My Life as a PhD Student’s Wife

If you think life as a PhD student is so hard, you’re absolutely, 100%, unquestionably, RIGHT!

The truth is, it’s super hard it makes the life as his/her partner is NOT easy either! 😄

I’m writing this not to complain about my current situation. Among all, I’m sincerely happy and grateful for whatever happened in the last two years since the day my husband started his PhD journey in Lund University, Sweden.

But, I feel like this is another level of relationship I’ve been dwelling in, by far. So I think it’s a good idea to write it down for a self reflection and to shout out to all PhD student’s partners out there:

I feel you! 😉

Continue reading “My Life as a PhD Student’s Wife”

When Ms Random meets Mr Planner

Saat-saat ketika merencanakan perjalanan adalah saat-saat di mana saya semakin menyadari betapa sesungguhnya saya dan suami adalah pribadi yang sangat bertolak belakang. Saya adalah manusia random. Happy go lucky person yang percaya bahwa semesta telah diatur sedemikian rupa. Cenderung mengalir saja tanpa perencanaan. Sementara suami adalah Mr Planner sejati. Sangat perhatian pada detail dan memiliki manajemen resiko yang terlalu tinggi. Hampir semua hal dalam hidupnya melalui perencanaan matang. Satu-satunya hal spontan yang pernah dia lakukan (yang masih dia ingat) adalah menjadikan saya sebagai pacarnya meski baru beberapa minggu kenal. Haha. Dan ini yang biasanya menjadi kartu AS saya untuk mengingatkan bahwa beberapa hal baik justru dimulai dari sebuah kesertamertaan (ahem!).

Tentu saja sebagai pasangan kami juga saling memengaruhi. Saya tak lagi anti rencana. Sementara dia mulai bisa menerima fakta bahwa tidak semua hal bisa ia kendalikan. Tapi tetap saja, yang namanya karakter dasar tidak bisa 100% diubah. Saya masih kerap ceroboh dan masa bodoh. Suami masih suka khawatir berlebih dan uring-uringan. Dan karakter dasar itu semakin menguat justru ketika kami dihadapkan pada satu hal yang sama-sama kami sukai: traveling!

Continue reading “When Ms Random meets Mr Planner”

Pasangan dan Bahasanya Masing-masing

“Kamu, beneran kangen suamimu atau cuma gegayaan aja sih?” tanya seorang kawan pada suatu hari.

Saya menatapnya dengan tatapan heran sebelum menjawab: “Ya kangen beneran lah, masak enggak?”.

“Ya, soalnya kalau sedang bersama pun kalian lebih sering berantem kan?” tambahnya sambil tertawa geli.

Saya pun ikut tertawa.

Kawan saya itu benar. Saya dan pasangan saya memang sering sekali bertengkar. Memperdebatkan hal-hal sepele. Meributkan hal-hal yang mungkin tidak perlu dibahas.

Continue reading “Pasangan dan Bahasanya Masing-masing”

Antara aku, kamu dan marshmallow

Coklat panas yg kupesan belum juga tersentuh saat kenangan demi kenangan perlahan menyeruak.

Mengombang-ambingkan perasaanku serupa marshmallow warna-warni di coklat panas itu.

 

Tak kuhiraukan tatapan heran orang-orang pada pesananku siang ini.

Matahari musim panas dan segelas coklat panas bukanlah kombinasi yang lazim (Kalau tidak mau menyebutnya aneh).

Belum marshmallow berwarna pelangi yang tak cocok dengan tampang dan penampilanku.

Tapi aku tak peduli.

Aku toh tak berhutang penjelasan apapun pada orang-orang itu.

Mereka pun tak perlu tahu ada apa antara aku, kamu dan marshmallow.

 

Aku bukannya sedang anti mainstream.

Aku hanya menyengaja berkubang dalam kenangan.

Satu kenangan saat kau bilang: “Mulai sekarang, kupanggil kamu hot chocolate. Kenapa? Because you’re hot, and dark and addictive just like chocolate”

Duh.

Bahkan kalimat gombalmu yg terdengar murahan kala itu kini terdengar seperti lagu merdu di telingaku.

 

Juga satu kenangan di musim dingin tiga tahun lalu saat kau menyambutku pulang.

Dengan dua gelas coklat panas dan tiga butir marshmallow di atasnya.

 

Atau kenangan lain saat kita membuat api unggun di Mt Wellington.

Memanggang marshmallow sembari mengawasi anak kita menikmati salju pertamanya.

 

Demi kenangan-kenangan itu, aku bukan hanya tak peduli dianggap aneh.

Aku tak peduli meski harus memesan coklat panas berulang kali.

Lagi dan lagi.

 

Coklat panas di depanku mulai dingin.

Marshmallow di atasnya pun telah meleleh sebagian.

Aku menyesapnya perlahan.

Manis.

Seperti kenangan kita.

 

Jogja-Lund

12 Juni 2016

Photo courtesy of http://www.marthastewart.com