasanya kok sayang jika melewatkan kesempatan mengunjungi Legoland di tanah kelahirannya. Terlebih lagi sejak hamil besar akhir tahun lalu kemudian punya bayi kicik, kami jarang banget jalan bareng berempat yang agak jauh. Jadilah liburan musim panas tahun ini all about our first born 😅.

Continue reading “Ke Billund Naik Kereta”

Menyuruh Anak ke Warung

Bagi sebagian orang tua, menyuruh anak membeli sesuatu di warung mungkin hanyalah perkara sepele. Hanya soal permintaan tolong sederhana yang tidak perlu dibesar-besarkan. Apa sih istimewanya mengirim anak berbelanja?

Tapi buat saya, menyuruh anak ke warung adalah momen serius yang terkait banyak hal. Tidak hanya soal memberi kepercayaan, tapi juga soal kemandirian, rasa percaya diri hingga melatih keberanian. Dan bukan hanya untuk si anak. Tapi juga untuk saya sendiri, sebagai ibu.

Momen menyuruh anak ke warung ini baru saja saya alami akhir pekan kemarin. Saat saya meminta anak sulung saya membeli roti dan susu di toko dekat rumah. Sudah lama memang saya berencana melakukan hal ini. Selain untuk melatih anak saya, juga untuk melatih saya melepas anak pergi sendiri. Sebenarnya sudah beberapa kali anak saya pergi tanpa saya atau Ayahnya. Tapi selalu dalam rombongan. Entah itu teman sekolah, anggota keluarga besar, atau tim sepak bola. Belum pernah dia pergi melakukan sesuatu sendirian.

Maka ketika akhir pekan lalu stok susu dan roti kami habis, saya pun menawarinya untuk membeli dua hal itu di warung yang berjarak sekitar 350m dari rumah. Sebelum-sebelumnya saya sudah berulang kali mengatakan bahwa akan ada saat di mana saya memintanya pergi berbelanja tanpa saya. Sehingga ketika hari itu tiba, dia tidak kaget. Setelah menjelaskan ini-itu dan memberinya arahan yang dirasa perlu, saya membekalinya uang 50 kronor, tas belanja dan ponsel saya untuk berjaga-jaga, lalu melepasnya berangkat belanja sendiri. Estimasi saya, aktivitas berbelanja itu akan dia lakukan dalam kurun waktu 15 menit. Dan saat itulah saya sadar, 15 menit itu adalah salah tingkah terpanjang pertama saya sebagai ibu 😄

Continue reading “Menyuruh Anak ke Warung”

Kali Kelima

Kami pindah rumah lagi!

img_4984

Ya, awal April lalu kami pindah rumah lagi. Dan ini adalah kepindahan saya yang keempat, serta kelima untuk suami. Sewaktu mengunggah foto terakhir di Stångby beberapa waktu yang lalu, sejumlah kawan mengira kepindahan kami adalah back for good. Bahwa program S3 suami sudah selesai dan kami pulang ke Indonesia.

Itu hoax. Hehe.

Tidak terbukti valid dengan metode apapun 😄

Faktanya, kami masih di Swedia. Program suami baru menjelang seminar ketiga (dari total empat). Jadi masih separuh jalan lebih sedikit. Doakan saja semoga bisa selesai di waktu yang baik untuk semua 🙏🏼

Anyway, kami memang pergi dari Stångby. Tapi ”cuma” pindah rumah. Soal pindah-pindah rumah ini sudah pernah saya singgung sekilas di unggahan saya yang ini, tapi lebih lengkapnya akan saya bahas di sini. Siapa tahu bisa mengalihkan kepenatan dari ingar bingar Pemilu 😄

Continue reading “Kali Kelima”

Saya batal Golput tahun ini

Saya batal Golput tahun ini.

Pemilu tahun ini terasa lebih dilematis daripada sebelum-sebelumnya. Kenapa? Karena pilihannya bukan lagi madu lawan cuka. Tapi cuka merek A atau cuka B. Sama saja asamnya.

Salah satu kandidat sama sekali bukan pilihan untuk saya. Mereka yang masa kecilnya mempertanyakan ketiadaan pilihan (kenapa harus suka kuning kalau sukanya warna lain, misalnya), masa pembentukannya menonton Batas Panggung, masa dewasanya akrab dengan multikulturalisme, pasti paham mengapa.

Jadi pilihannya hanya ada satu,

atau Golput.

Continue reading “Saya batal Golput tahun ini”

Mengapa Swedia Peduli dan Mengapa Kita Lupa

Tiga bulan terakhir, pemberitaan tentang Greta Thunberg, anak muda Swedia yang mogok sekolah karena mengkampanyekan perubahan lingkungan memenuhi media dan lini masa saya. Di waktu yang hampir bersamaan, muncul kabar tutupnya Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, dan keresahan warga Jogja soal mau dibawa ke mana sampah-sampah mereka. Belum soal kabar paus yang mati karena menelan berkilo-kilo plastik. Semua hal ini membangkitkan keinginan lama saya untuk menulis tentang pengelolaan sampah di Swedia.

Swedia memang bisa dibilang sangat serius soal pengelolaan sampah dan kepedulian lingkungan. Greta adalah bukti nyata bagaimana kesadaran lingkungan menjadi keseharian di negara ini. Dan dia tidak sendirian. Banyak Greta-Greta yang lain yang menjadikan kesadaran lingkungan sebagai gaya hidup. Mereka adalah hasil dari sistem yang sudah disiapkan sedari awal. Pilah-pilih sampah sudah diajari sejak dini. Reduce, reuse, recycle bukan hanya berhenti sebagai slogan. Bahkan, sekolah-sekolah berlomba-lomba menjadi green flag school, salah satu program EU untuk menginisiasi dan melibatkan anak-anak muda dalam menjaga lingkungan, dimulai dari ruang kelas mereka.

Continue reading “Mengapa Swedia Peduli dan Mengapa Kita Lupa”