Klub LDR (Bagian 2)*

*Dimuat di Majalah Kartini Edisi November 2018 – Januari 2019

“Trtttt…trrrr…trtttt” ponselku bergetar di atas meja.

Aku tersentak bangun dari tidurku dan meraba-raba meja untuk meraihnya.

“Halo? Nes?” suara Yan terdengar dari seberang.

“Whoammmm, ya?” jawabku dengan suara serak.

Mata sepatku melirik ke arah jam di dinding. Pukul 12.20 dini hari. Aku dan Yan memang punya janji telepon malam ini. Dan karena Yan baru pulang dari kampusnya pukul 18.00 waktu Swedia, yang berarti tengah malam di sini, akupun jatuh ketiduran saat menunggu telponnya.

“Ngantuk ya, sayang?” tanya Yan klise.

Aku cemberut meski Yan tak bisa melihatku. Tentu saja aku ngantuk. Ini sudah lewat tengah malam.

“Enggak kok,” kataku berbohong.

Lalu kamipun tenggelam dalam obrolan tentang aktivitas kami seharian ini.

Sejak Yan berangkat ke Stockholm tiga bulan lalu, hampir setiap hari kami bertukar kabar lewat telepon, video call, atau minimal saling mengirimi pesan. Berkat teknologi, jarak memang jadi “terasa” lebih dekat. Dibandingkan LDR-LDRku sebelumnya, LDR kali ini bisa dibilang lebih tertata. Tapi tetap saja, perbedaan waktu membuat kami berdua kewalahan. Aku jadi sering bangun lebih siang karena harus melakukan panggilan rutin ke Yan tengah malamnya. Pagiku juga jadi selalu buru-buru. Tak bisa lagi kunikmati kopi pagiku dengan santai dan berangkat kerja tanpa kuatir ketinggalan kereta.

Tapi aku tak bisa menyalahkan siapapun. Kondisi ini berat bagiku maupun Yan. Dan dengan beban Yan yang kuliah sambil bekerja di kampus karena sistem S3 di Swedia menuntutnya begitu, aku tak punya hati untuk merajuk. Kami sudah pernah mencoba mengganti jadwal telepon kami ke pagi hari waktu Swedia. Tapi susah bagiku untuk menerima telepon saat jeda makan siang. Belum rapat kantor yang bisa molor sewaktu-waktu. Jadwalku sendiri tak selalu jelas waktu istirahatnya. Akhirnya kami kembali ke pengaturan awal. Telepon di malam hari. Panggilan video di akhir pekan. Pesan di waktu-waktu yang tidak perlu ditentukan.

Selain mengobrol dengan teman-teman di kantor, hiburanku di masa LDR ini adalah bertemu dengan para anggota Klub LDR. Lima orang yang tadinya asing tersebut kini telah menjadi sahabat-sahabat baikku. Yang selalu bisa menghiburku dengan caranya masing-masing. Misal pernah suatu kali aku datang ke pertemuan kami dengan tampang awut-awutan karena kurang tidur. Bu Kas langsung memesankan kopi favoritku tanpa kuminta. Dan Tik langsung menepuk-nepuk punggungku sambil bilang: “Be strong, girl! Kami semua ngerasain yang kamu rasain,”

Thanks! Kita pasti bisa,” kataku sambil mengepalkan tangan.

“Lagipula, siapa sih yang belum pernah LDR? Ki Hajar Dewantara saja pernah,” tambahku sok bijaksana.

“Oh ya?” tanya Rum polos.

“Makanya baca Rum, jangan stalking instagram artis doang,” timpal Tik ketus membuat Rum manyun.

Selain mereka, aku juga jadi berteman dengan Bas, si barista yang kusapa di hari pertama pertemuan Klub LDR. Kunjungan rutinku ke Simply Coffee membuat kami jadi sering bertemu. Dan karena seringnya aku yang datang paling awal, aku jadi terbiasa mengobrol dengan Bas lebih dulu. Bas juga kadang nimbrung sebentar kalau kafe sedang sepi. Sekedar basa-basi atau bertanya soal kelanjutan LDR kami masing-masing. Dia tak ubahnya anggota tambahan tidak tetap Klub LDR. Rum yang paling sumringah setiap kali Bas mendekati sudut tempat kami duduk. Senyumnya merekah dan matanya berbinar seperti remaja bertemu artis idola. Wajar sih, Bas memang ganteng.

Published by

Hayu Hamemayu

A dreamer who simply loves to write and capture memories..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s