Klub LDR (Bagian 2)*

Bulan demi bulan berlalu tanpa halangan yang berarti selain soal panggilan tengah malam dan pagi yang berantakan. Selebihnya, hubunganku dan Yan bisa dibilang baik-baik saja. Bahkan, tahu-tahu, ini sudah Mei. Yang artinya, dua bulan lagi Yan akan pulang. Dua bulan lagi aku bisa memeluk kekasihku itu. Kalender di kamarku sudah kulingkari besar-besar dengan spidol warna merah. Aku benar-benar tak sabar ingin segera bertemu Yan. Tidak di kantor, tidak di pertemuan Klub LDR, aku terus-terusan digoda karena cengar-cengir kegirangan menunggu Juli tiba.

Hingga satu malam, saat kami sedang melakukan panggilan telepon seperti biasa, nada bicara Yan tiba-tiba berubah.

“Nes, aku mau ngomong sesuatu,” kata Yan pelan.

“Ya, ngomong aja. Kan dari tadi kita juga sudah ngomong,” kataku bercanda.

“Ehm, sorry ya Nes, aku enggak jadi pulang Juli nanti. Libur musim panas ini ada summer school di Milan dan supervisorku bilang, sebaiknya aku ikut. Maaf ya, sayang. Kayaknya aku baru bisa pulang pas libur musim dingin nanti,” jelas Yan. Nada bicaranya terdengar hati-hati, seolah takut menyakitiku.

Aku tak langsung merespons. Lututku mendadak lemas. Rasanya seperti kamu sedang lari maraton dan sudah melihat garis finis tapi kemudian sesuatu menghalangi langkahmu dan mendorongmu mundur jauh ke belakang.

Enggak jadi pulang? Musim dingin nanti? Delapan bulan lagi? Hanya kata-kata itu yang diputar terus-terusan di otakku.

“Nes … kamu baik-baik saja, kan?” tanya Yan khawatir.

Aku ingin berteriak tentu saja aku tidak baik-baik saja. Apa Yan tidak tahu seberapa kangen aku padanya. Apa dia tak kangen padaku? Tapi aku hanya diam saja. Terlalu sedih dan putus asa untuk bicara.

Sorry banget, Nes,” tambah Yan.

Tak ada satupun dari kami yang bicara untuk beberapa saat. Hanya helaan nafas berat kami yang tumpang tindih satu sama lain. Ada banyak hal yang kupikirkan saat itu. Aku merasa punya hak untuk marah. Tapi adilkah ini semua buat Yan? Semua ini toh bukan keputusannya sepihak. Bukan salahnya kalau supervisornya memintanya ikut kelas musim panas dan bukannya pulang ke Indonesia. Bukan salahnya kalau studi doktoral ini begitu menyita waktu. Mungkin aku hanya perlu bersabar. Sedikit lagi.

“Tapi janji, Desember nanti kamu pasti pulang?” kataku akhirnya setelah berhasil menenangkan diri.

Yan menghela nafas lega mendengar suaraku lagi.

“Iya, aku janji. Makasih ya, Nes. I love you! So so much,” jawab Yan.

Saat itu aku tersenyum. Setidaknya delapan bulan lagi, aku bisa bertemu Yan.

I love you too,” balasku.

What? Enggak jadi pulang? Tega ih,” teriak Rum saat aku menceritakan telepon Yan malam sebelumnya di pertemuan Klub LDR.

“Tapi kamu enggak apa-apa kan, Nes?” tanya Bu Kas memastikan.

“Saya baik-baik saja, Bu. Sedih sih, tapi saya paham kondisi Yan. Lagipula dia janji akan pulang Desember nanti,” jawabku.

Bu Kas memberikan senyum seolah bangga padaku.

“Kamu sendiri gimana, Rum? Pacarmu jadi datang?” tanyaku pada Rum, mengalihkan fokus klub dariku. Rum memang sempat menyebut beberapa waktu lalu bahwa pacarnya akan pulang sebentar lagi.

“Jadi dong, jangan iri yak, hihi,” kata Rum iseng.

Aku hanya mencibir sementara Tik mendorong bahu Rum sebal. Tik dan Rum memang bisa dibilang tak pernah akur karena sifat mereka yang bertolak-belakang. Tapi aku tahu sebenarnya mereka peduli satu sama lain. Tik terutama. Dia sering tampak khawatir pada sikap Rum yang terlalu cuek.

Bu Kas dan Mbak Im pamit pulang duluan tak lama setelah itu. Mereka harus berbelanja sesuatu untuk menyambut suami Bu Kas yang juga akan pulang akhir bulan ini. Tinggal aku, Tik dan Rum saja yang masih bertahan di Simply Coffee. Tapi Rum tampak asyik dengan dunianya sendiri. Maklum, dia sedang asyik bertukar pesan instan dengan pacarnya.

“Kamu bener baik-baik saja?” tanya Tik tiba-tiba.

“Maksudmu? Tentu saja aku baik-baik saja,” jawabku sambil tertawa.

Well, you can lie to Bu Kas, not to me,” kata Tik penuh selidik.

Aku mendengus. Setengah sebal karena merasa Tik sedang menginterogasiku. Tapi entah mengapa aku merasa Tik ada benarnya.

“Aku … aku berusaha untuk baik-baik saja,” kataku akhirnya.

Dan dengan kalimat itu tiba-tiba ada beban yang seperti terangkat dari pundakku. Mungkinkah Tik benar? Mungkinkah aku cuma berpura-pura bahwa aku baik-baik saja?

“Menurutku penting buatmu untuk jujur sama dirimu sendiri, Nes. Terutama justru pada dirimu sendiri, dan pasanganmu,” saran Tik.

“Kalau memang kamu keberatan dengan fakta bahwa Yan menunda kepulangannya, sampaikan itu padanya. Bukan untuk mengubah keputusannya, tapi untuk membuatnya tahu apa yang benar-benar kamu rasakan. Trust me, it IS very important,” tambah Tik panjang lebar.

Aku seperti disentak kesadaran baru. Selama ini, entah mengapa aku selalu merasa bertanggung jawab sepenuhnya atas kegagalan-kegagalan LDRku di masa lalu. Dan jauh di dalam hati, aku takut akan mengalami kegagalan itu lagi dengan Yan. Sehingga sekarang, secara tak sadar aku selalu menekan semua kekhawatiranku. Membohongi perasaanku sendiri dan berkompromi sepenuhnya. Aku hanya tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Terlalu menuntut ini-itu pada pasangan LDRku.

“Dan ngomong-ngomong, kamu harus hati-hati dengan Bas. He’s really into you. Selama kita ngobrol tadi setidaknya dia sudah melirik ke arahmu empat kali,” kata Tik sambil tersenyum geli.

“Jangan ngaco ah, Tik,” kataku. Tapi aku tak bisa mengendalikan rona merah yang mendadak muncul di wajahku.

“Kalian ngomongin apa sih?” tanya Rum yang langsung nimbrung begitu saja. Rupanya dia sudah selesai dengan pesan-pesan cintanya yang aku yakin pasti penuh emoji hati.

Nothing important. Yuk ah kita pulang,” kataku segera.

Kalimat Tik tentang Bas barusan membuatku sedikit tak nyaman untuk berlama-lama di Simply Coffee. Benarkah Bas memperhatikanku? Benarkah Bas menyukaiku? Aku berusaha menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan itu dari pikiranku dengan bergegas menuju pintu keluar.

Bye, Bas,” kali ini Rum yang menyapa si barista, sementara aku tak berani melihat ke arahnya. Kalau memang benar yang dibilang Tik, aku harus hati-hati pada Bas.

Published by

Hayu Hamemayu

A dreamer who simply loves to write and capture memories..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s