• Iklan Yang Saya Suka

    Berhubung tidak ada satupun acara TV yang layak tonton menurut saya, maka saya jadi lebih suka memperhatikan dan menonton iklan. Mencoba menganalisisnya dari perspektif keindahan maupun melihat pesan yang hendak disampaikan. Berdasarkan pengamatan saya, ada juga iklan-iklan yang indah, baik secara isi (substansi) maupun tampilan (visual). Iklan yang tak hanya mementingkan satu kata yaitu: Jual!.

  • Duduk Perkara

    Pagi ini saya menonton infotainment. Sangat tidak biasa. Karena biasanya saya akan lebih memilih untuk mendengarkan musik atau menyibukkan diri di dapur. Niatnya memang menghibur diri. Meski tidak sampai mati (seperti yang dibilang Neil Postman). Tapi seperti yang sudah saya duga, saya sama sekali tidak terhibur. Saya justru amat sangat kecewa. Jadi begini ceritanya. Pagi

  • Di mana letak Jogjakarta?

    Sewaktu kecil, saya mempunyai masalah dengan peta. Saya susah membaca letak suatu tempat dan menentukan arah dimana tempat itu berada. Saya selalu ngeles bahwa ketidakmampuan saya itu karena bakat saya memang di IPA (meskipun pada akhirnya dengan kesadaran penuh saya banting setir ke IPS ketika SMA). Lalu ketika besar, saya memiliki penjelasan yang lebih ilmiah.

  • Kata Orang, Sinetron itu Soal Selera

    Setahun yang lalu, ketika saya tengah melakukan penelitian mengenai media literacy di sebuah desa di ujung tenggara Kota Wonosari, salah seorang informan saya menunjukkan ketertarikannya yang luar biasa atas sinetron Indosiar. Ya, sinetron yang menurut saya wagu dan teknik efek-nya tidak lebih bagus dari King Kong yang dibuat pada tahun 1930-an. Kepada saya, informan saya

  • Selamat Tinggal Media Informasi, Selamat Datang Media Narsis

    Mulanya, media diciptakan untuk menjawab kebutuhan manusia akan informasi. Memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk mengetahui pengalaman-pengalaman yang terjadi di luar dirinya (Kovach dan Rosentiel, 2003). Hal ini berangkat dari keinginaan manusia untuk tahu semua hal, untuk mengurangi tingkat ketidakpastian, tapi (tetap) memiliki keterbatasan untuk melakukan itu. Manusia tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di