-
Manusia Sekolah dan Manusia Pembelajar
Di dunia ini–menyepakati Ashadi Siregar–ada dua tipe/jenis manusia. Pertama, manusia sekolah. Kedua, manusia pembelajar. Manusia sekolah ibarat sebuah gentong. Dia diisi dengan air sedemikian rupa–oleh seseorang yang lazim disebut guru–hingga penuh. Kemudian ketika sudah penuh, dia akan diuji, untuk mengukur sejauh mana pemahamannya (serapannya) atas air tersebut. Logika dari manusia sekolah adalah ketika manusia tersebut… →
-
Negeri “REG”
Setiap negara, pasti punya julukan. Ada yang disebut negeri gajah putih, ada juga yang disebut negeri pagoda, atau ada juga yang mengklaim dirinya sebagai negeri seribu satu malam (atau itu hanya dongeng ya?). Penasbihan suatu negara sebagai negeri A, negeri B atau negeri-negeri yang lain pasti disertai alasan-alasan tertentu. Baik yang rasional (karena negara yang… →
-
Warung Nusantara, Warungnya Koes Plus Mania
Tempat-tempat makan berbasis komunitas banyak menjamur di Jogja. Mulai dari angkringan. lesehan hingga kedai kopi. Tapi tak banyak yang mengusung tema komunitas penggemar musik tertentu (grouppies). Warung Nusantara adalah satu dari yang sedikit itu. Terletak di Dongkelan, Kabupaten Bantul, warung ini mencoba menawarkan suasana khas Koes Plus untuk para pelanggannya. Tidak main-main, warung ini tak… →
-
Mall versus Pasar Tradisional: Berpikir Ulang tentang Kemerdekaan
Seorang bijak pernah berkata, “Jika Anda ingin mengetahui kebudayaan suatu daerah, datanglah ke pasar tradisional yang ada di daerah tersebut”. Pasar tradisional memang tak ubahnya seperti “aquarium”, tempat dimana kita bisa melihat budaya-budaya yang kita miliki. Tawar-menawar, basa-basi serta beragam sentuhan humanis yang lain. Sayangnya, keberadaan pasar tradisional makin lama makin terpinggirkan, sejalan dengan menjamurnya… →
-
Malam Ini, Kita Kembali Menikmati Gerimis
Malam ini kita kembali menikmati gerimis Sama seperti suatu malam sekitar dua tahun lalu Saat aku dan kamu masih tak tahu Apa yang kita rasa, hubungan apa yang akan kita punya Malam ketika gerimis turun di dekat Mirota Malam saat pertama kali kau menepuk pundakku dan bertanya: “Kamu tak apa-apa?” Malam ini kita kembali menikmati… →