Kid’s Stories Project: Paman Toto yang Pelupa dan Pesta Ulang Tahun Lala

As a freelance writer who is also a full time mother, I receive lots of requests (or pressures to be precise 😀 ) from my own kid, to write children’s stories for her. I personally think that writing stories for kiddos are way much harder than for adults. Kid’s stories require certain degree of imagination which I’m too old to have. Haha. So, instead of just writing stories for her, I asked my daughter to collaborate with me. To my surprise, she’s quite into it and she often comes up with good ideas.

Early this year, we worked together on a story entitled “Paman Toto yang Pelupa dan Pesta Ulang Tahun Lala” (The Forgetful Uncle Toto and Lala’s Birthday Party). It was all her idea and she even did the illustration for the stories. I was just helping with the narratives and story development. She was so excited about this and she asked me to send it to a kid’s magazine in Indonesia (which I did). However, until now, we haven’t received a single reply from the magazine telling us if the story would be published or not. I think that’s a common practice in Indonesia. Most publishers (or in this case magazine and newspaper) are too busy to reply email from writers regarding the status of their stories. Some say this is because of the enormous number of stories they receive on daily basis. Other say that they are just too lazy to reply, haha, or that replying email is not part of the office culture so they don’t take it too seriously. I don’t know which one is true but my kid is bit upset knowing that we haven’t received any news from the magazine.

I told her that there’s a huge chance our story won’t be published (for various reasons) and that it is a common part of being a writer. I also told her that being rejected doesn’t always mean that our story is so bad. Sometimes, it is just a matter of finding the right media/publisher. And even if our story was not good enough, we can always rework on it and try different media. Writing is a long process. We shouldn’t give up on the first attempt. She was just saying “okay” and I was bit heartbroken to see her sad so I told her that we can still post her story in my website, so at least, it can be read by the visitors.

So here it is, the kid’s story my daughter and I wrote months ago. This will be the beginning of my project with her. We decide to make collaborative works together and post them under the category Kid’s Stories in my website. Some of the stories will be in Bahasa Indonesia, some of them will be in English depending on the idea from my kid since she will be the mastermind behind this project 😀 . Do not expect regular update though as my kid is a moody thinker and I am even a moodier one. 😀

Anyway, enjoy!

“Paman Toto yang Pelupa dan Pesta Ulang Tahun Lala”

(Story by Hayya Habibi and Hayu Hamemayu. Illustration by Hayya Habibi)

Di pinggiran kota Jamur, tinggallah paman Toto yang pelupa dan sayur mayur yang ditanamnya. Paman Toto memiliki teman baik bernama Lala. Mereka sering bermain bersama.

Suatu pagi, Lala datang ke rumah Paman Toto. Dia memanggil-manggil nama Paman Toto: “Paman Toto, Paman Toto.” Tapi rupanya Paman Toto tidak mendengar karena sedang asyik merawat tanaman sayur kesayangannya.

Lala pun bertanya-tanya. “Di mana Paman Toto ya?” Dia mengelilingi rumah Paman Toto dan melihat Paman Toto sedang asyik bercakap-cakap dengan wortel, kubis, tomat dan cabai di kebun. Saking asyiknya, sampai-sampai Paman Toto tidak mendengar suara langkah kaki Lala yang berlari-lari kecil ke arahnya. Untungnya, tanaman Paman Toto melihatnya. “Lala!” teriak mereka bersama-sama. Paman Toto kaget dan menoleh. “Lala, sedang apa kamu di sini pagi-pagi begini?” tanya Paman Toto sambil memeluk Lala.

img_0905

“Aku mau memberi tahu Paman kalau besok akan ada pesta ulang tahun di rumahku. Paman harus datang,” kata Lala dengan gembira.”

 “Oh, pasti aku akan datang. Aku tidak akan melewatkan pesta ulang tahun teman baikku,” janji Paman Toto.

 “Mama akan membuat kue ulang tahun yang enak sekali. Paman pasti suka. Kalian semua juga diundang,” kata Lala pada tanaman sayur Paman Toto. Wortel, kubis, tomat dan cabai pun bersorak gembira: “Hore!” Paman Toto tersenyum lebar.

“Baiklah Paman, aku pulang dulu. Paman jangan lupa ya. Besok pesta ulang tahunku jam 8 pagi,” kata Lala sekali lagi.

Paman Toto mengangguk-angguk meyakinkan. Lala pun pulang dengan hati riang.

img_0906

Keesokan paginya, Paman Toto bangun pukul 7 pagi. Dia mendengar suara berisik di kebunnya. Rupa-rupanya tanaman sayurnya juga sudah bangun. Tapi karena hari ini hari Sabtu, Paman Toto ingin sedikit bermalas-malasan. Maka ia pun tidur lagi. Lupa bahwa hari ini ada pesta ulang tahun Lala.

Saat matahari sudah tinggi, Paman Toto terbangun. “Wah sudah siang,” ujarnya sambil menguap. Paman Toto lalu bergegas ke kebun untuk merawat tanaman sayurnya. Sesampainya di kebun, Paman Toto tidak melihat satupun tanaman sayurnya. Paman Toto mengernyit heran. “Di mana sayur-sayurku?” pikirnya. Paman Toto mencari ke sana ke mari. Tapi dia hanya menemukan selembar kertas. “Paman, kami pergi ke pesta ulang tahun Lala.” Begitu tulisan di kertas itu. Langsung Paman Toto tersadar. “Astaga! Aku lupa! Ini hari ulang tahun Lala. Paman Toto segera mandi dan bersiap-siap menuju rumah Lala. Dia menyetir mobilnya secepat mungkin. Tapi setibanya di persimpangan jalan, ada karnaval yang menghambat laju mobilnya. Paman Toto mulai khawatir. Dia sudah sangat terlambat ke pesta ulang tahun Lala.

“Aha, aku ingat, ada jalan lain ke rumah Lala lewat hutan. Aku pernah lewat jalan itu,” teriak Paman Toto tiba-tiba. Maka Paman Toto pun membelokkan mobilnya ke arah kiri. Melewati hutan yang dipenuhi tanaman bunga liar yang cantik. Paman Toto berencana memetik beberapa bunga untuk kado ulang tahun Lala.

img_0907

Paman Toto pun melajukan mobilnya dengan yakin. Dia sudah mengambil seikat bunga liar untuk Lala dari hutan yang dilewatinya. Tapi semakin lama, Paman Toto semakin lupa arah ke rumah Lala. Apakah dia harus belok ke kiri atau ke kanan. Paman Toto mulai tersesat.

Sementara itu, sejak pagi Lala menunggu Paman Toto dengan gelisah. Teman-temannya sudah berkumpul. Bahkan tanaman sayur Paman Toto pun sudah datang. Tapi Paman Toto belum juga kelihatan.

“Lala, kita mulai dulu saja ya pestanya, mungkin Paman Toto lupa,” kata Mama.

“Tapi aku mau Paman Toto melihatku memotong kue,” kata Lala sedih.

“Nanti kita sisakan saja kue buat Paman Toto,” hibur Mama.

Akhirnya, Lala mengangguk setuju. Pesta pun dimulai tanpa Paman Toto.

Di tengah hutan kota Jamur, paman Toto masih sibuk mencari jalan. Hari semakin sore. Dia berhenti untuk berpikir. Mengingat-ngingat jalan ke rumah Lala. Akhirnya dia ingat belokan mana yang harus dia lewati. Paman Toto melajukan mobilnya secepat mungkin.

img_0908Hari sudah malam saat Paman Toto tiba di rumah Lala. Pestanya sudah selesai. Semua orang sudah tertidur pulas. Paman Toto merasa sedih karena sudah mengecewakan Lala.

Paman Toto melangkah kembali ke mobilnya dengan lunglai. Lalu dia melihat satu kertas yang tergeletak di tangga rumah Lala. Ada tulisan Lala di situ.

“Paman Toto, besok akan ada pesta lagi di rumahku jam 8. Paman jangan lupa ya,” tulis Lala.

Paman Toto seketika merasa senang dan dia pulang ke rumah sambil terus mengingat-ngingat bahwa besok akan ada pesta lagi di rumah Lala. Paman Toto tidak ingin lupa lagi.

Pagi harinya, Paman Toto terbangun, bersiap-siap dan bergegas ke rumah Lala. Dia ingat hari ini ada pesta ulang tahun Lala lagi.

Sesampainya di rumah Lala, Paman Toto tidak melihat ada pesta ulang tahun. “Apakah aku terlambat?” pikir Paman Toto dengan bingung. Lala berlari menyambut Paman Toto sambil berkata: “Paman, mengapa Paman baru datang? Ini sudah jam 3, pestanya sudah selesai,” kata Lala.

Paman Toto kaget lalu melihat jamnya. Lala benar. Ternyata hari sudah sore. Rupa-rupanya dia tertidur lama sekali. Bangun di sore hari dan mengira hari masih pagi. Dia begitu terburu-buru sampai-sampai dia tidak memperhatikan jam di rumahnya, juga jam di tangannya. Paman Toto kembali merasa sedih.

“Tidak apa-apa, Paman, besok akan ada pesta lagi,” hibur Lala.

Paman Toto pun pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Paman menyiapkan segala sesuatunya. Paman Toto tidak ingin lupa lagi.

img_0909Pagi-pagi sekali Paman Toto sudah bangun. Dia bersiap ke rumah Lala untuk pesta ulang tahunnya. Paman Toto mengecek jam di rumahnya. Lalu jam tangannya. Dan mencocokkan dengan jam di mobil. Benar jam 07.00 pagi. Dia pun menuju rumah Lala dengan gembira. Tak lupa dia mampir ke hutan untuk mengambil lagi bunga-bunga liar kesukaan Lala sebagai kado.

Pukul 08.00 tepat Paman Toto sampai di rumah Lala. Pesta baru mau dimulai.

“Paman Toto,” sambut Lala dengan gembira.

Akhirnya Paman Toto tidak lupa kalau hari ini ada pesta ulang tahun. Pesta pun berlangsung meriah. Paman Toto menikmati kue yang enak sekali. Semua orang bergembira.

“Lala, kenapa kamu mengadakan pesta sampai tiga kali,” tanya Paman Toto begitu pesta selesai.

“Soalnya aku ingin Paman hadir di pestaku,” kata Lala.

“Aku mau memberi paman ini,” tambahnya.

Lala memberi Paman Toto sebuah kado. Isinya jam otomatis. Jam yang bisa berbicara sehingga bisa membangunkan dan mengingatkan Paman Toto.

“Dengan ini, Paman Toto tidak akan lupa lagi,” kata Lala.

Paman Toto merasa bahagia sekali.

“Oh, terima kasih banyak, Lala,” kata Paman Toto.

Dan mereka pun berpelukan bersama-sama.

img_0910

Tamat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s