“Are We There Yet?” Di Balik Perjalanan Seorang Traveler Mommy

dscf5367
Let’s travel around the world, my baby!

Sebagai seorang traveler mommy, saya sudah mengajak anak saya traveling sejak ia masih di dalam kandungan. Mulai dari mengunjungi pernikahan ke Pekalongan, menjajal hidup sendiri di rimba raya Jakarta, hingga snorkeling di Karimun Jawa, semua pernah saya lakukan dalam rentang 9 bulan masa kehamilan. Saya beruntung, semua momen-momen itu berlalu dengan baik tanpa drama yang berarti. Meskipun, seperti yang sudah diingatkan ibu saya, akibat terlalu sering diajak jalan-jalan, anak saya terlahir sebagai anak yang susah diam, hobi jalan dan gampang bosan (haha!). Dan memang, pada akhirnya, ia berada dalam kondisi-kondisi yang mau tak mau membuatnya sering bepergian.

Traveling pertama saya dengan anak, saya lakukan ketika ia masih berusia 1,5 bulan. Itu kali pertama anak saya bepergian dengan pesawat. Waktu itu saya mules-mules membayangkan apakah anak saya akan baik-baik saja selama di perjalanan. Terutama di momen lepas landas dan pendaratan. Untungnya anak saya tertidur pulas selama penerbangan pendek Jogja-Jakarta tersebut. Segera setelah itu, kami bepergian lagi saat usianya 6 bulan (ke Perth). Lalu mengunjungi Sydney dan Adelaide saat dia belum genap satu tahun. Keliling negara bagian Australia saat dia berusia dua tahun. Berkemah di Dieng saat dia tiga tahun. Ke Kuala Lumpur, Singapura, Bandung, Bali dan lain-lain saat dia berusia 4-6 tahun. Pindahan ke Swedia saat berumur 6,5 tahun. Dan yang terbaru, melakukan perjalan ke beberapa negara di Eropa dan Asia Tenggara saat dia berumur 7 tahun. Dalam perjalanan-perjalanan tersebut, ada momen serupa yang selalu muncul. Saya menyebutnya, momen “Are We There Yet?”

Sewaktu anak saya masih bayi sampai ia berusia dua tahun, sayalah yang selalu bertanya-tanya apakah kami sudah sampai di tujuan atau belum. Maklum, saya kerap dilanda kekhawatiran seperti “Apakah anak saya nyaman?” “Apakah dia baik-baik saja?”, “Nanti kalau nangis atau rewel bagaimana?” Dan sejenisnya. Sehingga, saya pun tak sabar ingin segera sampai tujuan.

Belakangan ketika anak saya sudah besar, dialah yang selalu bertanya: “Are we there yet?” Terutama kalau dia bosan dan perjalanan yang ditempuh cukup jauh (ukurannya adalah dia sudah tidur tapi pas bangun belum sampai juga 😅). Berulang kali dia akan bertanya: “Are we there yet?” “Are we there yet?” Sampai pening di kepala 😆. Nah, karena hal-hal itulah, saya selalu mempersiapkan banyak amunisi dalam perjalanan. Berikut beberapa hal yang saya siapkan tatkala berurusan dengan momen “Are We There Yet?”:

1. Sedia mainan sebelum bosan

Sebagai ibu dari anak yang super aktif, saya dituntut untuk menyiapkan berbagai cara agar anak saya duduk tenang sepanjang perjalanan. Salah satunya adalah dengan menyiapkan mainan. Beberapa mainan yang selalu ada di tas anak saya adalah:

  • Buku: Saya membiasakan anak saya untuk menjadikan buku sebagai solusi pertama tatkala tidak punya ide harus melakukan apa. Haha. Membaca, atau sekedar melihat-lihat gambar di buku masih menjadi pengisi waktu senggang yang paling baik menurut saya. Jadi 1-2 buku selalu saya siapkan. Dan untungnya, anak saya juga pecinta buku. Kloplah 😄
  • Kertas bekas: Dari sejak bayi, anak saya memang penggemar barang bekas. Dia senang membuat segala sesuatu dari kertas atau kardus berkas. Selain itu, hobinya adalah menggambar dan menulis cerita, maka kertas bekas harus ada di tasnya. Lengkap dengan uba rampe spidol/pensil warna, pensil biasa, pulpen, lem, selotip, dan gunting. Untung enggak perlu bawa papan tulis (halah!) 😆😆
  • Boneka: Satu boneka biasanya juga saya siapkan di tasnya. Sekedar berjaga-jaga kalau-kalau dia sedang tidak mood membaca atau menggambar.
  • Mainan yang sedang jadi idola 😅: Setiap anak pasti punya mainan favorit di waktu-waktu tertentu. Misal anak saya belakangan sedang suka My Little Pony dan Shopkins. Maka tentu saja dua mainan itu juga saya jejalkan di tasnya.
  • iPod: Well, inilah senjata pamungkas pembunuh waktu jaman millennial 😂 . Saat barang-barang di atas tak lagi mempan, maka saya akan membolehkan anak menonton beberapa video di YouTube atau bermain games. Saya sendiri tidak anti gadget untuk anak. Saya percaya bahwa dengan pengaturan dan pendampingan yang baik, internet justru bisa bermanfaat. Yang penting si anak tidak dibiarkan menonton sendiri atau menonton tayangan yang tidak sesuai umur.

2. Sedia makanan sebelum lapar

577386_4358874930002_615042587_n
Mengunyah dulu sebelum berangkat. Photo by Zaki Habibi

Seperti juga Ayah dan Bundanya, anak saya adalah seorang big eater 😅. Makanan-makanan harus selalu ada di tas jika sewaktu-waktu dia lapar. Preferensi makanan yang saya bawa tidak ada yang khusus. Sebisa mungkin sih yang sehat seperti buah atau biskuit khusus (terutama pas anak saya masih kecil). Tapi sekarang, coklat dan permen pun sesekali ada di tas. Khusus dipersiapkan untuk waktu-waktu darurat dan tidak bisa sembarangan diberikan. Kalau tidak mau si anak kebanyakan gula dan jadi super aktif. Haha.

3. Sedia gendongan sebelum tak gendong kemana-mana 😀

Saat anak bosan, rajukan yang paling sering disampaikan adalah minta digendong. Setidaknya itulah yang saya alami. Sewaktu anak saya bayi sampai dia 2 tahun, saya mempercayakan urusan gendong-menggendong pada Hanaroo baby wrap yang sudah terbukti sangat memudahkan saya berjalan-jalan dengan bayi (bahkan untuk mengungsi sewaktu erupsi Merapi 2010 😅). Jujur tak ada alasan khusus kenapa saya memilih merek itu. Perlu dipahami bahwa sewaktu anak saya bayi, belum banyak produk-produk modern untuk bayi yang tersedia di pasar. Misal untuk membeli baby wrap dan cloth diaper, saya harus membeli secara online. Pilihan mereknya pun tak banyak. Berbeda dengan sekarang di mana produk-produk inovatif mudah ditemui di toko-toko peralatan bayi. Tapi, saya tidak punya hal untuk dikeluhkan mengenai Hanaroo. I’m a satisfied customer!

Lalu saat anak saya berusia dua tahun dan Hanaroo tak mampu lagi menahan berat dan tingkah polahnya. Saya beralih ke Boba carrier. Berbeda dengan yang sebelumnya, untuk baby carrier ini, saya melakukan riset menyeluruh. Haha. Terutama dalam membandingkan satu merek dengan yang lain. Saya membaca banyak ulasan. Juga datang ke toko-toko untuk mencoba langsung. Dan akhirnya pilihan jatuh ke Boba. Boba carrier juga menjadi favorit saya karena lebih simple dibanding baby wrap. Cara memakainya pun lebih mudah jadi lebih praktis saat traveling. Belakangan, saya mengalih fungsikan gendongan tersebut sebagai pengaman saat naik motor di Jogja. Jadi benar-benar a good purchase 😀 .

img_5927

Saat anak saya sudah makin besar, gendongan pun tak lagi menjadi solusi (berat sodara-sodara! 😆). Trunki menjadi penyelamat karena bentuknya yang unik, bisa dinaiki oleh anak lalu ditarik ortunya sehingga tidak secapek menggendong, atau bisa ditarik seperti mainan sehingga anak-anak mau mambawa tasnya sendiri. Tapi, menurut saya pribadi, Trunki kurang solutif kalau sedang traveling dengan jadwal yang ketat. Kenapa? Karena si anak justru sibuk mainan dengan Trunkinya dan bukannya bergegas jalan. Atau sibuk minta berhenti untuk memberi makan si Trunki 😅 (kebetulan Trunki anak saya seri Dinosaurus, jadi tahu sendiri lah 😆)

Lalu, sejak anak saya berusia 5 tahun, saya mengganti Trunkinya dengan trolley bag. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, umur segitu anak saya sudah terlalu besar untuk duduk di Trunki. Kedua, saya mulai mengajari dia untuk mengemas dan bertanggung jawab dengan koper dan barang bawaannya sendiri sehingga perlu yang bentuknya lebih mudah untuk packing. Ketiga, trolley bag, lebih mudah dibawa dibandingkan tas model lain.

Saya tidak memiliki merek khusus untuk trolley bag. Tapi, beberapa pertimbangan yang saya pakai adalah ukuran (tidak terlalu kecil atau kebanyakan ornamen sehingga bisa memuat baju-baju dan barang-barang anak saya), bahan (sebisa mungkin yang anti air untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan), putaran roda (tidak harus yang spinner wheel/4 roda tapi cukup gampang dan nyaman saat ditarik), dan tentu saja harga. Saya sempat mengganti trolley bag anak saya karena yang pertama bahannya cepat rusak dan tidak anti air. Tapi sejauh ini, saya masih cukup puas dengan trolley bag kedua yang kami beli di salah satu toko tas di Jogja dua tahun lalu. 😊 Dengan gendongan dan tas yang tepat, anak saya (dan saya juga) ternyata lebih menikmati perjalanan sehingga mengurangi momen-momen tak sabar ingin segera sampai tujuan.

Namun, setelah jurus-jurus di atas dikeluarkan dan anak kita ternyata tetap bertanya “Are we there yet,” jawab saja: “Almost!” 😄✌🏼

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s