Seorang Penulis yang Bertanya pada Dirinya Sendiri

Seorang penulis suatu hari bertanya pada dirinya sendiri.

Apa jadinya jika dunia kehabisan kosakata?

Akankah diksi menjadi sunyi?

Tak ada lagi awalan atau akhiran?

Tak perlu lagi imbuhan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tak kunjung ia temu jawabnya.

Tapi setengahnya ia tak lagi peduli.

Toh, kata sekarang makin kehilangan makna.

Tak lagi diperhatikan tanda bacanya.

Tak lagi dihiraukan ejaan dan aturan bakunya.

Seseorang bisa bilang ”kami” atau ”kita” tanpa peduli bedanya.

Barangkali penulis itu sedang mencari cerita dibalik bahasa

Atau,

Ia hanya seorang penulis yang tengah lelah merajut aksara.

 

Lund, 15 Desember 2017

Dilema Mengenalkan Multi Bahasa ke Anak

Saya tidak tahu apakah ini perasaan saya saja, atau rata-rata orang tua di luar sana juga merasakan hal yang sama. Tapi saya merasa, menjadi orang tua sering menempatkan kita pada situasi yang kompleks. Antara mau begini. Tapi juga begitu. Ingin yang ini. Tapi mau juga yang itu. Kita sebut saja perasaan kompleks itu sebagai dilema.

Dalam hal masa depan anak misalnya. Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Kita mendoakan, membimbing dan mengarahkan. Tapi sebagai orang tua juga, saya sadar, bahwa hidup anak saya sepenuhnya adalah hak dia. Kita tidak berhak memaksa dia menjalani apa yang kita mau atau memaksa mereka untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita yang belum/tidak terpenuhi. Makanya saya termasuk yang tidak terlalu suka mengajari anak saya banyak hal tanpa persetujuan darinya. Mungkin karena saya sendiri juga malas belajar, haha, sehingga saya tahu tidak enaknya diajari tanpa kita sendiri mau. Tidak terkecuali dalam hal belajar bahasa.

Continue reading “Dilema Mengenalkan Multi Bahasa ke Anak”

Lost in Translation (2): Bahasa Indonesia dan Bahasa Swedia

Dalam tulisan ini, saya pernah menyinggung bahwa Bahasa Indonesia dan Bahasa Swedia memiliki beberapa kata yang sama tulisan dan maknanya. Tidak terlalu mengherankan memang, mengingat bahasa Indonesia banyak menyerap kata-kata dari Bahasa Belanda dan Bahasa Portugis, yang tentu saja satu nenek moyang dengan Bahasa Swedia sebagai sesama Indo-European Languages. Bahasa Swedia sendiri merupakan cabang dari Bahasa Jerman (terutama Jerman Utara) yang memiliki setidaknya 10 juta penutur asli di Swedia dan Finlandia. Bahasa ini memiliki kemiripan dengan bahasa Denmark dan Norwegia. Sehingga banyak yang bilang bahwa penduduk dari ketiga negara tersebut bisa saling memahami meskipun berbicara dengan bahasa negara masing-masing.

Saya sendiri tengah berusaha mempelajari bahasa Swedia, baik melalui aplikasi maupun menyerap dari terpaan keseharian. Namun, dasarnya saya memang tidak fokus (haha!), bukannya bertambah kemampuan berbahasa Swedia saya, saya justru iseng membuat daftar kata-kata dalam Bahasa Swedia dan Indonesia yang memiliki kemiripan* dan memasukkannya dalam tiga kategori “relasi.” Berikut adalah hasil keseloan saya:

Continue reading “Lost in Translation (2): Bahasa Indonesia dan Bahasa Swedia”

Lost in Translation: Mencari Makna tanpa Kendala Bahasa

Setiap orang pasti pernah mengalami momen lost in translation. Jangankan ketika berada di negara asing dan dalam bahasa asing, di dalam negeri dengan bahasa yang sama pun terkadang kita masih saling mempertukarkan makna yang berbeda-beda. Secara tata bahasa, lost in translation diartikan sebagai proses hilangnya sebagian dan/atau keseluruhan makna akibat proses translasi. Kalimat yang bisa dicontohkan misal kalimat dalam bahasa Jawa ‘Alon-alon waton kelakon’ yang kerap diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “Slowly but Sure.” Terjemahan ini memang  dirasa benar, tapi tetap tidak bisa mewakili keseluruhan makna yang ada dalam kalimat sebelumnya. Ada makna yang kemudian hilang karena kata-kata seringkali merupakan representasi budaya, sehingga unik dan tidak bisa diterjemahkan mentah-mentah.

Contoh yang lain adalah kata dalam bahasa Swedia ‘Lagom’, yang sering diterjemahkan sebagai moderate atau cukup. Beberapa yang lain menerjemahkannya menjadi “not too much, not too little” (saya bayangkan kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia akan jadi “yang sedang-sedang saja” 😀 ). Namun, menurut pengakuan penutur lokal, tidak ada satupun dari terjemahan tersebut yang benar-benar bisa menggambarkan makna asli dari lagom karena dia terikat dengan budaya dan makna yang dibagikan secara kolektif di Swedia. Beberapa kata barangkali memang diciptakan untuk tidak bisa diterjemahkan, dan kalau dipaksa justru akan membuat maknanya melenceng kemana-mana. Begitulah yang disebut dengan lost in translation menurut para ahli. 🙂

Continue reading “Lost in Translation: Mencari Makna tanpa Kendala Bahasa”

Campur Aduk Bahasa Dalam Lirik Lagu Indonesia

Kecenderungan untuk memadukan atau mencampurkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Asing dalam lagu Indonesia, ternyata telah ada sejak jaman dahulu kala. Pagi ini, tanpa sengaja saya mendengarkan sebuah lagu yang diputar di stasiun televisi. Judulnya “Kopral Jono”, lagu khas perjuangan yang kerap saya dengar ketika tiba saat perayaan kemerdekaan di kampung saya dulu.

Baru pagi ini saya benar-benar mencermati lirik lagu tersebut, dan jidat saya langsung mengernyit ketika di bagian reff, saya mendengar lirik yang kurang lebih seperti ini: “ Wajahnya memang very good, seperti mas Robin Hood”. Aih, ternyata campur-campur dalam lirik lagu sudah dikenal dari dulu.

Barangkali itu menjelaskan mengapa lagu-lagu sekarang juga kerap mencampuradukkan bahasa. Dimulai dari Kuldesak ciptaan seniman (maaf) angkuh Ahmad Dhani, kemudian disusul dengan lagu-lagu yang lain dan terus saja menjamur hingga saat ini. Simak saja lirik lagu “Oh Baby” nya cinta Laura: “Katakan-katakan kau sungguh-sungguh, Hanya ada aku di dalam hatimu, Katakan-katakan kau cinta aku, Untuk selamanya kau jadi milikku, I don’t wanna loose you, yes I wanna hold you..”, atau “Klik”-nya Ussy : “Apa kau menantangku, Untuk menjadikanmu, Cita-cita hatiku, I will do it, I will do it..”. Pada lirik-lirik tersebut, jelas terlihat kombinasi antara kata-kata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Continue reading “Campur Aduk Bahasa Dalam Lirik Lagu Indonesia”

Bahasa (Juga) Kenal Usia

Saya punya seorang teman, panggil saja dia Ardi. Usianya terpaut cukup jauh dari saya, tapi kami lumayan sering berdiskusi dan berbagi cerita, dari obrolan berat soal politik hingga diskusi ringan mengenai keluarga.

Ardi belum lama pulang kembali ke Indonesia. Profesinya sebagai seorang dosen mengharuskan ia meninggalkan tanah air tercinta ini demi meraih gelar master–kemudian doktor–di Amerika. Praktis, selama 10 tahun, Ardi “hilang kontak” dengan Indonesia.

“Hilang kontak” tersebut tidak menjadi soal hingga dia bertemu dengan saya, yang merupakan produk “baru” negeri ini. Setiap kali kami berbincang, Ardi sering mengeluarkan kosakata jadul (jaman dulu) yang membuat saya tergelak, entah karena saya tidak tahu artinya, atau karena saya merasa kata tersebut sudah usang dan tidak lazim digunakan. Kata-kata usang tersebut antara lain mangsi (untuk menyebut pulpen tinta), atau mejeng untuk menyebut nampang. Masalah yang hampir sama muncul ketika saya mengeluarkan kosakata yang baru baginya, semisal lemot (lemah otak), TTM (teman tapi mesra) atau Tepe-Tepe (tebar pesona yang bisa juga diartikan sebagai nampang).

Persoalannya memang bukan di Ardi, tapi dari waktu yang hilang selama dia di Amerika, yang ternyata melahirkan begitu banyak kosakata baru.

Continue reading “Bahasa (Juga) Kenal Usia”

Bahasa Senja

Semakin mendekati senja, semakin kita sering bertengkar
Tapi seringkali, kemarahan itu lumer tanpa kata
Tanpa perlu banyak usaha
Kita hanya perlu menghela nafas sebentar
Lalu tersenyum dan bertukar pemikiran

Mungkin semakin kesana,
Cinta makin tak butuh terlalu banyak kata
Mungkin cinta, punya bahasanya sendiri
Bahasa yang tak terlalu rumit untuk dimengerti:
Bahasa senja..

(Djogjakarta, 23-24 November 2008)