Cerita Preschool Baby K

Fase Regular Preschool

Untuk preschool yang reguler, orang tua harus mendaftarkan anaknya melalui website kommun (pemerintah kota) setempat terlebih dahulu, lalu memilih preschool yang diprioritaskan sesuai lokasi tempat tinggal (bisa lebih dari satu), memasukkan tanggal masuk preschool yang direncanakan, kemudian melaporkan penghasilan orang tua lalu menunggu “offer” dari pihak sekolah. Jadi memang untuk yang reguler ini tidak gratis, ada biayanya, tapi besarannya ditentukan oleh penghasilan orang tua dengan maksimal biaya 1478 kr/bulan untuk anak pertama berusia 1-2 tahun. Besaran prosentase biaya juga berbeda-beda di beda kommun. Untuk di Lund, hitungannya bisa dilihat di halaman ini.

Selain itu, durasi di sekolah juga tergantung profesi orang tua. Untuk orang tua yang bekerja atau kuliah full time, mereka berhak menitipkan anaknya dari pagi hingga sore. Tapi untuk mereka-mereka yang statusnya part time, maka hanya bisa 5 jam per harinya. Karena suami bekerja full time dan saya part time, maka kami juga hanya berhak menitipkan anak selama 5 jam setiap harinya (5 hari kerja). Kebijakan ini pun berbeda di tiap kommun. Di kota lain yang saya tahu, kalau status bekerjanya part time maka hanya berhak 15 jam dalam seminggu alias 3 hari saja.

Waktu tunggu “offer” sendiri bisa bermacam-macam tergantung ketersediaan tempat di sekolah yang dituju. Makanya, banyak orang tua mendaftarkan anaknya jauh-jauh hari bahkan berbulan-bulan sebelumnya. Seringkali juga, bukan preschool pilihan pertama yang pertama menawarkan “offer” jadi memang tergantung kuota di preschool yang dituju.

Begitu mendapatkan lalu menerima “offer” yang ditawarkan (orang tua boleh menolak kalau memang tidak cocok, misal karena bukan pilihan pertama) maka si anak boleh mulai sekolah sesuai tanggal yang sudah dipilih. Untuk prosesnya, seminggu pertama adalah masa orientasi lalu masa penyapihan baru kemudian sekolah rutin secara mandiri. Preschool di Swedia memang menggunakan pendekatan yang gentle dan gradual yang tetap disesuaikan dengan kondisi anak.

Misal untuk K, selama 4 hari pertama saya mendampingi dia berkenalan dengan guru-guru dan teman-temannya. Saya meng-encourage dia untuk bermain dengan teman-temannya tapi dengan tetap berada di dalam jangkauan. Kadang saya menunggu agak jauh untuk memberi dia ruang agar bisa menaruh kepercayaan ke orang baru. Di hari kelima, saya mulai meninggalkan dia sendiri di sekolah. Awalnya hanya untuk setengah jam, lalu satu jam, lalu makin hari makin lama hingga dia bisa pisah sepenuhnya tanpa drama 😀 . Tentu saja dia mencari saya selama saya pergi, bahkan tak jarang dia menangis, tapi laporan dari gurunya sangat baik. Bahkan menurut gurunya, justru baik kalau K sedikit sedih saat ditinggal daripada cuek sama sekali, yang terpenting adalah dia bisa mengatasi rasa sedih itu dan bisa tenang setelahnya. Pendidikan di Swedia memang menekankan pentingnya ekspresi emosi sejak dini. Tak heran cerita-cerita di buku anak Swedia sering bertema kematian atau hal-hal sedih lainnya yang jarang dibahas. Menurut budaya di sini, kesedihan bukan untuk dihindari tapi untuk diatasi.

Baik di open maupun regular preschool, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Swedia, meskipun para guru tetap bisa berbahasa Inggris. Jadi mau tak mau, saya pun mengasah lagi kemampuan bahasa Swedia saya yang pas-pasan 😀 . Di preschool sendiri, sebenarnya anak-anak hanya “pindah” bermain, makan dan tidur, karena memang pendidikan di Swedia itu relatif “santai”, yang mana buat saya dan suami lebih cocok karena kami juga tidak mau anak terbebani terlalu dini. Itu juga alasan kenapa kami mantap mengirim K ke pra sekolah di usianya yang belum genap 2 tahun. Selama beberapa hari terakhir sejak K sekolah, dia tetap happy, lebih rileks saat disapa orang di jalan, bahkan lebih teratur jadwal tidurnya. Itu yang penting buat saya dan suami sebagai orang tua, bukan “belajar” dalam pengertian rumit yang dipahami banyak orang dewasa.

Kami sendiri merasa bersyukur karena manajemen Covid-19 di Swedia tidak terlalu ekstrim, sehingga anak-anak masih bisa bersekolah dan live a normal life, meskipun dalam kondisi yang tentu saja tidak sepenuhnya sama. Saya melihat bagaimana keponakan-keponakan saya atau anak teman-teman saya yang terpaksa kehilangan rutinitas sekolah dan beradaptasi dengan rutin baru yang mungkin tidak 100% menyenangkan.

Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa negara lain, semisal Indonesia, harus mengikuti cara Swedia. Setiap negara, menurut saya, perlu merumuskan caranya sendiri, yang memang cocok dengan kebutuhan dan keadaan negaranya. Cara yang dipakai Swedia belum tentu berhasil jika diterapkan di negara lain karena banyak faktor yang mempengaruhinya.

Dalam skala yang lebih kecil, saya juga tidak sedang menghimbau orang tua lain untuk menyekolahkan anaknya sesegera mungkin. Bagi saya, itu adalah keputusan bersama di dalam keluarga sesuai kebutuhan dan keadaan di dalam keluarga itu sendiri. Terutama justru harus mempertimbangkan kesiapan anak. Karena seperti yang pernah saya tulis di sini, proses belajar adalah tanggung jawab bersama, setidaknya antara si anak yang belajar, sekolah dan juga orang tua.

Published by

Hayu Hamemayu

A dreamer who simply loves to write and capture memories..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s