The Hungry Cat

img_7205

Story and Illustration by Hayya Habibi

A mouse ate a cheese.

The mouse went outside.

A cat was hungry.

The cat saw the mouse.

The mouse was scared

The mouse ran away.

The cat chased the mouse.

The cat bumped into a chair.

The mouse was gone.

The mouse was safe.

The cat was angry.

The cat was hungry.

 

The End

 

The First Anniversary (of Living in Sweden)

Today marks one year since me and my daughter moved to Sweden. Yes, we arrived exactly on this date a year ago. So, happy first anniversary! Haha. I know it’s not really something to celebrate but we’re glad we had quite a wonderful first year (and are excited for the following ones).

I can hardly believe that it has been a year. I mean, the day when we arrived at Lund Central station still feels like yesterday. But I also notice that lately, things begin to change. I’m no longer feel like a new kid on the block. I’m not getting anxious or thinking that people are looking at me anymore. I start to feel that I really belong here, even if I still don’t speak Swedish (and certainly don’t look like a Swede. Haha).

Looking back on the past 365 days, here are the things that we have “accomplished” so far: Continue reading “The First Anniversary (of Living in Sweden)”

Cara Lain Merepresentasikan Indonesia

Hari Jumat kemarin (1/12), sekolah anak saya, Lund International School (LIS) mengadakan Winter Fair, acara sosial tahunan untuk menyambut musim dingin, di mana pihak sekolah dan keluarga saling berkumpul untuk mengenal satu sama lain sekaligus mengumpulkan dana untuk keperluan siswa (fundraising). Event ini juga merupakan momen untuk memamerkan karya-karya siswa, pasar murah, pertunjukan seni dan tak ketinggalan pojok internasional (international corner). Yang saya sebut terakhir merupakan kesempatan bagi semua orang untuk mengenal negara-negara asal siswa yang bersekolah di LIS sekaligus sebagai medium pembelajaran bagi para siswa sendiri.

Awalnya, saya tak berminat mendaftarkan diri untuk membuat Indonesian Corner karena beberapa alasan. Pertama, saya tak membawa banyak barang dari Indonesia untuk dipamerkan (saya bahkan tidak punya bendera Indonesia di sini :D). Kedua, saya tak bisa menari daerah atau memiliki baju daerah sehingga saya tak mungkin unjuk kebolehan di panggung (duh, bahasanya 😀 ). Ketiga, anak saya adalah satu-satunya orang Indonesia di sekolahnya sehingga praktis saya tidak punya rekan yang bisa diajak berkolaborasi untuk merepresentasikan Indonesia di acara Winter Fair tersebut. Membayangkan mengurus semuanya sendirian sudah membuat saya keder duluan. Saya pun berencana untuk membuat makanan Indonesia saja lalu menjualnya sebagai bagian dari usaha penggalangan dana. Continue reading “Cara Lain Merepresentasikan Indonesia”

Bekerja Sukarela di Swedia

Tak banyak orang (mungkin) yang mau bekerja sukarela (volunteering). Selain karena persoalan waktu, soal balasan/imbalan/upah/kontraprestasi juga sering menjadi pertimbangan tersendiri. Sebenarnya, bekerja sukarela sudah lama menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Hal ini tampak dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti kerja bakti, gotong royong, dan sebagainya. Namun, seiring dengan semakin sibuknya kehidupan modern, maka lebih mudah bagi masyarakat sekarang untuk membayar orang melakukan suatu pekerjaan daripada terlibat dalam pekerjaan tersebut. Misal dengan membayar hansip untuk menjaga lingkungan tempat tinggal daripada menjalankan metode sisklamling bergilir. Tentu saja tidak ada yang salah dengan hal itu. Barangkali memang seperti itulah mekanisme yang lebih pas untuk kehidupan masyarakat Indonesia jaman now.

Tapi, tidak begitu dengan di Swedia. Volunteering di sini, adalah hal yang jamak. Kegiatan sekolah, dari mulai hal-hal teknis seperti memasang gantungan baju overall hingga mengelola pameran, sering melibatkan peran orang tua. Begitu juga dengan kegiatan kommun (semacam lingkungan kelurahan/kotamadya) yang dilaksanakan dengan partisipasi aktif dari masyarakatnya. Tentu saja tak ada paksaan. Mau ikut ayo. Tidak ikut ya boleh-boleh saja. Namanya juga sukarela. Continue reading “Bekerja Sukarela di Swedia”

Better When I’m Writing

Zaki asked me the other day, what things I am still passionate about lately. I gave him three answers, and among those, the first and most definite one was writing. Later I realised that writing is actually the only thing I consistently do since I was still in the elementary school. Though I must admit, I never had any chance to work on it properly.

Part of it was because it seemed like being a writer was less prestigious than being a doctor, or a teacher, or an astronaut, or an architect, or any other profession in this world. And it was just so hard to keep your passion when everyone around you didn’t take it really seriously. In my case, I found it was hard for me not to be tempted with the idea of being “somebody”. And the general definition of “somebody” in Indonesia is anything but freelance, including writing. Most people will consider it as merely a hobby.

I got some people who supported my passion, in different ways, though. My dad used to take me to his school library so I spent most of my childhood drowning into books and that’s how book became one of my obsessions (there’s a story about it here). My mom gave me a diary so I had something to write on. And there was a teacher in my junior high school who once asked me to join a writing competition. I didn’t join the competition at the end (because I wasn’t sure what to write and bit lazy, to be honest) but he was one of the few people who made me feel that I can write. Somehow. Someday. Continue reading “Better When I’m Writing”