Berkenalan dengan Sistem S3 di Swedia

Banyak yang (masih) bertanya mengapa saya pindah ke Swedia tanpa status mahasiswa. Mengapa saya jauh-jauh ke belahan bumi utara tanpa beasiswa S3 di tangan. Banyak juga yang bertanya mengapa sesampainya di sini saya tidak serta merta sekolah saja. Toh, beasiswa bertebaran di luar sana. Ada LPDP, beasiswa Dikti, beasiswa Menkeu, Swedish Institute, Erasmus Mundus, dan masih banyak lagi. Sebenarnya, catatan tentang perjalanan batin saya ketika memutuskan untuk menyusul suami ke Swedia pernah saya tuangkan di sini. Tapi mungkin penjelasan tersebut masih belum cukup. Jadi sekarang, saya memutuskan untuk menulis tentang sistem S3 di Swedia sekaligus sedikit menjelaskan mengapa tidak semudah itu mendaftar program doktoral di negara ini.

Pertama, mendaftar kuliah S3 itu, di manapun, tidaklah segampang memperbarui foto profil di media sosial. Seorang teman pernah berseloroh bahwa jalan mendapatkan beasiswa S3 itu sangatlah panjang. Dibutuhkan setidaknya sepuluh proposal untuk menempuhnya. Dia juga menegaskan bahwa ditolak itu biasa. Seorang kawan yang lain baru diterima di usaha yang kedelapan. Sedangkan saya, sampai akhir tahun lalu, saya baru sampai di proposal ketiga dan kampus keempat. Jadi bisa dibilang, saya masih setengah jalan. Haha. Teriring doa semoga separuh jalan selanjutnya bisa saya lalui dengan lebih mudah. (Ketik “amin”, saudara-saudara! 😄 ).

Tentu saja ada mereka yang langsung diterima di usaha pertama. Kepada mereka saya ucapkan selamat dan bangga luar biasa. Tapi perlu diingat bahwa secara umum, mendaftar S3 itu memang tidak mudah. Dan bukankah rejeki Tuhan bekerja dengan caranya masing-masing? Setiap orang punya takdirnya sendiri-sendiri. Kalau ada yang diterima di percobaan pertama bukan berarti tidak boleh ada yang diterima di percobaan kesekian, kan?

Kedua, setiap negara memiliki sistem admisi yang berbeda. Ada yang logikanya mencari pembimbing (supervisor) terlebih dahulu, lalu mencari surat penerimaan atau Letter of Acceptance (LoA), baru kemudian mencari beasiswa. Ada juga yang beasiswanya satu paket dengan LoA sehingga hanya perlu mencari supervisor saja. Sementara di Swedia, tidak dikenal (atau setidaknya sangat jarang) aplikasi pribadi atau dengan dana dari luar universitas. Mahasiswa S3 (atau di sini dikenal dengan istilah Doktorand) direkrut dan dipekerjakan oleh kampus berdasarkan sistem lowongan. Tanggung jawab mereka adalah bekerja pada kampus dan menjalani program S3 secara berbarengan. Para doktorand tidak mendapatkan “beasiswa” dalam pengertian umum, melainkan mendapatkan gaji dari kampus. Oleh karena itu, admisi untuk program S3 diatur oleh masing-masing universitas bukan oleh lembaga pemberi beasiswa. Apabila universitas memiliki dana untuk membiayai doktorand, maka lowongan akan dipasang di website. Konsekuensinya, lowongan ini tidak memiliki jadwal yang teratur. Setiap program studi (sub-departemen) bisa membuka lowongan setahun sekali, atau bahkan tiga tahun sekali tergantung dana yang tersedia. Berikut saya lampirkan kutipan penjelasan dari beberapa profesor di kampus-kampus Swedia yang pernah saya hubungi:

The way the Swedish system works is that we cannot take on new PhD students unless we have the funding to do so (every PhD student who is admitted will get paid full time for doing the PhD thesis work for four years). This means that we can only admit a very small number of students, and the way it works is that when we have funding, we do announce the position on the university webpage.

Dan ini:

Doctoral positions in Sweden works along the lines of a job application and it is rare to have externally funded scholarship students. Sweden does not accept fee-paying students either.

Di website tiap universitas, lowongan doktorand ditempatkan bersama dengan lowongan akademik yang lain, seperti postdoctoral, peneliti atau dosen, dan bukan pada bagian prospective student, karena memang logika S3 di Swedia tidak sama dengan di Indonesia. S3 di sini adalah working bukan studying. Kandidat doktor adalah calon peneliti bukan mahasiswa, sehingga lowongannya pun diletakkan dalam kategori research bukan teaching (silahkan verifikasi kebenarannya di website Lund University dan Uppsala University). Lowongan doktorand juga bisa dicari melalui portal posisi akedemik seperti University Positions atau Academics.com. Secara tema, beberapa lowongan ada yang menginduk pada tema penelitian universitas, ada yang terbuka. Dengan kata lain, proposal bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing departemen atau dikembangkan sendiri sesuai preferensi kandidat. Sayangnya, dalam satu kali rekrutmen, pendaftarnya bisa ratusan sementara yang diambil hanya 1-2 kandidat sehingga kompetisinya sendiri sangatlah tinggi.

IMG_2114 (1)Ketiga, bahkan kalau saya nekad menggunakan beasiswa dari luar yang kemungkinan diperbolehkannya sangat kecil pun (untuk tidak menyebutnya mustahil), tiap beasiswa tetaplah punya ketentuan masing-masing. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) misalnya, mensyaratkan status tidak ber-NIDN bagi pelamar beasiswa yang berprofesi sebagai dosen. NIDN adalah Nomor Induk Dosen Nasional yang melekat pada individu yang sedang/pernah bekerja sebagai dosen di Indonesia dan telah memenuhi syarat kelayakan profesi dosen yang ditetapkan oleh negara. Dalam hal ini, meski tidak lagi menginduk pada universitas tertentu, saya tetap memiliki NIDN sehingga LPDP harus saya coret dari daftar peluang beasiswa saya. Lalu, Swedish Institute hanya memberikan beasiswa program Master. Sementara Erasmus Mundus , untuk program S3, hanya memiliki joint program. Artinya, saya harus terdaftar sebagai mahasiswa S3 di Indonesia terlebih dahulu untuk bisa mendaftar dan programnya sendiri ditempuh di dua tempat: di universitas asal dan di universitas Eropa yang bekerja sama.

Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa hanya ada satu faktor tunggal dalam kebelumberhasilan saya menempuh program doktoral (S3). Saya menuliskan ini sekedar untuk berbagi informasi. Juga untuk menjelaskan mengapa dalam banyak hal kita tidak berhak untuk menghakimi. Karena bagaimanapun, kita tidak pernah tahu cerita lengkap di balik keputusan seseorang. Kita tidak benar-benar mengerti apa yang telah atau sedang ia lalui. Kalau memang tidak punya hal baik untuk dikatakan, selalulah ingat, diam adalah emas kata pepatah 😊 .

Foto dipinjam dengan ijin dari mas @faridstevy. Nuwun, Mas! 😊

NB: informasi lebih lanjut tentang studi di Swedia, termasuk program doktoral, bisa dibaca di website Study in SwedenDoktorandhandboken, dan Top Universities.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s