Klub LDR (Bagian 1)*

Kali pertama aku menjalani LDR adalah dengan cinta monyetku semasa kelas tiga SMP. Kami melanjutkan sekolah di tempat yang berbeda. Aku tetap di kotaku, sementara sang pacar waktu itu melanjutkan SMA di luar kota. Bertahankah kami? Tentu tidak. Baru dua bulan terpisah jarak, kami memutuskan untuk menyudahinya saja. Sebagian karena kami belum dewasa. Sebagian karena godaan kakak kelas unyu-unyu di sekolah kami yang baru.

Kedua, kelas dua SMA. Setelah berpacaran satu tahun dengan kakak kelas unyu yang ternyata menyukaiku juga, kami terpaksa menjalani LDR karena mendadak dia harus ikut ayahnya, yang bekerja di kantor kedutaan, pindah ke Melbourne, Australia. Hubungan itu bertahan hingga satu tahun kemudian. Tidak ada kata perpisahan resmi. Hanya pesan singkat yang berkurang dan email yang semakin jarang. Sudah. Begitu saja.

Kali ketiga, awal kuliah. Berkenalan dengan seseorang dari pulau seberang yang datang ke kampus untuk pertukaran mahasiswa selama satu semester. Otak berontak, tapi hati terlanjur jatuh cinta. Akhirnya nekad dijalani juga. Selisih waktu satu jam tidak menjadi penghalang. Telepon interlokal menjadi andalan. Lalu datang sosok yang lain. Yang lebih dekat. Yang lebih bisa diraih. Yang selalu ada dan memberi perhatian tak kurang banyaknya. Maka, hatipun beralih arah. 

Keempat, saat hampir lulus kuliah. Sang pacar, yang waktu itu sudah lulus duluan, mendapatkan pekerjaan di kota lain. Seperti terkena karma, kali ini hatinya yang pindah ke tempat lain. Sementara aku merana-rana. Bermuram durja. Merutuki nasib burukku sambil berharap segera menemukan pelabuhan selanjutnya. Seseorang yang kuharap menjadi pelabuhan terakhir.

Dan sekarang, di usiaku yang sudah 27 tahun, sudah bekerja dan tengah menjalin hubungan serius dengan seseorang, lagi-lagi aku dipaksa menjalani hubungan jarak jauh. Dan ini berarti LDRku yang kelima, sekaligus LDRku yang paling jauh. 

Tidak main-main, kali ini kami tak hanya terpisah kota, provinsi atau pulau. Kami terpisah benua. Dan bukan hanya Melbourne yang hanya sekitar 6,5 jam penerbangan dari Bali. Tapi Stockholm, Swedia, yang harus ditempuh selama setidaknya 15 jam. Terpisah selisih waktu 6 jam dan jarak yang terbentang tak kurang dari 10.000 kilometer, selama setidaknya empat tahun.

Aku sungguh tak menyangka akan kembali terjebak dalam drama LDR yang sama. Ketika Yan, pacarku, mengatakan bahwa dia mendapatkan beasiswa S3 di Stockholm University dan akan berangkat tiga bulan lagi, aku tak sanggup berkata-kata. Another LDR to conquer. Duh rasanya aku tak siap. Tidak dengan keadaanku yang sekarang.

Sebenarnya sudah lama aku tahu bahwa Yan mendaftar S3. Tapi aku tak mengira Yan akan memperoleh beasiswa itu. Bukannya aku meragukan kemampuan Yan, tapi Yan mendaftar lowongan itu awal tahun lalu. Dan setelah berbulan-bulan tak ada kabar, kukira dia tak lolos seleksi karena kompetisi lowongan S3 di Swedia memang ketat. Kampus yang dia tuju bahkan sudah bertahun-tahun tak menerima mahasiswa S3 karena tak menemukan kandidat yang cocok. Jadi fakta bahwa Yan adalah satu-satunya kandidat yang terpilih sangatlah membanggakan. And I’m happy for him, really. Tapi kenyataan bahwa aku akan kembali menjalani LDR setelah setahun yang adem ayem dengan Yan membuat nyaliku ciut juga.

So?” tanya Yan waktu itu.

So gimana? Ya sudah, dijalanin aja,” jawabku berusaha santai, padahal dalam hati khawatir setengah mati. Aku hanya tak mau membuat Yan ikut khawatir. Aku tahu seberapa berarti beasiswa ini untuknya.

“Hmmm, yakin? Apa tidak sebaiknya kita nikah dulu aja? Biar kamu bisa ikut? Biar enggak perlu jauh-jauhan, dan kita bisa sekalian honeymoon di Eropa, gimana?” tawar Yan.

Whattt? Nikah? Duh enggak deh, kita kan belum kepikiran soal nikah, lagipula aku enggak mau ninggalin karirku. Aku kan masih terikat kontrak, remember?”

“Tapi sayang, bukannya kamu pernah bilang, kamu trauma dengan LDR?” mata Yan menyiratkan kekhawatiran.

Ketika itu, aku hanya bisa terdiam. Yan benar, aku pernah mengatakan hal itu padanya. Dan jujur, aku memang trauma mengingat kegagalan-kegagalan LDRku sebelumnya. Tapi pilihan apa yang kupunya sekarang coba? Ikut dengan Yan itu mustahil. Seluruh hidupku ada di sini. Aku sedang merintis karir yang dari dulu kuidam-idamkan. Tak bisa begitu saja aku meninggalkannya. Pernikahan juga belum ada di daftarku setidaknya hingga dua tahun lagi. Tapi aku juga enggak mau putus dengan Yan gara-gara LDR sialan ini. Yan terlalu berharga untukku.

Melihatku diam saja, Yan merangkulkan lengannya di pundakku.

“Kamu tahu kan, aku enggak akan memaksa kamu ikut kalau kamu enggak mau,” bisiknya.

Aku hanya menghela nafas panjang.

I know,” balasku kemudian.

Yan memang tak pernah memaksakan kehendaknya padaku. Yan membebaskanku memilih apapun yang kumau. Yan mengerti aku sepenuhnya. Itulah sekian dari banyak alasan kenapa aku jatuh hati padanya.

We’ll get through this. Together,” tambah Yan.

Aku hanya bisa menyandarkan kepalaku di bahu Yan.

Pages: 1 2 3

2 responses to “Klub LDR (Bagian 1)*”

  1. Sebagai mantan praktisi LDR, siap menunggu kelanjutannya…. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: