Post-natal Reflection

Hari Minggu (17/2) kemarin, Baby K genap dua bulan. Di hari itu awalnya saya berniat menuliskan refleksi paska kelahiran. Sekalian memperingati ulang bulan. Cocoklah momennya, pikir saya. Tapi karena satu dan dua hal (baca: rutinitas ibu baru dan tanggungan pekerjaan yang mesti segera dirampungkan 😅), akhirnya saya baru sempat menuliskan refleksi hari ini, alias telat 3 hari dari rencana semula. Tak apalah, namanya juga manusia, hanya bisa merencanakan 😀

Sejak melahirkan Baby K tengah Desember lalu, saya menyadari beberapa hal terkait status saya sebagai ibu baru (lagi). Pertama, punya anak kedua dengan jarak cukup jauh ternyata membawa keuntungan dan tantangannya sendiri. Keuntungannya adalah, si anak sulung sudah lebih mandiri, lebih siap punya adik, dan bahkan bisa dimintai tolong ini-itu. Meskipun, tentu saja dia tetap anak-anak. Yang masih suka cari perhatian. Masih mengeluh kalau dikit-dikit adiknya. Atau minimal bertanya apakah dia boleh tidur di kamar utama dan bukan di kamarnya sendiri.

Saya sendiri berusaha semaksimal mungkin membagi perhatian dengan sama rata sama rasa (halah).

Ternyata itu berat, Dilan!

Dan di sinilah tantangannya. Dengan bayi baru lahir yang belum bisa ngapa-ngapain sendiri dan sangat bergantung pada saya, juga dengan “asumsi” bahwa si kakak pasti sudah lebih bisa, saya masih sering terlalu fokus pada Baby K. Masih suka lupa bahwa si Kakak juga masih anak-anak yang butuh perhatian saya juga. Kakaknya sih tidak protes. Tapi saya yang sering didera perasaan bersalah. Dan ini membawa saya ke refleksi kedua.

Ternyata, punya anak kedua itu tidak kemudian menjadikan kita ahli soal anak. Haha. Apalagi dengan jarak cukup jauh begini. Memiliki anak kedua, tidak selalu berarti kita jadi lebih tidak khawatir atau jadi lebih santai. Dalam kasus saya, kecemasan dan kekhawatiran saya hanya berulang dan bahkan sering berlipat ganda. Misal soal keluhan bayi baru lahir seperti gumoh, atau bercak di kulit karena pengaruh hormon Ibu. Saya tetap saja googling dan cari info sana-sini, sama saja seperti yang saya lakukan delapan setengah tahun sebelumnya. Kalaupun saya tahu dan yakin bahwa kondisi itu tidak membahayakan dan si Kakak juga pernah mengalaminya, tetap saja ada rasa khawatir yang menyesaki dada 😀

Apalagi saat si Kakak kurang enak badan, cemasnya jadi dobel-dobel. Saya khawatir soal si Kakak plus khawatir si Adek  ketularan. Duh rasanya kayak nonton film thriller: tegang dan pengen cepet selesai!

Ketiga, saya merasa menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup. Iya, saya baru jadi orang tua hampir sembilan tahun. Baru seujung kuku dari istilah seumur hidup. Tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan kedua orang tua saya, misalnya. Tapi dalam sembilan tahun itu saja, saya merasa belum berhenti meramu cara yang pas untuk mendidik dan membesarkan anak-anak saya. Saya masih mempelajari. Mencoba berbagai metode. Memastikan mereka tumbuh dengan baik.

Dan sekarang, dengan fakta bahwa setiap anak itu unik dan berbeda-beda, saya tahu saya tidak bisa menggunakan rumus yang sama untuk Baby K, seperti yang saya gunakan untuk kakaknya. Meskipun, mereka berdua sudah menunjukkan tanda-tanda kemiripan, misal, sama-sama menolak empeng dan susu formula atau sama-sama doyan melek malam 😀 .

Apapun itu, saya tak ingin kenangan si sulung tentang adeknya adalah soal tugas dan kewajiban. Bahwa perannya hanyalah merawat dan menjaga si adek sementara dia sendiri diabaikan. Saya ingin si sulung tetap punya hidupnya sendiri. Begitu pun dengan adeknya. Saya tak ingin dia tumbuh dalam bayang-bayang kakaknya. Saya tak ingin terjebak dalam pemikiran “Kakaknya dulu enggak begitu” atau “Kakaknya dulu begini”. Karena sama seperti kakaknya, dia juga berhak atas hidupnya sendiri.

Dengan begitu, saya berharap (dan berdoa tentu saja!), hingga kelak mereka dewasa, they will love each other, stand shoulder to shoulder, for there is no friend like a sister in calm or stormy weather..

img_4087
Daughters!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s