When Ms Random meets Mr Planner

Saat-saat ketika merencanakan perjalanan adalah saat-saat di mana saya semakin menyadari betapa sesungguhnya saya dan suami adalah pribadi yang sangat bertolak belakang. Saya adalah manusia random. Happy go lucky person yang percaya bahwa semesta telah diatur sedemikian rupa. Cenderung mengalir saja tanpa perencanaan. Sementara suami adalah Mr Planner sejati. Sangat perhatian pada detail dan memiliki manajemen resiko yang terlalu tinggi. Hampir semua hal dalam hidupnya melalui perencanaan matang. Satu-satunya hal spontan yang pernah dia lakukan (yang masih dia ingat) adalah menjadikan saya sebagai pacarnya meski baru beberapa minggu kenal. Haha. Dan ini yang biasanya menjadi kartu AS saya untuk mengingatkan bahwa beberapa hal baik justru dimulai dari sebuah kesertamertaan (ahem!).

Tentu saja sebagai pasangan kami juga saling memengaruhi. Saya tak lagi anti rencana. Sementara dia mulai bisa menerima fakta bahwa tidak semua hal bisa ia kendalikan. Tapi tetap saja, yang namanya karakter dasar tidak bisa 100% diubah. Saya masih kerap ceroboh dan masa bodoh. Suami masih suka khawatir berlebih dan uring-uringan. Dan karakter dasar itu semakin menguat justru ketika kami dihadapkan pada satu hal yang sama-sama kami sukai: traveling!

Continue reading “When Ms Random meets Mr Planner”

Cinta dalam Secangkir Kopi

Belakangan ini, aku sering memesan kopi kesukaanmu.

Kopi berasa yang kau tahu pasti tak pernah kusuka.

Tapi aku memesannya bukan karena telah berganti selera.

Aku memesannya karena cinta. Karena kita.

 

Ya, kita.

 

Dengan memesannya, kubayangkan kau tengah duduk di sampingku.

Menikmati setiap teguk kopi favoritmu itu.

Dengan memesannya, kuharapkan kau ada di sisiku.

Memelukku dengan secangkir kopi di tangan kananmu.

 

Kau tahu aku bukan penggemar kopi berasa.

Akulah penikmat kopi sebenar-benarnya.

Tapi demi sepotong rinduku padamu,

Kurelakan diri memesan kopi yang sama denganmu

 

“Can I have a cup of hazelnut latte, please?”

 

Jogja-Lund

3 Juni 2016

Photo by Zaki Habibi

Kita, dan Kesunyian Masing-masing

Di sana,

Kau berkawan dengan bosan.

Sepi tak henti berlalu lalang.

Dan lengang menjelma rindu,

Mengetuk-ngetuk pintu kesabaranmu.

 

Di sini,

Keterasingan menjadi rutin.

Sepi mampir saban hari.

Dan rindu menjelma harapan.

Mendamba pelukmu barang sebentar.

 

Jarak merengkuh kita dalam nasib yang sama.

Memunculkan hening.

Menyemaikan nelangsa.

 

Ah,

Kita dan kesunyian masing-masing…

 

 

Jogja-Lund

1 Juni 2016