Catatan Akhir (Kuliah) S2

Beberapa bulan terakhir, saya menerima pertanyaan dari beberapa rekan tentang bagaimana rasanya kuliah S2 bareng suami dan punya bayi. Lebih tepatnya, how did we do it? How did we survive? 😀

Saya tidak langsung merespons.

Sebagian karena saya sendiri sudah hampir lupa. Ngomong-ngomong, saya kuliah master tahun 2011-2012 jadi sudah lebih dari lima tahun yang lalu. Sebagian karena saya sendiri tidak tahu jawabannya. 😅

Really. At some points I don’t know THE answer.

Semuanya berjalan, berlalu dan terlewati begitu saja tanpa metode yang berarti.

Perlu diketahui sebelumnya, saya dan suami kuliah S2 di Edith Cowan University (ECU) Australia barat dengan beasiswa dari Australia Awards Scholarship (AAS) yang waktu itu masih bernama Australia Development Scholarship (ADS) angkatan 2009. Sewaktu mendaftar, saya baru saja menikah dengan Zaki, dan sedang dalam proses menunggu beberapa seleksi yang lain. Sebut saja Erasmus Mundus, Amsterdam Merit Scholarship dan beberapa yang lain.

Kemudian saya mengetahui bahwa saya hamil. Jujur saja saya panik. Bagaimana kalau hanya salah satu dari kami yang lolos seperti yang sudah-sudah? Bagaimana kalau kehamilan ini mempengaruhi seleksi? Bagaimana saya bisa mengurus anak di negeri orang sambil kuliah? Dan serentetan kekhawatiran yang lain. Saya bahkan berusaha menyembunyikan kehamilan (yang memang lebih tampak seperti orang cacingan waktu itu 😀 ) dan status hubungan saya dengan Zaki saat Tes Wawancara AAS. Yang tentu saja tidak berguna karena semua dokumen ada di tangan mereka 😅 . Bahkan ketika giliran Zaki diwawancara, salah satu pewawancara saat itu, Pak Ikrar Nusa Bhakti, langsung menebak: “Kamu memilih ECU karena biar bareng istrimu, kan?” 😀

Terlepas dari semua kekhawatiran yang kami miliki, kami berdua lolos seleksi dan dinyatakan diterima. Saya pun memutuskan mengambil AAS meskipun di waktu yang bersamaan saya juga menerima Amsterdam Merit Scholarship dari University of Amasterdam (UvA). Pertimbangan saya, AAS lebih cocok untuk situasi saya yang sudah berkeluarga karena mencakup semua komponen biaya termasuk biaya hidup, biaya riset, dan lain-lain, serta memungkinkan anggota keluarga untuk ikut sebagai dependant.

Saya dan Zakipun memasuki fase selanjutnya yaitu menjelang keberangkatan. AAS memang mensyaratkan serangkaian proses termasuk Pre Departure Program yang durasinya tergantung hasil Tes IELTS. Saya tergabung dalam kelompok 6 week-ers dan seharusnya berangkat Juli 2010. Tapi karena hamil dan pengurusan visa studi tidak bisa dilakukan hingga anak saya lahir, jadwal keberangkatan saya mundur satu semester menjadi Januari 2011. Beruntung, pemunduran jadwal ini justru membuat saya bisa berangkat bareng dengan suami yang juga dijadwalkan di semester yang sama. Enggak kebayang kalau saya harus berangkat sendiri dan membawa bayi. God is good, indeed.

12 Januari 2011, kami berangkat ke Perth. Tentu saja bersama Hayya, yang waktu itu masih berusia enam bulan. PR pertama kami begitu sampai adalah mencari daycare untuk Hayya. Kami sendiri bersyukur karena AAS sangat membantu dalam proses establishment. Kami mendapat penjemputan di bandara (lengkap dengan tur melihat Kangguru terlebih dahulu karena sopirnya sangat sangat ramah dan baik hati 😀 ), temporary accomodation, bantuan dari LO kapanpun kami perlu (mulai dari membuka rekening bank hingga pindahan ke akomodasi permanen), dan Introductory Academic Program (IAP) atau orientasi akademik bersama penerima beasiswa AAS di ECU yang lain.

Setelah daycare dan tempat tinggal permanen berhasil didapatkan, langkah selanjutnya adalah mengatur jadwal rutin sehari-hari. Program saya dan suami adalah Master by Coursework with minor thesis. Jadi di tahun pertama, jadwal kami penuh dengan kuliah di kelas. Sedangkan di tahun kedua, kami fokus pada tesis dan hanya mengambil satu mata kuliah tiap semester.

Dengan jadwal yang padat tersebut, Hayya full di daycare dari jam 08.00-17.00 selama lima hari dalam seminggu. Bahkan ketika saya tidak ada kelaspun, saya tetap menitipkan Hayya supaya bisa mengerjakan tugas-tugas, merencanakan tesis, mewawancarai narasumber (karena saya mengambil beberapa mata kuliah jurnalisme yang mengharuskan liputan di lapangan), atau sekadar meluangkan quality time dengan Zaki seperti menonton film bersama atau mengobrol di kafe. Saya merasa sebagai pasangan, kami perlu memiliki waktu-waktu untuk menjadi saya dan Zaki, bukan menjadi orang tua Hayya. Bukan berarti yang satu lebih baik dari yang lain, hanya saja kami merasa perlu meluangkan waktu untuk bercakap-cakap antara dua orang dewasa tanpa terdistraksi anak, you know, just to keep the sparks alive 😉 . Di malam hari tentu saja saya dan Zaki kadang masih bekerja, yang kurang maksimal karena sambil nggendong, bermain, dan sejenisnya.

Di tahun kedua, kami merasa perlu meluangkan lebih banyak waktu dengan Hayya. Malam hari dan akhir pekan tidak terasa cukup. Kami merasa melewatkan banyak hal. Maka kami pun memutuskan untuk tidak menitipkan Hayya lagi di daycare. Selain itu, kuliah tidak lagi sepadat tahun pertama, jadi waktunya lebih bisa diatur. Saya dan Zaki bisa bergantian menemani Hayya di rumah. Kami sengaja memilih jadwal kuliah yang berbeda supaya tidak tabrakan. Dan jadwal bimbinganpun kami atur dan rencanakan sedemikian rupa. Untungnya, supervisors kami sangat pengertian dengan kondisi kami yang kuliah sambil punya anak. Bahkan tidak hanya sekali saya bimbingan sambil mengajak Hayya (We can’t thank you enough, Danielle, Beate, and Panizza!).

Apakah semuanya berjalan mulus? Tentu tidak! 😆

Ada waktu-waktu di mana kami merasa kewalahan karena kami baru bisa benar-benar bekerja saat Hayya tidur, sementara tugas menumpuk dan deadline berhimpitan. Ada saat-saat kami merasa tidak sanggup dan rasanya ingin berhenti saja. Ada hal-hal yang membuat kami marah, sedih, kecewa. Apalagi kalau anak sedang rewel, sakit atau enggak mau disambi. Duh, rasanya kayak menyesal sudah mengambil keputusan untuk sekolah lagi. Belum komentar dari orang-orang yang kadang terlalu selo untuk mengurusi hidup orang lain. Tentang kami adalah orangtua yang egoislah. Tentang kami yang beginilah. Begitulah. Tapi alhamdulillah. Kami bisa melewatinya. Lulus tepat waktu dengan hasil yang memuaskan. Meskipun nilai saya tidak seperti Zaki yang hampir semuanya High Distiction, huh! ( Yes Zaki, I’m still envy (and proud of you 😘 )).

Mengingat-ingat masa itu lagi, saya tetap tidak punya tips tertentu untuk menjalani S2 dalam waktu yang bersamaan dan sambil momong anak. Sebenarnya, saya tidak nyaman membagikan tips apapun. Karena menurut saya, setiap pasangan, setiap keluarga, itu UNIK. Setiap situasi memiliki konteksnya sendiri-sendiri. Siapalah saya ini hingga saya berani-beraninya menyarankan? 🙂 Yang berlaku untuk saya, belum tentu berlaku untuk orang lain. Cara yang bekerja untuk keluarga saya, belum tentu bisa diterapkan di keluarga lain.

Satu-satunya hal yang bisa saya katakan adalah, kita boleh-boleh saja melihat cara hidup orang lain, membandingkannya, menganalisisnya. Tapi resep terbaik untuk keluarga kita harus kita rumuskan sendiri. Beberapa keluarga memilih bergantian dalam bersekolah. Beberapa memilih menitipkan anak ke orang tua sementara mereka bersekolah. Beberapa memilih kuliah jarak jauh atau online. Beberapa memilih tidak kuliah sama sekali. Silahkan saja. Saya pikir, pada akhirnya, kita sendiri yang tahu apa yang paling tepat untuk keluarga kita.

Apapun itu, kalau Anda memilih untuk kuliah lanjut dengan segala konsekuensinya, saya pastikan bahwa ketika semuanya berakhir, it is worth the journey 🙂

540916_10200320668359289_1341465265_n
Just graduated!
Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Ian says:

    Absolutely can relate to this 😂😂
    Belum baca artikel soal rasanya jadi spouse PhD sih.. Tapi berharap di dalamnya ada kalimat, “Bisa belanja2 bebas tanpa mikirin deadline assignments ketika Bojo nongkrong di perpus atau konsultasi.”

    1. Hayu Hamemayu says:

      Hahaha, toss 🙌🏼. I wish the same thing but you know, reality is harsh 😆😆. Faktanya kalau bojo dikejar deadline, boro-boro belanja, yang ada eikeh jadi cheerleader 😅😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s