Ketika sudah berkeluarga, keputusan untuk studi lanjut di luar negeri bukanlah perkara mudah, mengingat lebih banyak yang harus dipertimbangkan daripada saat masih berstatus lajang. Setidaknya itulah yang dirasakan beberapa orang yang belakangan menghubungi saya, terkait pengalaman saya membawa dan dibawa keluarga bersekolah di luar Indonesia.

Saya sendiri cenderung memilih opsi membawa serta keluarga saat studi lanjut. Mengapa? Karena menurut pengalaman kami yang belum seberapa, saya dan suami tidak terlalu ahli dalam hal LDR. Haha. Setelah pernah dipaksa berjauhan selama delapan bulan, kami sepakat untuk memilih dekat meskipun sering ribut daripada jarang marahan tapi jauh 😀

Tapi, tentu saja itu preferensi saya pribadi. Tidak bisa serta merta diterapkan ke individu atau keluarga yang lain. Yang jelas, seperti juga keputusan-keputusan yang lain, tetap ada yang perlu dipertimbangkan untuk membawa atau tidak membawa serta keluarga saat bersekolah di luar negeri. Berikut hal-hal yang menurut saya perlu ditengok ulang:

Pertimbangan finansial

Tung itang itung finansial ini menyangkut, tapi tidak terbatas pada: jenis dan besar beasiswa atau pembiayaan yang diperoleh, durasi studi, biaya hidup di negara tujuan, gaya hidup sehari-hari (makan, transport, leisure), dan safety net.

Jenis dan besar beasiswa beraneka ragam. Ada yang hanya mencakup biaya sekolah. Ada juga yang mencakup biaya hidup penerima, bahkan biaya hidup keluarga. Saat studi Master (2011-2012), saya dan suami menerima beasiswa yang sama yaitu Australia Awards (AAS) . Jenis beasiswa ini tidak mencakup biaya hidup keluarga di periode kami (dulu pernah tercakup dalam komponen beasiswa, tapi sejak 2005 dihilangkan), sementara kami waktu itu sudah punya satu anak. Biaya hidup di Perth sendiri cukup tinggi gara-gara booming pertambangan dan biaya penitipan anak tidak gratis. Tapi dengan kondisi kami yang sama-sama memperoleh beasiswa, kami mengambil pilihan itu. Plus, dengan sumber beasiswa dari pemerintah Australia, kami mendapatkan beberapa hak seperti potongan dan subsidi biaya childcare dari Centrelink dan imunisasi gratis untuk anak. Meskipun, untuk biaya kesehatan yang lain, kami harus mengeluarkan biaya asuransi sepanjang durasi tinggal yang lumayan, bahkan sejak sebelum berangkat.

Untuk saat ini, pembiayaan studi suami berasal dari kampus. Karena logika S3 di Swedia itu bekerja, maka dia digaji dan membayar pajak (sekitar 35%) seperti penduduk yang lain. Karena membayar pajak itulah, saya dan anak-anak (sebagai dependants) punya hak-hak yang sama dalam hal pendidikan dan akses kesehatan dengan penduduk Swedia. Artinya, biaya sekolah dan asuransi bisa dicoret dari daftar yang harus dipersiapkan.

Tapi, ini belum tentu berlaku untuk yang studi S2 dengan biaya dari pemerintah Indonesia atau pemerintah Swedia. Durasi studi juga berpengaruh ke hak-hak yang berlaku. Misal, di Swedia, setiap penduduk berhak mendapatkan personnummer, semacam NIK yang menjadi penentu banyak hal 😀 . Tapi, nomor ini hanya bisa diperoleh kalau durasi tinggal dan studi di Swedia minimal satu tahun.

Soal visa/ijin tinggal juga sedikit berbeda. Beasiswa AAS mengcover pengurusan visa, jadi waktu itu kami hanya perlu membayar untuk anak saja. Sementara untuk yang studi S3 ini kami membayar biaya pengurusan ijin tinggal untuk semuanya, dan memperbarui setiap tahun atau setiap dua tahun tergantung kontrak. Begitu juga dengan tiket pesawat ke negara tujuan. Karena S3 ini logikanya bekerja, biaya transportasi saat pertama datang tidak ditanggung oleh Lund University (tempat suami menjalani S3), melainkan harus ditanggung sendiri sesuai jumlah rombongan sirkus yang dibawa. Hehehe.

Biaya hidup di Swedia tidak bisa dibilang murah, tapi Lund sedikit lebih terjangkau daripada kota besar seperti Stockholm atau Gothenburg. Sekali makan siang di Lund, biayanya sekitar 90-100 kronor atau sekitar Rp. 150.000 (untuk menu lengkap ya, bukan jajan cemilan). Kalau jajan kayak kebab atau falafel masih bisa dapat harga setengahnya. Kelebihan lainnya, Lund itu kecil, jadi kemana-mana bisa bersepeda atau jalan kaki jika ingin menghemat biaya transportasi. Untuk makan, di manapun negara tempat studi, kalau menu makan tidak diubah (harus Asia apalagi harus Indonesia), pasti biayanya lebih mahal. Jadi, fleksibilitas perut untuk tidak harus makan nasi dengan lauk pauk gaya Asia setiap hari juga menentukan tingkat pengeluaran di negeri orang. Hehe. Masak sendiri juga jauh lebih murah daripada jajan terutama jika berbelanja ke warung atau pasar grosir.

Selanjutnya tentu saja soal safety net. Kalau memang beasiswa yang diperoleh terbatas, bisa dicek apakah tabungan atau sumber lain bisa menjadi cadangan. Semisal, adakah kemungkinan pasangan bekerja untuk memperoleh penghasilan tambahan? Baik jenis visa dan ijin tinggal di Australia dan Swedia memungkinkan hal ini. Tapi mencari pekerjaan bagi pasangan di Australia lebih mudah terutama di sektor informal.

Sebagai gambaran, berikut saya rangkum biaya-biaya untuk dua jenis pembiayaan yang pernah kami terima.

Jenis biayaAASDoctoral Position Internal Funding
Visa/Ijin TinggalAwardee ditanggung, keluarga tidakBaik awardee maupun keluarga tidak ditanggung
Tiket ke negara tujuanAwardee ditanggung, keluarga tidakBaik awardee maupun keluarga tidak ditanggung
Asuransi KesehatanAwardee ditanggung, keluarga tidak. Asuransi untuk keluarga dibayarkan sebelum berangkatDitanggung oleh Pemerintah Swedia begitu memperoleh personnummer jadi tidak perlu membayar di awal
Childcare/PreschoolTidak gratis tapi mendapat subsidi dari CentrelinkBesarnya ditentukan oleh jumlah pendapatan keluarga
SekolahKurang tahu karena waktu itu anak saya belum usia sekolahGratis selama bersekolah di kommun (kecamatan) yang sama dengan tempat keluarga yang bersangkutan tinggal/membayar pajak
Biaya hidupDibayarkan sebagai tunjangan setiap dua minggu sekaliDibayarkan sebagai gaji setiap bulan

Secara umum, baik di Australia mapun Swedia, jenis pengeluaran pokok yang perlu dikeluarkan mencakup: sewa tempat tinggal, biaya listrik, biaya pulsa HP dan internet, transport, makan dan minum, serta lain-lain (belanja buku, pakaian atau alat-alat rumah tangga).

Situasi pasangan

Selain soal uang, perlu juga diperhatikan bagaimana reaksi pasangan dengan niat pindah ke luar negeri secara bersama-sama. Apakah ini keputusan bersama atau sepihak? Bagaimana juga dengan pekerjaan pasangan? Apakah bisa cuti atau harus mengundurkan diri? Atau bagaimana dengan kehidupan sosialnya? Yang bersekolah jelas akan punya kesibukan baru. Tapi belum tentu dengan yang mendampingi.

Mengenai hal ini, ada beberapa opsi yang bisa dicoba. Beberapa cara yang saya lakukan untuk mencari teman selama di Swedia adalah dengan berteman dengan orang tua teman anak, bergabung dalam kegiatan sukarela, bekerja dan tentu saja berkenalan dengan sesama orang Indonesia di sini.

Kondisi anak-anak

Salah satu alasan yang biasanya dipakai ketika memutuskan membawa serta seluruh keluarga saat studi lanjut ke luar negeri adalah untuk memberikan pengalaman internasional ke anak. Memang, pengalaman merasakan kehidupan dan sistem pendidikan di luar bisa menjadi aset yang bagus buat anak. Tapi di luar itu, dengan membawa anak, ada hal-hal yang perlu dipersiapkan. Semisal, apakah anak akan bersekolah kalau memang sudah usia sekolah, apakah anak akan dititipkan ke daycare. Kalau memang iya, sebaiknya mendaftar dulu sejak sebelum berangkat terutama jika ingin menyekolahkan anak ke sekolah privat bukan publik, karena kuotanya terbatas.

Perlu dipertimbangkan juga soal perbedaan kultur serta bahasa. Apakah anak-anak nyaman dan familiar dengan bahasa Inggris? Kalau belum, apakah kita, sebagai orang tua, siap mendampingi anak-anak beradaptasi?

Sejauh pengalaman saya sih biasanya anak-anak cenderung lebih cepat adaptasinya daripada orang dewasa 😀 tapi bukan berarti kita bisa lepas tanggung jawab begitu saja.

Keluarga di kampung halaman

Selain yang berangkat, yang ditinggal juga perlu mendapat perhatian khusus menurut saya. Terutama soal menjaga relasi kakek-nenek dengan cucu-cucunya. Beruntung sekarang sudah lazim video call, sehingga kendala jarak menjadi tidak terlalu berarti untuk saling berkomunikasi atau sekadar bertanya kabar.

Paling yang sering menjadi kendala adalah perbedaan zona waktu. Sewaktu di Perth dulu, hal ini tidak terlalu menjadi masalah karena selisih waktunya hanya satu jam. Tapi dengan Swedia, selisih waktunya bisa tembus enam jam saat musim dingin, jadi kadang perlu pengaturan waktu khusus.

Daftar di atas adalah beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan sebelum memutuskan. Pada akhirnya, membawa atau tidak membawa keluarga saat bersekolah di luar negeri itu murni soal pilihan dan bukan soal benar-salah. Buat saya, yang penting adalah bertanggung jawab dan siap dengan konsekuensi atas pilihan manapun yang diambil. Karena berjauhan itu tidak nyaman, tapi bersekolah sambil dikelilingi anak-anak juga belum tentu lebih ringan.

Like any other things in life, it comes with pros and cons. The only question remains is: “Are you ready to choose?” 🙂

3 responses

  1. kalo kami, keputusan untuk pindah malah berasal dari kami berdua. yang agak berat malah keluarga yang ditinggal, apalagi yang ngga pengen jauh-jauh. cuma ya, gimana bisa memberi pengertian dan terus menjalin komunikasi.

    1. Hayu Hamemayu

      Hahaha, iya, kami pun begitu, keluarga besar yg agak berat, apalagi belum lama pulang dari Australia pas itu, tapi syukurlah bisa ngertiin 😊

  2. […] yang pasti terutama jika memilih untuk membawa keluarga turut serta (tentang hal ini bisa dibaca di sini). Soal besaran gaji, kalau diukur pakai rupiah ya banyak, tapi kalau untuk memenuhi biaya hidup di […]

Leave a reply to Zam Cancel reply

The author

Hayu Hamemayu is a word bender, whose work has appeared in The Conversation Indonesia, The Jakarta Post, Media Indonesia, Kompas, Majalah Kartini, Indonesia Travel Magazine, and The Newbie Guide to Sweden among others.