*Dimuat di Majalah Kartini Edisi November 2018 – Januari 2019

Gambar dipinjam dari sini

Sejak kabar perceraian Tik, Klub LDR berubah. Kami berubah. Grup WhatsApp tak seramai biasanya. Hanya Rum yang sesekali masih mengirim pesan. Bu Kas kadang menanggapi, tapi lebih sering tidak. Sementara Tik seperti hilang ditelan bumi. Dia tak lagi datang di pertemuan klub LDR. Pertemuan demi pertemuan juga makin terasa janggal. Bahkan makin lama, makin sebentar waktu yang kami luangkan bersama.

Kata-kata Tik masih terngiang di telingaku. Bahwa Klub LDR ini hanya berpusar di hidupku. Bahwa aku hanya peduli pada diriku sendiri. Aku sudah minta maaf pada anggota Klub LDR yang lain kalau ternyata selama ini aku terkesan terlalu fokus pada LDRku saja. Sungguh aku tak berniat demikian. Tapi aku belum berhasil menghubungi Tik. Pesan-pesanku tak dibalas. Bahkan dibaca pun tidak.

Hubunganku dengan Yan sendiri tak membaik. Kami masih belum berkomunikasi lagi sejak dia menawarkan untuk break waktu itu. Tapi beberapa waktu lalu dia mengirimiku kartu pos dari Milan. “I really wish you were here,” tulisnya di kartu pos bergambar Duomo itu. Saat menerimanya, aku menatap kartu pos itu lama. Merasakan kejujuran dalam tulisan pendek Yan. Jujur aku pun merindukan Yan. Bagaimanapun aku masih menyayanginya. Tapi dengan kondisi Klub LDR akhir-akhir ini, juga kegagalan Tik, aku merasa belum siap memulai lagi dengan Yan.

Bas, akhirnya, jadi lebih sering menemaniku. Mengalihkan perhatianku dari masalah di Klub LDR maupun masalahku sendiri. Aku dan Bas tidak berpacaran. Aku tak tahu hubungan apa yang kami punya. Aku bahkan tak yakin perasaan apa yang kumiliki untuknya, atau yang dia miliki untukku. Tapi kami memang dekat dan sering meluangkan waktu bersama. Rasanya menyenangkan memiliki seseorang yang peduli padamu. Yang selalu ada untukmu dan bisa diraih. Tidak jauh seperti Yan.

Minggu kedua Agustus, aku sedang duduk mengobrol dengan Bas di Simply Coffee seperti biasa. Hari ini seharusnya adalah jadwal pertemuan rutin klub LDR. Tapi setelah konflik dengan Tik waktu itu, sudah berminggu-minggu klub LDR vakum. Aku sendiri sejujurnya masih berharap mereka akan datang hari ini. Setidaknya Rum mungkin. Minimal dia bisa membuatku terhibur.

Saat sedang duduk menunggu itulah aku menyadari kedatangan seseorang.

“Yan?” seruku tertahan.

Aku tak mempercayai pemandangan di depanku. Yan tengah berdiri di sana, memegang buket bunga Daisy biru seperti yang sering dia lakukan dulu. Senyumnya mengembang.

“Simply Coffee, minggu kedua, pertemuan Klub LDR,” kata Yan seolah menjawab pertanyaan di mataku.

Bas mengikuti arah mataku. Yan seketika menyadari keberadaan Bas dan ada yang meredup dalam senyumnya. Sementara aku masih bengong tak tahu harus bereaksi seperti apa. Bas tersenyum mafhum lalu pamit memberiku waktu berdua saja dengan Yan.

“Jadi dia yang membuatmu menjauh akhir-akhir ini? Diakah pacarmu sekarang?” tanya Yan begitu Bas pergi.

“Kenapa kamu di sini, Yan?” aku tak menjawab pertanyaan Yan.

Yan menegakkan duduknya.

“Kupikir ini yang kamu inginkan? Aku di sini? Kita?” kata Yan sambil mengulurkan buket bunga yang dia bawa padaku.

Aku tak langsung menerimanya. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan. Kenapa Yan ada di sini? Bukankah dia seharusnya berada di Milan untuk sekolah musim panasnya? Bukankah dia bilang dia tak bisa pulang? Bagaimana perasaan Bas melihat ini semua? Bagaimana dengan perasaanku sendiri? Beragam tanya berkecamuk di benakku.

Yan menyadari kebingungan di wajahku. Lalu dia pun mengatakan bahwa dia begitu merindukanku sehingga ketika kuliah musim panasnya selesai di Milan, dia langsung memesan penerbangan ke Indonesia.

“Aku mengajukan cuti dua minggu. Seperti yang kamu bilang, aku berhak cuti kalau aku mau. Maaf Nes, seharusnya sudah kulakukan ini dari kemarin-kemarin,” jelasnya sambil tersenyum.

Tapi aku belum bisa membalas senyumnya. Yan meraih tanganku lembut.

“Nes, kamu pasti sudah tahu alasan kenapa aku pulang. Dan aku setuju usulan break kemarin itu sangat konyol. Aku minta maaf untuk itu. Tapi sekarang, setelah aku di sini, will you take me back?” jawab Yan.

Ada hangat yang terasa nyaman dalam genggaman tangan Yan.

“Tapi kamu cuma di sini untuk dua minggu, Yan. Setelah itu lalu apa? Kita akan terjebak drama yang sama lagi,” jawabku gusar.

Yan mendesah.

“Setidaknya beri kita kesempatan sekali lagi, Nes,” ujarnya.

“Atau kamu sekarang lebih memilih laki-laki itu?” tambah Yan sambil mengerling ke arah Bas di belakang kasir.

“Jangan melibatkannya, Yan. Dia bukan siapa-siapaku. Tapi minimal dia selalu ada untukku. Minimal dia ADA di sini,” aku beralasan.

“Nes, please, jangan memutarbalikkan fakta. Kamu yang sejak awal enggak mau ikut aku ke Stockholm. Kamu yang bilang kita akan baik-baik saja,” tegas Yan.

Aku terdiam.

 “Do you even love him?” tanya Yan lagi.

Love? What do you know about love?” aku tertawa sinis.

“Mungkin enggak banyak. Only what you don’t!” jawab Yan sambil tersenyum tipis.

Dan dengan begitu Yan pergi. Hatiku mencelos tapi aku tak berusaha menahannya. Aku tenggelam dalam kebingunganku sendiri. Apa yang sebenarnya kuinginkan? Yan ada di sini. Seharusnya itu menjelaskan semuanya. Seharusnya aku bahagia. Dan meski enggan mengakuinya, aku bahagia bisa melihatnya lagi. Tapi sekarang? Bagaimana dengan Bas? Apa yang sebenarnya dia harapkan dariku?

Rum datang tak lama setelah Yan pergi.

“Okay, yang barusan keluar itu Yan kan?” tanya Rum bahkan sebelum dia duduk.

Aku mengangguk. Aku kaget melihat kedatangan Rum sebenarnya. Tapi kedatangan Yan jauh lebih mengagetkanku.

“Buket bunga itu dari Yan berarti?” tanya Rum lagi.

Aku kembali mengangguk.

“Aaaakkkkk, so sweet. Jadi dia akhirnya datang dan membawakan bunga kesukaanmu. Kalian balikan kalau gitu?” cerocos Rum padaku.

Aku menatap Bas dari kejauhan. Mencoba mencari jawaban di sana. Bas tampak sedang sibuk melayani salah satu pelanggan. Rum mengikuti arah pandanganku dan menyadari kebimbanganku.

“Ahhh, I see,” gumamnya lalu duduk di sampingku.

What should I do, Rum?” tanyaku sedih.

“Aku enggak tahu, Nes. Tapi kalau aku jadi kamu, aku akan menuruti kata hatiku,” jawab Rum.

Hati? Apa aku bisa mempercayai hatiku sendiri? Kalau aku memilih Bas, apa aku akan memiliki yang kumiliki dengan Yan? Kalau aku memilih Yan, bagaimana kalau akhirnya jarak mengalahkan kami? Bagaimana kalau akhirnya dia memilih yang lain, seperti suaminya Tik? Ann misalnya.

Aku benar-benar tak bisa memutuskan.

Aku belum bertemu Yan lagi sejak pertemuan hari Minggu kemarin. Yan sempat menelponku dan mengajak bertemu. Tapi aku ingin merasa lebih yakin sebelum menemuinya. Dan Senin pertama sejak kepulangan Yan itu, aku sedang berjalan menuju kantin di belakang kantor saat sebuah tangan menepuk bahuku. Refleks aku menoleh.

“Bu Kas?” sapaku tak percaya.

Yang kusapa hanya tersenyum.

“Bisa ngobrol sebentar, Tik?” katanya kemudian.

Aku mengangguk.

Kami lalu berjalan bersama. Terus terang aku merasa sedikit canggung dengan pertemuan ini. Tak biasanya bu Kas menemuiku di luar pertemuan Klub LDR. Di kantor apalagi. Pasti ada hal penting yang membuatnya melakukan ini.

“Mbak Im di mana, bu?” tanyaku berbasa-basi.

“Mbak Im pulang kampung. Suaminya sakit lagi,” jawab bu Kas.

Kami lalu duduk di salah satu bangku di kantin. Aku menatap bu Kas penuh tanya. Bu Kas menyadari rasa penasaranku.

“Nes, aku sengaja menemuimu di sini karena ingin bicara padamu sebagai teman, bukan hanya sebagai anggota Klub LDR,” jelasnya.

“Aku tahu kamu selalu membandingkan dirimu dengan Tik. Aku setuju kalian berdua memang mirip. Tapi hidup Tik adalah hidupnya, Nes, bukan hidupmu. Kamu tak perlu khawatir bahwa apa yang terjadi pada Tik akan terjadi padamu juga,” kata bu Kas padaku.

“Dan yang paling penting, apapun yang terjadi pada Tik, bukanlah salahmu. Bukan salah Klub LDR. Bukan salah siapa-siapa,” tegas bu Kas.

Aku hanya bisa menunduk.

Bu Kas lalu bercerita bahwa dia dan suaminya juga pernah berada di ambang perceraian. Dia juga bilang bahwa mbak Im-lah yang menyelamatkan pernikahan mereka. Saat mendengar itu, kepalaku mendongak. Mbak Im yang menyelamatkan pernikahan bu Kas? Apa pula maksudnya ini?

“Kamu tahu Nes? Salah satu hal yang membuat LDR terasa lebih ringan adalah keyakinan bahwa semua itu hanya sementara. Bahwa cepat atau lambat kita akan bersama lagi. Tapi segera setelah semuanya menjadi permanen, kita meragu, LDR jadi berkali-kali lebih berat.”

“Waktu itu aku hampir menyerah. Dan tak ada yang menghalangiku sebenarnya. Keluargaku tak akan keberatan. Aku tak punya anak untuk dijadikan pertimbangan,” bu Kas bercerita panjang lebar.

Aku diam mendengarkan. Bu Kas melanjutkan bahwa setelah dua tahun, Bu Kas merasa jenuh dengan jarak yang ada. Dia bosan dengan rutinitas begitu-begitu saja yang dimilikinya bersama suami. Hubungan yang ada tiba-tiba terasa hambar. Mereka bahkan tidak bertengkar. Bu Kas hanya tak lagi mau diajak video call. Jumlah panggilan tiap minggu juga makin berkurang. Lalu suatu hari, Bu Kas melihat Mbak Im sedang duduk menulis surat di kamarnya.

“Ngapain kamu, Im?” tanya bu Kas waktu itu.

Mbak Im kaget dan langsung berusaha menyembunyikan kertas di hadapannya.

“Hayo apa itu? Jangan bilang kamu mau pamit lho ya,” kata Bu Kas.

“Enggak kok Bu, ini cuma, itu, surat, buat bapaknya anak-anak,” jawab Mbak Im akhirnya.

Surat? Jaman semaju ini masih kirim surat? batin Bu Kas.

“Kenapa kirim surat segala, Im? Kan tinggal nelpon atau sms?” Bu Kas beralasan.

Saat itulah mbak Im bercerita bahwa dulu ketika suaminya yang bekerja, mereka rajin berkirim surat. Surat menyurat adalah kebiasaan mereka sejak masih pacaran dulu. Kebiasaan sepele ini, menurut mbak Im, membantu menjaga cinta mereka agar tetap menyala di masa-masa tua. Mbak Im juga bercerita bahwa dia punya banyak kebiasaan bersama yang lain. Seperti segelas teh manis kental di pagi hari dan sepiring singkong bakar yang selalu disiapkan suaminya setiap dia pulang. Atau pergi ke salah satu sungai di desa mereka, berdua saja tanpa anak-anak.

“Biar engak bosan saja kok, Bu,” pungkas Mbak Im.

Dari situ Bu Kas menyadari bahwa hubungan memang harus dijaga. Tidak cukup hanya dijalani begitu saja. Cinta tetap harus dipupuk dan diperjuangkan. Kita juga harus fokus pada tujuan. Pada apa yang kita cari dari hubungan itu.  

“Saat itulah aku memutuskan untuk gantian mengunjungi suamiku. Bukan dia yang pulang,” cerita Bu Kas.

Bu Kas juga mulai mengirimi suaminya foto-foto kegiatan dan memintanya melakukan hal yang sama. Dengan begitu, mereka bisa saling merasakan dan memahami pengalaman keseharian masing-masing. Bu Kas menambahkan bahwa LDR mungkin memang bukan untuk semua orang.

Tapi dalam relasi pasangan, kadang masalahnya bukan di jarak. Jarak hanya menjadi penguat fondasi yang sudah lemah dari awal. Hubungan itu sinergi, and there’s no such thing as one sollution fits all. Setiap pasangan harus merumuskan resep mereka sendiri.

 “Aku dengar dari Rum kalau Yan pulang. Dan bahwa kamu bimbang antara Yan atau Bas. Aku bisa memahami kebimbanganmu. Dan kamulah yang sebenarnya paling tahu mana yang lebih baik buatmu. Tapi kalau memang mengakhiri hubunganmu dengan Yan adalah keputusan final, pastikan dulu bahwa itu bukan karena ketakutan yang kamu ciptakan sendiri. Bukan juga karena LDR.”

Aku menelan ludah.

“Satu lagi, Klub LDR ini bukan dibuat untuk menjamin bahwa LDR para anggotanya pasti berhasil. Klub LDR ini hanyalah tempat kita berkumpul dan saling berbagi cerita. Persahabatan yang kita jalin hampir setahun ini pastinya lebih berarti daripada sekedar formalitas organisasi. Jadi jangan merasa terbebani,” tegas bu Kas.

Begitu bu Kas pergi, aku merenung lama. Mengingat-ngingat lagi apa yang kupunya bersama Yan. Mencari tahu apa yang kurasakan pada Bas. Cintakah? Atau hanya kenyamanan sesaat? Aku memutuskan untuk menemui Bas sepulang kantor nanti.

Bas tersenyum menyambutku saat aku melangkah masuk Simply Coffee. Ada yang bercahaya di matanya. Seolah-olah dia sudah menunggu lama untuk melihatku lagi.

 “Apa benar kamu menyukaiku, Bas?” tanyaku langsung begitu sampai di hadapannya.

Bas tampak kaget tapi dia hanya tersenyum lalu bilang:

“Di dunia ini ada dua jenis orang. Mereka yang langsung suka padamu. Dan mereka yang pelan tapi pasti akhirnya akan menyukaimu juga. I’m no exception.”

Bas menggenggam tanganku. Saat itu aku sadar. Ada yang berbeda dari genggaman tangan  Bas dan Yan. Tak ada getaran yang mendebarkan di sana. Tak ada hangat yang menenangkan. Maka kali ini, akupun menarik tanganku pelan.

(Bersambung)

Leave a comment

The author

Hayu Hamemayu is a word bender, whose work has appeared in The Conversation Indonesia, The Jakarta Post, Media Indonesia, Kompas, Majalah Kartini, Indonesia Travel Magazine, and The Newbie Guide to Sweden among others.