Mencarikan Sekolah untuk Anak

Salah satu tantangan terberat menjadi orang tua, menurut saya, adalah memilihkan/mencarikan sekolah yang baik untuk anaknya. Sejak anak saya lahir, terhitung sudah tiga kali saya (dan suami tentu saja) dibuat pusing dengan masalah mencari sekolah. Sekolah bagi kami adalah investasi. Tabungan untuk masa depan anak kami. Jadi kami tak ingin sembarangan. Tujuannya tentu saja agar anak kami mendapatkan pendidikan yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Apalagi ditambah fakta bahwa kami berdua berprofesi sebagai pendidik, maka “tuntutan” untuk mencarikan sekolah yang tepat menjadi berlipat ganda. Ibaratnya, anak orang lain saja kami didik dengan sungguh-sungguh, masak anak sendiri dicarikan sekolah yang ala kadarnya? Belum soal beban menjadi ibu bekerja yang seringkali disalahkan (dan/atau merasa bersalah) karena seolah-olah meninggalkan anak demi karir. Maka untuk saya, memilihkan sekolah menjadi perkara yang tidak main-main.

Hal ini tentu saja tidak menjadi soal kalau mencari sekolah yang bagus itu gampang. Terutama di Indonesia. Seringnya, sekolah yang berkualitas identik dengan sekolah yang mahal. Sehingga, pilihan bagi keluarga macam kami (yang masih harus hitung-hitungan dalam hal budget 😀 ) menjadi terbatas. Beruntung, selama tujuh tahun terakhir ini, kami bisa menemukan sekolah-sekolah, yang menurut kami, terbaik bagi pendidikan awal dan pendidikan dasar anak perempuan kami.

Continue reading “Mencarikan Sekolah untuk Anak”

Berkenalan dengan Sistem S3 di Swedia

Banyak yang (masih) bertanya mengapa saya pindah ke Swedia tanpa status mahasiswa. Mengapa saya jauh-jauh ke belahan bumi utara tanpa beasiswa S3 di tangan. Banyak juga yang bertanya mengapa sesampainya di sini saya tidak serta merta sekolah saja. Toh, beasiswa bertebaran di luar sana. Ada LPDP, beasiswa Dikti, beasiswa Menkeu, Swedish Institute, Erasmus Mundus, dan masih banyak lagi. Sebenarnya, catatan tentang perjalanan batin saya ketika memutuskan untuk menyusul suami ke Swedia pernah saya tuangkan di sini. Tapi mungkin penjelasan tersebut masih belum cukup. Jadi sekarang, saya memutuskan untuk menulis tentang sistem S3 di Swedia sekaligus sedikit menjelaskan mengapa tidak semudah itu mendaftar program doktoral di negara ini.

Pertama, mendaftar kuliah S3 itu, di manapun, tidaklah segampang memperbarui foto profil di media sosial. Seorang teman pernah berseloroh bahwa jalan mendapatkan beasiswa S3 itu sangatlah panjang. Dibutuhkan setidaknya sepuluh proposal untuk menempuhnya. Dia juga menegaskan bahwa ditolak itu biasa. Seorang kawan yang lain baru diterima di usaha yang kedelapan. Sedangkan saya, sampai akhir tahun lalu, saya baru sampai di proposal ketiga dan kampus keempat. Jadi bisa dibilang, saya masih setengah jalan. Haha. Teriring doa semoga separuh jalan selanjutnya bisa saya lalui dengan lebih mudah. (Ketik “amin”, saudara-saudara! 😄 ).

Tentu saja ada mereka yang langsung diterima di usaha pertama. Kepada mereka saya ucapkan selamat dan bangga luar biasa. Tapi perlu diingat bahwa secara umum, mendaftar S3 itu memang tidak mudah. Dan bukankah rejeki Tuhan bekerja dengan caranya masing-masing? Setiap orang punya takdirnya sendiri-sendiri. Kalau ada yang diterima di percobaan pertama bukan berarti tidak boleh ada yang diterima di percobaan kesekian, kan?

Continue reading “Berkenalan dengan Sistem S3 di Swedia”