First Decade of Forever

Thursday (7/3) was me and Zaki’s 10th wedding anniversary. I can’t believe myself it’s been a decade.

Zaki and I met in 2006. We instantly connected and developed feeling for each other. It wasn’t long for us to decide that we want to be together, which is kinda weird because theoretically speaking, we’re two strong willed people who supposedly can’t get along well. Ha! We have irreconcilable differences that are quite contrast from each other. My easy going nature, for instance, will not match his Mr Planner personality.

But here we are. Together for almost 13 years. Married for 10 years (and counting!)

Anyway, I was bit uncertain about this year’s anniversary gift. I mean after several years, your idea of gift is likely to turn from romantic to functional 😀 . But, this is our first decade. I want something different. I want something personal. Something that will be saved in our memory bank for years. 

Then, there was a pop up ad on Facebook about LoveBookOnline.

Continue reading “First Decade of Forever”

Post-natal Reflection

Hari Minggu (17/2) kemarin, Baby K genap dua bulan. Di hari itu awalnya saya berniat menuliskan refleksi paska kelahiran. Sekalian memperingati ulang bulan. Cocoklah momennya, pikir saya. Tapi karena satu dan dua hal (baca: rutinitas ibu baru dan tanggungan pekerjaan yang mesti segera dirampungkan 😅), akhirnya saya baru sempat menuliskan refleksi hari ini, alias telat 3 hari dari rencana semula. Tak apalah, namanya juga manusia, hanya bisa merencanakan 😀

Sejak melahirkan Baby K tengah Desember lalu, saya menyadari beberapa hal terkait status saya sebagai ibu baru (lagi). Pertama, punya anak kedua dengan jarak cukup jauh ternyata membawa keuntungan dan tantangannya sendiri. Keuntungannya adalah, si anak sulung sudah lebih mandiri, lebih siap punya adik, dan bahkan bisa dimintai tolong ini-itu. Meskipun, tentu saja dia tetap anak-anak. Yang masih suka cari perhatian. Masih mengeluh kalau dikit-dikit adiknya. Atau minimal bertanya apakah dia boleh tidur di kamar utama dan bukan di kamarnya sendiri.

Continue reading “Post-natal Reflection”

Lund, Jogja dan segala sesuatu di antaranya

Pulang tahun ini bisa dibilang sedikit di luar rencana. Awalnya kami berniat pulang ke Indonesia di akhir tahun, sekalian mengungsi dari musim dingin Swedia yang ajaib. Juga menunggu tabungan agak ”mendingan” dulu setelah libur panjang musim panas tahun lalu 😅.

Tapi dua kabar baik di bulan Maret membuat kami menata ulang semua rencana perjalanan.

Pertama, adik ipar saya menerima lamaran dari calon suaminya waktu itu. Rencana pernikahan pun disusun dan waktu yang tepat bagi semuanya adalah di bulan Juli. Kedua, tes urin yang saya lakukan menunjukkan bahwa saya positif hamil dengan perkiraan lahir Desember 2018, sehingga tidak mungkin melakukan perjalanan di bulan-bulan itu. Dua hal ini, kemudian membuat kami memindahkan rencana pulang ke Indonesia ke bulan Juli.

Continue reading “Lund, Jogja dan segala sesuatu di antaranya”

Segenggam Daun So dan Sepetak Tanah di Belakang Rumah

40cdd708-cefc-4922-b190-038d5cee858aPohon Melinjo, yang bernama latin Gnetum gnemon, lebih lazim disebut dengan pohon So di kampung halaman saya. Saya tidak tahu persis dari mana sebutan itu berasal, tapi pohon So adalah salah satu tanaman yang mudah ditemui di halaman belakang rumah-rumah.

Mungkin karena pohon ini termasuk mudah tumbuh di tanah yang kering dan berkapur. Mungkin juga karena pohon ini memiliki banyak fungsi: daun dan kulit buahnya bisa disayur, sementara buahnya diolah menjadi emping.

Tanpa saya sadari, pohon So telah menjadi bagian penting dari memori saya atas kampung halaman. Salah satu hal yang paling saya ingat dari masa kecil saya adalah menyaksikan nenek saya memanen melinjo dari dua pohon besar yang ada di belakang rumahnya. Dan saya yang memunguti buah-buah melinjo, memisahnya sesuai warna: hijau, kuning, atau merah.

Continue reading “Segenggam Daun So dan Sepetak Tanah di Belakang Rumah”

Catatan Akhir (Kuliah) S2

Beberapa bulan terakhir, saya menerima pertanyaan dari beberapa rekan tentang bagaimana rasanya kuliah S2 bareng suami dan punya bayi. Lebih tepatnya, how did we do it? How did we survive? 😀

Saya tidak langsung merespons.

Sebagian karena saya sendiri sudah hampir lupa. Ngomong-ngomong, saya kuliah master tahun 2011-2012 jadi sudah lebih dari lima tahun yang lalu. Sebagian karena saya sendiri tidak tahu jawabannya. 😅

Really. At some points I don’t know THE answer.

Semuanya berjalan, berlalu dan terlewati begitu saja tanpa metode yang berarti.

Perlu diketahui sebelumnya, saya dan suami kuliah S2 di Edith Cowan University (ECU) Australia barat dengan beasiswa dari Australia Awards Scholarship (AAS) yang waktu itu masih bernama Australia Development Scholarship (ADS) angkatan 2009. Sewaktu mendaftar, saya baru saja menikah dengan Zaki, dan sedang dalam proses menunggu beberapa seleksi yang lain. Sebut saja Erasmus Mundus, Amsterdam Merit Scholarship dan beberapa yang lain.

Continue reading “Catatan Akhir (Kuliah) S2”

My Life as a PhD Student’s Wife

If you think life as a PhD student is so hard, you’re absolutely, 100%, unquestionably, RIGHT!

The truth is, it’s super hard it makes the life as his/her partner is NOT easy either! 😄

I’m writing this not to complain about my current situation. Among all, I’m sincerely happy and grateful for whatever happened in the last two years since the day my husband started his PhD journey in Lund University, Sweden.

But, I feel like this is another level of relationship I’ve been dwelling in, by far. So I think it’s a good idea to write it down for a self reflection and to shout out to all PhD student’s partners out there:

I feel you! 😉

Continue reading “My Life as a PhD Student’s Wife”

Sepatu

Wajah saya mendadak sumingrah saat kami melewati satu toko di Klostergatan. Sayapun berhenti sebentar. Menatap etalase di depan saya dengan mata berbinar. “Waaaahhhh, bagus banget sepatunya,” kata saya sambil menunjuk sepatu boots berbahan kulit dan berwarna dusty pink. Suami saya hanya tersenyum kecil lalu berujar: “Ada apa sih dengan kamu dan sepatu?”

Ya. “Ada apa dengan saya dan sepatu?”. Pertanyaan itu juga kerap saya ajukan ke diri saya sendiri. Di antara sekian banyak aksesoris yang diidentikkan dengan wanita, saya paling mudah tergoda oleh sepatu. Koleksi saya bukan sangat banyak. Karena bagaimanapun, obsesi seringkali dibatasai oleh keadaan dan kemampuan. Haha. Jadi seberapapun terobsesinya saya dengan sepatu, saya tak sampai harus punya lemari khusus. Meskipun, harus saya akui, saya pernah punya puluhan alas kaki di waktu yang bersamaan (dulu sebelum negara api menyerang 😀 ).

Continue reading “Sepatu”