Mencarikan Sekolah untuk Anak

Salah satu tantangan terberat menjadi orang tua, menurut saya, adalah memilihkan/mencarikan sekolah yang baik untuk anaknya. Sejak anak saya lahir, terhitung sudah tiga kali saya (dan suami tentu saja) dibuat pusing dengan masalah mencari sekolah. Sekolah bagi kami adalah investasi. Tabungan untuk masa depan anak kami. Jadi kami tak ingin sembarangan. Tujuannya tentu saja agar anak kami mendapatkan pendidikan yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Apalagi ditambah fakta bahwa kami berdua berprofesi sebagai pendidik, maka “tuntutan” untuk mencarikan sekolah yang tepat menjadi berlipat ganda. Ibaratnya, anak orang lain saja kami didik dengan sungguh-sungguh, masak anak sendiri dicarikan sekolah yang ala kadarnya? Belum soal beban menjadi ibu bekerja yang seringkali disalahkan (dan/atau merasa bersalah) karena seolah-olah meninggalkan anak demi karir. Maka untuk saya, memilihkan sekolah menjadi perkara yang tidak main-main.

Hal ini tentu saja tidak menjadi soal kalau mencari sekolah yang bagus itu gampang. Terutama di Indonesia. Seringnya, sekolah yang berkualitas identik dengan sekolah yang mahal. Sehingga, pilihan bagi keluarga macam kami (yang masih harus hitung-hitungan dalam hal budget 😀 ) menjadi terbatas. Beruntung, selama tujuh tahun terakhir ini, kami bisa menemukan sekolah-sekolah, yang menurut kami, terbaik bagi pendidikan awal dan pendidikan dasar anak perempuan kami.

Continue reading “Mencarikan Sekolah untuk Anak”

Masyarakat Modern Memaknai Pendidikan*

Selo Soemardjan memaknai perubahan sosial sebagai perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Sedangkan Kingsley Davis mengemukakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada struktur dan fungsi masyarakat. Perubahan pada dasarnya memiliki makna sebagai sesuatu yang menunjukkan perbedaan antara situasi sebelum dan sesudahnya.

Perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dalam masyarakat antara lain perubahan norma-norma sosial, nilai sosial, interaksi sosial, pola-pola perilaku, organisasi sosial, lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan masyarakat, susunan kekuasaan dan wewenang. Terkait dengan perubahan nilai sosial, kecenderungan yang ada di masyarakat kita saat ini adalah penghargaan berlebih terhadap pendidikan. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat.

Pada zaman dulu, manusia dinilai dari kepemilikan tanah, keturunan atau kekayaan yang dia miliki. Sementara saat ini, manusia ditempatkan dalam kotak-kotak ijazah, dimana dia dilihat sebagai siswa sekolah A atau mahasiswa universitas B, bukan dia sebagai seseorang dengan kualitas personalnya yang utuh. Pendidikan seolah-olah menjadi tangga untuk menuju status sosial yang lebih tinggi. Sayangnya, pendidikan bermutu sekarang ini diidentikkan dengan pendidikan yang mahal. Bersekolah di tempat mahal sekaligus menjadi legitimasi kesuksesan dan masa depan seseorang. Hal tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, apa yang sebenarnya tengah dikejar oleh masyarakat kita? mutu, prestige, atau justru keuntungan besar-besaran?

Disadari atau tidak, ada nilai yang bergeser dalam masyarakat. Ketika pendidikan mulai dimaknai sebagai suatu hal yang money oriented ketika itulah pendidikan telah kehilangan arti yang sebenarnya. Perubahan sosial, tidak bisa dilepaskan dari komunikasi sosial. Komunikasi sosial itu sendiri bisa dilihat dalam berbagai konteks. Salah satunya adalah konteks komunikasi kelompok.

Dalam konteks inilah, perspektif mengenai pendidikan berkembang. Komunikasi kelompok yang penuh dengan social contact, melahirkan wacana seputar pendidikan yang ujung-ujungnya menggeser arti dari pendidikan itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Alvin Betrand, awal dari proses perubahan adalah komunikasi, yaitu penyampaian ide, gagasan, nilai, keyakinan, dan sebagainya, dari satu pihak ke pihak lain sehingga dicapai pemahaman bersama. Selain itu, perubahan perspektif masyarakat mengenai pendidikan yang bermutu, menurut David Mc Clelland, dipengaruhi juga oleh adanya need of achievement atau hasrat meraih prestasi yang melanda masyarakat.

Continue reading “Masyarakat Modern Memaknai Pendidikan*”

Manusia Sekolah dan Manusia Pembelajar

Di dunia ini–menyepakati Ashadi Siregar–ada dua tipe/jenis manusia. Pertama, manusia sekolah. Kedua, manusia pembelajar.

Manusia sekolah ibarat sebuah gentong. Dia diisi dengan air sedemikian rupa–oleh seseorang yang lazim disebut guru–hingga penuh. Kemudian ketika sudah penuh, dia akan diuji, untuk mengukur sejauh mana pemahamannya (serapannya) atas air tersebut.

Logika dari manusia sekolah adalah ketika manusia tersebut dianggap sebagai entitas pasif, yang menerima saja apapun yang dituangkan padanya. Mereka tidak memiliki daya, bahkan tak perlu mempunyai usaha, untuk mencari “isi”nya sendiri.

Continue reading “Manusia Sekolah dan Manusia Pembelajar”

Being Well Educated Is Not Enough.. (Ternyata)

Dulu,

Kupikir jawaban dari segala permasalahan yang ada di dunia ini adalah Being Well Educated. Menjadi orang yang berpendidikan, menjadi manusia yang terpelajar.

Dengan berpendidikan, asumsiku, kita menjadi kian terbuka terhadap dunia, bisa membedakan mana yang benar dan yang salah, tahu apa yang harus dilakukan, dan bijak dalam setiap hal dan kelakuan.

Tapi ternyata aku salah…

Continue reading “Being Well Educated Is Not Enough.. (Ternyata)”

Bayer, Jaminan Mutu!

Sebelumnya, perlu saya tegaskan bahwa ini bukan tulisan yang berniat untuk mengiklan, saya hanya meminjam tag line dari sebuah merk produk untuk mewakili kegelisahan saya yang akhir-akhir ini tengah dibuat gerah dengan aksi jaminan mutu.

Ya, setiap hal di Indonesia kini harus dijamin mutunya. Termasuk soal pendidikan.

Semua harus sesuai standar yang ditentukan.

Semua harus memenuhi quality assurance.

Continue reading “Bayer, Jaminan Mutu!”

The Real Lembaga Pendidikan

Setelah memutuskan untuk fokus di bidang akademik, saya mulai berpikir mengenai kapitalisme yang kian kental mewarnai kampus-kampus tempat saya mengabdi. Pertama, tentu saja kampus UGM, logika “uang” menjadikan kualitas input di tempat ini makin tidak karuan. Tak jarang saya menemui mahasiswa-mahasiswa yang kehilangan “ruh” kuliah. Yang kuliah hanya karena tak ada hal lain yang bisa dilakukan. Hanya karena trend. Hanya karena merasa tak tahu lagi bagaimana caranya menghabiskan uang orang tua. Kuliah bukan untuk kuliah. Bukan lagi untuk peningkatan status seperti orang-orang zaman dulu. Bukan lagi tangga untuk memperbaiki kehidupan. Dan sebagai akibatnya, esensi dari kuliah itu sendiri makin tidak jelas.

Semua itu bisa dilihat dari ketidakdewasaan mereka dalam bersikap. Mindset mereka yang selalu ingin serba instant, tak mau repot dan cheerleader complex.

Menurut saya, barangkali bukan mereka yang salah. Dunia, mungkin memang sudah berubah. Justru disinilah seharusnya, peran saya, dan para akademisi lainnya harus lebih memperoleh ruang. Tantangan bagi institusi pendidikan seperti UGM adalah membuktikan dirinya sebagai the real lembaga pendidikan, yaitu institusi yang berprinsip bahwa apapun input-nya, output-nya akan selalu bagus, selalu optimal, selalu istimewa.

Continue reading “The Real Lembaga Pendidikan”