Mukiyo in Action

Mungkin puisi-puisi berikut bisa menjelaskan mengapa Tulkijem begitu terperdaya oleh Mukiyo 🙂 “Bandung sudah lewat, Tapi aku bawa sesuatu, Untuk hati yang selalu tertambat, Untuk cinta yang kian lekat, Untuk kekasihku: Hayu” (ZH, 2006) — “Barangkali aku bukan lelaki sempurnamu, Bisa jadi aku juga bukan kekasih harapanmu, Tapi satu yang pasti, Aku selalu mencintamu, Hayu….

Kenapa Senja?

Kemarin saya bertanya pada Joko Pinurbo, kenapa dia suka senja? Saya selalu menemukan kepingan senja di tiap puisinya. Dia bilang, mungkin kebetulan saja. Lalu saya berjalan-jalan mengunjungi blog seorang teman, yang disitu menulis dengan gamblangnya bahwa dia mencintai senja, bahkan dia memberi nama blognya: cerita senja Ya, senja, warna oranye yang selalu menyapa sesaat sebelum…