Cara Lain Merepresentasikan Indonesia

Hari Jumat kemarin (1/12), sekolah anak saya, Lund International School (LIS) mengadakan Winter Fair, acara sosial tahunan untuk menyambut musim dingin, di mana pihak sekolah dan keluarga saling berkumpul untuk mengenal satu sama lain sekaligus mengumpulkan dana untuk keperluan siswa (fundraising). Event ini juga merupakan momen untuk memamerkan karya-karya siswa, pasar murah, pertunjukan seni dan tak ketinggalan pojok internasional (international corner). Yang saya sebut terakhir merupakan kesempatan bagi semua orang untuk mengenal negara-negara asal siswa yang bersekolah di LIS sekaligus sebagai medium pembelajaran bagi para siswa sendiri.

Awalnya, saya tak berminat mendaftarkan diri untuk membuat Indonesian Corner karena beberapa alasan. Pertama, saya tak membawa banyak barang dari Indonesia untuk dipamerkan (saya bahkan tidak punya bendera Indonesia di sini :D). Kedua, saya tak bisa menari daerah atau memiliki baju daerah sehingga saya tak mungkin unjuk kebolehan di panggung (duh, bahasanya ๐Ÿ˜€ ). Ketiga, anak saya adalah satu-satunya orang Indonesia di sekolahnya sehingga praktis saya tidak punya rekan yang bisa diajak berkolaborasi untuk merepresentasikan Indonesia di acara Winter Fair tersebut. Membayangkan mengurus semuanya sendirian sudah membuat saya keder duluan. Saya pun berencana untuk membuat makanan Indonesia saja lalu menjualnya sebagai bagian dari usaha penggalangan dana. Continue reading “Cara Lain Merepresentasikan Indonesia”

Bekerja Sukarela di Swedia

Tak banyak orang (mungkin) yang mau bekerja sukarela (volunteering). Selain karena persoalan waktu, soal balasan/imbalan/upah/kontraprestasi juga sering menjadi pertimbangan tersendiri. Sebenarnya, bekerja sukarela sudah lama menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Hal ini tampak dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti kerja bakti, gotong royong, dan sebagainya. Namun, seiring dengan semakin sibuknya kehidupan modern, maka lebih mudah bagi masyarakat sekarang untuk membayar orang melakukan suatu pekerjaan daripada terlibat dalam pekerjaan tersebut. Misal dengan membayar hansip untuk menjaga lingkungan tempat tinggal daripada menjalankan metode sisklamling bergilir. Tentu saja tidak ada yang salah dengan hal itu. Barangkali memang seperti itulah mekanisme yang lebih pas untuk kehidupan masyarakat Indonesia jaman now.

Tapi, tidak begitu dengan di Swedia. Volunteering di sini, adalah hal yang jamak. Kegiatan sekolah, dari mulai hal-hal teknis seperti memasang gantungan baju overall hingga mengelola pameran, sering melibatkan peran orang tua. Begitu juga dengan kegiatan kommun (semacam lingkungan kelurahan/kotamadya) yang dilaksanakan dengan partisipasi aktif dari masyarakatnya. Tentu saja tak ada paksaan. Mau ikut ayo. Tidak ikut ya boleh-boleh saja. Namanya juga sukarela. Continue reading “Bekerja Sukarela di Swedia”

Senandung Musim Gugur

Jauh sebelum saya mengunjungi negara empat musim, musim gugur sudah menjadi musim favorit saya. Meski lahir dan besar di negara dua musim yang hanya mengenal hujan dan kemarau, entah mengapa saya merasa terhubung dengan memori musim gugur yang saya baca di majalah-majalah, saya lihat di televisi atau saya bayangkan dari puisi-puisi. Mungkin karena karakter dasar saya yang (sok) romantis dan melankolis. Sehingga daun-daun jatuh saya anggap sebagai momen magis yang menghanyutkan.

Jangankan musim gugur di belahan bumi selatan atau utara, โ€œmusim gugurโ€ di kampung halaman saya, yang ditandai dengan daun-daun pohon Akasia yang berguguran, atau pohon Jati yang meranggas, sudah cukup membuat saya duduk melamun lama menikmati setiap detilnya.

img_6857
Musim gugur di kampung halaman

Ah, saya ini memang sentimentil. Gemar berkubang dalam romantisme yang saya buat-buat sendiri.

Continue reading “Senandung Musim Gugur”

Daftar Wajib Kunjung Perth

Mengaku meninggalkan sebelah hatinya di kota paling terisolasi di dunia: Perth, saya baru sadar bahwa saya justru sangat jarang menulis apapun (kecuali ini) tentang Perth. Keinginan untuk menulis ini mendadak muncul setelah beberapa kawan meminta rekomendasi tempat-tempat menarik di Perth karena akan mengunjunginya dalam waktu dekat (dan membuat saya iri berat!). Jadi, keirian itu saya salurkan dengan membuat daftar ini saja. Jauh lebih sehat daripada nggrundel dan merutuk diri, kan? Siapa tahu dengan begitu, saya pun akan kembali mengunjungi Perth suatu hari nanti (kabulkan doa hamba ya Allah) ๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿค 

Oh ya, sekedar disclaimer, daftar ini saya buat berdasarkan pengalaman saya tinggal di sana pada 2011-2013, jadi mungkin beberapa data sudah kadaluarsa.ย Tapi tenang saja, beberapa info hasil bertanya pada mbah google sudah saya tambahkan. So, here is the list: Continue reading “Daftar Wajib Kunjung Perth”

“Are We There Yet?” Di Balik Perjalanan Seorang Traveler Mommy

dscf5367
Let’s travel around the world, my baby!

Sebagai seorangย traveler mommy, saya sudah mengajak anak saya traveling sejak ia masih di dalam kandungan. Mulai dari mengunjungi pernikahan ke Pekalongan, menjajal hidup sendiri di rimba raya Jakarta, hingga snorkeling di Karimun Jawa, semua pernah saya lakukan dalam rentang 9 bulan masa kehamilan. Saya beruntung, semua momen-momen itu berlalu dengan baik tanpa drama yang berarti. Meskipun, seperti yang sudah diingatkan ibu saya, akibat terlalu sering diajak jalan-jalan, anak saya terlahir sebagai anak yang susah diam, hobi jalan dan gampang bosan (haha!). Dan memang, pada akhirnya, ia berada dalam kondisi-kondisi yang mau tak mau membuatnya sering bepergian.

Traveling pertama saya dengan anak, saya lakukan ketika ia masih berusia 1,5 bulan. Itu kali pertama anak saya bepergian dengan pesawat. Waktu itu saya mules-mules membayangkan apakah anak saya akan baik-baik saja selama di perjalanan. Terutama di momen lepas landas dan pendaratan. Untungnya anak saya tertidurย pulasย selama penerbangan pendek Jogja-Jakarta tersebut. Segera setelah itu, kami bepergian lagi saat usianya 6 bulan (ke Perth). Lalu mengunjungi Sydney dan Adelaide saat dia belum genap satu tahun. Keliling negara bagian Australia saat dia berusia dua tahun. Berkemah di Dieng saat dia tiga tahun. Ke Kuala Lumpur, Singapura, Bandung, Bali dan lain-lain saat dia berusia 4-6 tahun. Pindahan ke Swedia saat berumur 6,5 tahun. Dan yang terbaru, melakukan perjalan ke beberapa negara diย Eropa dan Asia Tenggara saat dia berumur 7 tahun.ย Dalam perjalanan-perjalanan tersebut, ada momen serupa yang selalu muncul. Saya menyebutnya, momen “Are We There Yet?” Continue reading ““Are We There Yet?” Di Balik Perjalanan Seorang Traveler Mommy”