Saya dan Film India

Sebagai generasi yang lahir pertengahan 1980an, saya adalah generasi MTV yang masa pembentukan karakternya dihiasi dengan menonton boyband lalu lalang di televisi. NSync, Westlife, Backstreet Boys, Boyzone adalah sederet grup yang wajah para personilnya menghiasi dinding kamar saya, berdampingan dengan poster para pemain sepak bola.

Namun, selain sebagai generasi MTV, saya juga adalah generasi 90an yang tumbuh dengan menonton film India di salah satu stasiun televisi yang (waktu itu) mengklaim dirinya sebagai televisi pendidikan 😅. Inspektur Vijay, Nandini si Siluman Ular, dan Tuan Takur adalah nama-nama yang tidak asing di telinga saya. Sewaktu SD, merekalah yang kerap saya lihat siang-siang sepulang sekolah (secara tidak utuh karena pasti ceritanya sudah hampir selesai ketika saya sampai di rumah).

Kuch_Kuch_Hota_Hai_poster
Gambar dipinjam dari Wikipedia

Pengalaman menonton film India yang tidak utuh itu belakangan ternyata memberikan satu memori khusus bagi saya. Terutama ketika salah seorang teman sekelas saya di masa SMP mengajak saya menonton “Kuch-kuch Hota Hai“, drama romantis ala India yang ceritanya berputar di persoalan cinta dan persahabatan (iya klise iya, ga usah dibahas 😀 ). Saya yang sedang di masa puber, seketika langsung terpesona pada film itu (juga pada Shahrukh Khan, ahem!), dan mulai berpikir bahwa jatuh cinta lalu tiba-tiba menari dan bernyanyi mengelilingi pohon di kala hujan itu seru juga 😅 . Sebegitu tersihirnya saya dengan film tersebut, sampai-sampai saya menabung untuk membeli kaset berisi lagu-lagunya. #semuaorangpernahalaydimasanya 😀

Continue reading “Saya dan Film India”

Seorang Penulis yang Bertanya pada Dirinya Sendiri

Seorang penulis suatu hari bertanya pada dirinya sendiri.

Apa jadinya jika dunia kehabisan kosakata?

Akankah diksi menjadi sunyi?

Tak ada lagi awalan atau akhiran?

Tak perlu lagi imbuhan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tak kunjung ia temu jawabnya.

Tapi setengahnya ia tak lagi peduli.

Toh, kata sekarang makin kehilangan makna.

Tak lagi diperhatikan tanda bacanya.

Tak lagi dihiraukan ejaan dan aturan bakunya.

Seseorang bisa bilang ”kami” atau ”kita” tanpa peduli bedanya.

Barangkali penulis itu sedang mencari cerita dibalik bahasa

Atau,

Ia hanya seorang penulis yang tengah lelah merajut aksara.

 

Lund, 15 Desember 2017

Cara Lain Merepresentasikan Indonesia

Hari Jumat kemarin (1/12), sekolah anak saya, Lund International School (LIS) mengadakan Winter Fair, acara sosial tahunan untuk menyambut musim dingin, di mana pihak sekolah dan keluarga saling berkumpul untuk mengenal satu sama lain sekaligus mengumpulkan dana untuk keperluan siswa (fundraising). Event ini juga merupakan momen untuk memamerkan karya-karya siswa, pasar murah, pertunjukan seni dan tak ketinggalan pojok internasional (international corner). Yang saya sebut terakhir merupakan kesempatan bagi semua orang untuk mengenal negara-negara asal siswa yang bersekolah di LIS sekaligus sebagai medium pembelajaran bagi para siswa sendiri.

Awalnya, saya tak berminat mendaftarkan diri untuk membuat Indonesian Corner karena beberapa alasan. Pertama, saya tak membawa banyak barang dari Indonesia untuk dipamerkan (saya bahkan tidak punya bendera Indonesia di sini :D). Kedua, saya tak bisa menari daerah atau memiliki baju daerah sehingga saya tak mungkin unjuk kebolehan di panggung (duh, bahasanya 😀 ). Ketiga, anak saya adalah satu-satunya orang Indonesia di sekolahnya sehingga praktis saya tidak punya rekan yang bisa diajak berkolaborasi untuk merepresentasikan Indonesia di acara Winter Fair tersebut. Membayangkan mengurus semuanya sendirian sudah membuat saya keder duluan. Saya pun berencana untuk membuat makanan Indonesia saja lalu menjualnya sebagai bagian dari usaha penggalangan dana. Continue reading “Cara Lain Merepresentasikan Indonesia”

Bekerja Sukarela di Swedia

Tak banyak orang (mungkin) yang mau bekerja sukarela (volunteering). Selain karena persoalan waktu, soal balasan/imbalan/upah/kontraprestasi juga sering menjadi pertimbangan tersendiri. Sebenarnya, bekerja sukarela sudah lama menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Hal ini tampak dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti kerja bakti, gotong royong, dan sebagainya. Namun, seiring dengan semakin sibuknya kehidupan modern, maka lebih mudah bagi masyarakat sekarang untuk membayar orang melakukan suatu pekerjaan daripada terlibat dalam pekerjaan tersebut. Misal dengan membayar hansip untuk menjaga lingkungan tempat tinggal daripada menjalankan metode sisklamling bergilir. Tentu saja tidak ada yang salah dengan hal itu. Barangkali memang seperti itulah mekanisme yang lebih pas untuk kehidupan masyarakat Indonesia jaman now.

Tapi, tidak begitu dengan di Swedia. Volunteering di sini, adalah hal yang jamak. Kegiatan sekolah, dari mulai hal-hal teknis seperti memasang gantungan baju overall hingga mengelola pameran, sering melibatkan peran orang tua. Begitu juga dengan kegiatan kommun (semacam lingkungan kelurahan/kotamadya) yang dilaksanakan dengan partisipasi aktif dari masyarakatnya. Tentu saja tak ada paksaan. Mau ikut ayo. Tidak ikut ya boleh-boleh saja. Namanya juga sukarela. Continue reading “Bekerja Sukarela di Swedia”

Senandung Musim Gugur

Jauh sebelum saya mengunjungi negara empat musim, musim gugur sudah menjadi musim favorit saya. Meski lahir dan besar di negara dua musim yang hanya mengenal hujan dan kemarau, entah mengapa saya merasa terhubung dengan memori musim gugur yang saya baca di majalah-majalah, saya lihat di televisi atau saya bayangkan dari puisi-puisi. Mungkin karena karakter dasar saya yang (sok) romantis dan melankolis. Sehingga daun-daun jatuh saya anggap sebagai momen magis yang menghanyutkan.

Jangankan musim gugur di belahan bumi selatan atau utara, “musim gugur” di kampung halaman saya, yang ditandai dengan daun-daun pohon Akasia yang berguguran, atau pohon Jati yang meranggas, sudah cukup membuat saya duduk melamun lama menikmati setiap detilnya.

img_6857
Musim gugur di kampung halaman

Ah, saya ini memang sentimentil. Gemar berkubang dalam romantisme yang saya buat-buat sendiri.

Continue reading “Senandung Musim Gugur”