When Ms Random meets Mr Planner

Saat-saat ketika merencanakan perjalanan adalah saat-saat di mana saya semakin menyadari betapa sesungguhnya saya dan suami adalah pribadi yang sangat bertolak belakang. Saya adalah manusia random. Happy go lucky person yang percaya bahwa semesta telah diatur sedemikian rupa. Cenderung mengalir saja tanpa perencanaan. Sementara suami adalah Mr Planner sejati. Sangat perhatian pada detail dan memiliki manajemen resiko yang terlalu tinggi. Hampir semua hal dalam hidupnya melalui perencanaan matang. Satu-satunya hal spontan yang pernah dia lakukan (yang masih dia ingat) adalah menjadikan saya sebagai pacarnya meski baru beberapa minggu kenal. Haha. Dan ini yang biasanya menjadi kartu AS saya untuk mengingatkan bahwa beberapa hal baik justru dimulai dari sebuah kesertamertaan (ahem!).

Tentu saja sebagai pasangan kami juga saling memengaruhi. Saya tak lagi anti rencana. Sementara dia mulai bisa menerima fakta bahwa tidak semua hal bisa ia kendalikan. Tapi tetap saja, yang namanya karakter dasar tidak bisa 100% diubah. Saya masih kerap ceroboh dan masa bodoh. Suami masih suka khawatir berlebih dan uring-uringan. Dan karakter dasar itu semakin menguat justru ketika kami dihadapkan pada satu hal yang sama-sama kami sukai: traveling! Continue reading “When Ms Random meets Mr Planner”

Lund, 17 Juli

Thank you for growing old with me

Cinta membawa kita menua bersama,

Sejak sebelas tahun yang lalu,

Sekarang,

Dan (semoga) untuk seterusnya

Cinta membawa kita melewati pergantian usia bersama,

Dalam hingar bingar masa muda,

Dalam sepi yang sempat diciptakan oleh jarak,

Dan dalam hening,

Serangkaian doa yang kupintakan untukmu secara rutin:

Agar mudah semua urusanmu,

Agar berkah umur barumu,

Agar cinta tak pernah lelah membawamu melangkah sejauh apapun,

Bersamaku.

————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

Thank you for bringing out the best in me

Dear daughter,

Since the day you were born,

I try to be the person you can rely on

Though I may not be perfect, I’m grateful you are growing up as a better version of me and your dad

Happy birthday, my sweetie pie

I’m wishing you thousands of bless, countless happiness and anything at its best.

Love,

Bunda Hayu

Circle Route: Epilog

Rasa-rasanya aku ingin menggantikan sopir yang melajukan bus dengan lambat. Bahkan sering sekali berhenti untuk mengangkut penumpang.

“Aduh Pak Sopir, aku mau deh membayar tiga kali lipat asal bus ini melaju dengan lebih cepat. Aku tak sabar ingin segera sampai di Kewuru,” batinku jengkel.

Sebenarnya aku capek bukan main. Tapi aku tak mau menunda-nunda. Makanya begitu aku menemukan buku dari Bagas, langsung kupesan tiket pesawat ke Jogja. Beruntung ini bukan akhir pekan, jadi tiket yang relatif murah masih banyak tersedia. Aku tak sempat mengabari siapa-siapa. Tidak Tim, atau Kaila, atau bahkan kakakku, Bara. Aku toh takkan berlama-lama di Kewuru. Hanya bertemu Bagas, lalu aku akan kembali ke Jakarta dalam dua atau tiga hari. Begitu rencanaku. Aku bahkan tak membawa banyak barang. Hanya baju ganti dan beberapa keperluan personal yang sempat kujejalkan di ranselku.

Setelah penerbangan hampir satu jam, sesampainya di bandara Jogja aku langsung mencegat bus yang mengantarku ke terminal antar kota untuk kemudian menaiki bus yang lain lagi, menuju Kewuru. Sama seperti ketika pertama kali aku datang ke desa itu. Rute yang cukup panjang. Jelas saja aku capek. Tapi harapan untuk segera bertemu Bagas mengurangi capekku. Berganti dengan rasa jengkel pada sopir bus yang menjalankan busnya seperti siput. Continue reading “Circle Route: Epilog”

Circle Route: Kemana cinta akan membawaku pergi, setelah ini?

Hari ini tepat dua minggu sejak kepulanganku dari Perth. Kepulangan yang membuatku sadar. Aku dan Banyu barangkali memang berjodoh. Tapi hanya sebagai teman. Setelah melalui lika-liku perjalanan yang melelahkan, harus kami akui bahwa kami tidak bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat. Mungkin kami pernah saling jatuh cinta. Tapi waktu telah mengubah semuanya. Termasuk perasaan kami. Meski demikian, sungguh aku tidak menyesal. Bagaimanapun, aku bersyukur bisa memperjelas ini semua. Sekarang aku yakin dengan perasaanku sendiri. Yakin bahwa jodohku bukan Jembar. Bukan Banyu. Meskipun aku belum tahu juga siapa.

Kadang aku berpikir, seandainya saja jodoh itu membawa spanduk, membawa papan nama bertuliskan namaku seperti orang-orang yang menjemput di bandara. Mungkin akan lebih mudah bagiku untuk menemukannya. Tapi sayangnya tidak. Aku dipaksa untuk pandai mengartikan setiap pertanda dan menebak-nebak, siapakah jodohku yang sebenarnya, dan kalau boleh jujur, hal itu sama sekali tidak mudah buatku. Nyatanya sudah dua kali aku salah tebak.

“Ah ya sudah, dijalani saja, mungkin waktuku memang belum tiba,” batinku pasrah. Continue reading “Circle Route: Kemana cinta akan membawaku pergi, setelah ini?”

Circle Route: Cerita Banyu (Bagian Lima)

 

17952709_10158641741145094_6826364875224157142_nKadang, yang dibutuhkan cinta adalah kesempatan

Aku baru saja menuruni tangga menuju pintu keluar bandara saat sebuah suara dengan aksen yang khas memanggil namaku.

“Banyu,” kata suara itu.

Aku menoleh. Ternyata Mikhaela. Dia tampak seperti baru pulang dari jalan-jalan. Sebuah tas ransel besar dia bawa tanpa kesusahan di punggungnya. Dia lalu berlari-lari ke arahku.

Hi, how are you? What are you doing here?” berondongnya.

“Aku baik, barusan nganter temen, dia mau pulang ke Indonesia,” jawabku.

Sudah lama aku tidak bertemu Mikhaela. Seingatku kami hanya bertemu sekali setelah aku bilang bahwa aku sedang tidak siap untuk berkomitmen. Setelah itu, aku tak mendengar kabar apapun darinya. Dia masih cantik seperti dulu. Sekalipun hanya memakai kaos singlet dan celana jeans belel seperti saat ini.

“Kamu sendiri apa kabar? Dari mana bawa-bawa ransel segedhe itu?” tanyaku heran.

I’m great. Aku baru pulang dari Cradle Mountain, Tasmania. It’s so awesome. You should go there,” katanya antusias. Continue reading “Circle Route: Cerita Banyu (Bagian Lima)”