Circle Route: Kemana cinta akan membawaku pergi, setelah ini?

Hari ini tepat dua minggu sejak kepulanganku dari Perth. Kepulangan yang membuatku sadar. Aku dan Banyu barangkali memang berjodoh. Tapi hanya sebagai teman. Setelah melalui lika-liku perjalanan yang melelahkan, harus kami akui bahwa kami tidak bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat. Mungkin kami pernah saling jatuh cinta. Tapi waktu telah mengubah semuanya. Termasuk perasaan kami. Meski demikian, sungguh aku tidak menyesal. Bagaimanapun, aku bersyukur bisa memperjelas ini semua. Sekarang aku yakin dengan perasaanku sendiri. Yakin bahwa jodohku bukan Jembar. Bukan Banyu. Meskipun aku belum tahu juga siapa.

Kadang aku berpikir, seandainya saja jodoh itu membawa spanduk, membawa papan nama bertuliskan namaku seperti orang-orang yang menjemput di bandara. Mungkin akan lebih mudah bagiku untuk menemukannya. Tapi sayangnya tidak. Aku dipaksa untuk pandai mengartikan setiap pertanda dan menebak-nebak, siapakah jodohku yang sebenarnya, dan kalau boleh jujur, hal itu sama sekali tidak mudah buatku. Nyatanya sudah dua kali aku salah tebak.

“Ah ya sudah, dijalani saja, mungkin waktuku memang belum tiba,” batinku pasrah. Continue reading “Circle Route: Kemana cinta akan membawaku pergi, setelah ini?”

Circle Route: Love is just too complicated

Pagi hari berikutnya, aku meminta Andrea menemaniku membeli souvenir khas Perth untuk oleh-oleh di E-shed Market, pasar yang terletak dekat Stasiun Fremantle. Kami sepakat untuk menggunakan kereta saja dan bukannya menyetir mobil sendiri. Aku suka menggunakan transportasi umum di sini. Nyaman dan bersih. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan transportasi umum di Indonesia. Dalam hati aku berharap semoga suatu saat nanti, transportasi umum di Indonesia juga akan senyaman dan seramah di sini.

Sesampainya di E-Shed market aku langsung memborong beberapa barang. Didgeridoo atau alat musik indigenous milik bangsa Aborigin di Australia, bumerang, magnet kulkas dari tumbuhan asli di sini, juga kaos dan tas dan dompet dari kulit Kangguru. Lumayan juga harganya. Beruntung penjualnya orang Indonesia yang sudah 18 tahun tinggal di sini, jadi dengan murah hati dia memberiku diskon yang lumayan. Aku senang bukan main.

Sementara aku sibuk memilah-milih oleh-oleh, Andrea sibuk mencicipi sampel gratis beraneka rasa macadamia, kacang khas Australia, di salah satu kedai. Di sini memang lazim bagi penjual untuk memajang sampel gratis dari barang-barang yang mereka jual. Aku dan Andrea sering berburu sampel gratisan tersebut. Dari mulai keju, yoghurt, sampai buah-buahan, semua sudah pernah kami jajal. Kalau sedang beruntung, kami bahkan tak perlu mengeluarkan uang untuk jajan saking mudahnya menemukan sampel-sampel gratis, baik di Perth maupun daerah sekitarnya seperti Morley, Subiaco, atau Fremantle. Continue reading “Circle Route: Love is just too complicated”

Circle Route: Farewell Party

Setelah hampir dua jam bercerita panjang lebar dan saling mencurahkan isi hati di kafe langganan Banyu, kami kembali ke rumah Zach. Begitu kami sampai, Andrea langsung menghampiriku dan tampak khawatir. Aku segera mengatakan bahwa semua baik-baik saja.

I’ll tell you the complete story later,” bisikku.

Banyu lalu mengenalkanku pada Zach, juga Phillippe dan Antonio. Aku senang berkenalan dengan mereka. Meskipun baru kenal, mereka tidak belagu atau terlalu jaga image. Phillipe bahkan tak henti-hentinya membuat lelucon yang membuat kami semua tertawa ngakak. Kami terus mengobrol lalu tiba-tiba Zach mengusulkan untuk mengadakan semacam farewell party untukku malam ini, di rumahnya. Mulanya aku menolak. Tapi cuma aku yang menolak sementara yang lainnya setuju. Aku kalah suara. Malam ini, they will throw a farewell party for me.

Aku mengusulkan untuk memesan pizza saja. Gampang dan enak. Mental gemar jajanku ternyata belum punah. Tapi lagi-lagi tak ada yang setuju dengan usulku. Mereka semua ternyata gemar memasak. Akhirnya diputuskan bahwa kami akan memasak yang cukup serius. Continue reading “Circle Route: Farewell Party”

Circle Route: End of the road?

17883761_10158609302955094_1988778744314504892_n“Jadi, kamu penulis sekarang?” tanya Banyu memecah kebisuan di antara kami.

Aku mengangguk.

“Baguslah, akhirnya kamu bisa mewujudkan mimpimu. Well done,” katanya lagi.

Aku hanya kembali mengangguk. Sebelum bertemu dengannya aku selalu berpikir untuk mengajukan serentetan pertanyaan yang sudah kususun rapi di otakku. Tapi hari ini, berdiri di depannya lagi, setelah sekian lama, pertanyaan-pertenyaan itu menguap entah ke mana. Berganti dengan perasaan lega yang sekaligus asing. Berganti dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Masihkah dia sama seperti dulu? Masihkah dia Banyu yang dulu? Masihkah aku Bening yang dulu?

“Mau kopi?” tanya Banyu akhirnya.

“Oke,” jawabku pendek. Kopi bukan minuman favoritku. Tapi mungkin kafein yang ada di dalamnya bisa memberiku keberanian untuk berbicara. Continue reading “Circle Route: End of the road?”

Circle World: The world is changing, things never stay the same

302922_10150800961365094_1480626495_nHari-hariku berlalu dengan cepat di Perth. Tapi aku belum mendengar kabar apapun dari Banyu. Aku sudah bertanya pada beberapa orang Indonesia yang kutemui di sini. Tapi tak ada yang kenal Banyu. Mendengar namanya pun belum pernah. Bahkan pernah dengan sengaja aku menyambangi kampusnya dulu yang terletak di Joondalup, sekitar setengah jam dengan kereta dari pusat kota Perth, tapi hasilnya tetap nihil. Sesampainya di sana, aku hanya mendapati diriku duduk melamun menatap danau di tengah kampus Banyu yang riuh oleh itik-itik yang berenang mencari ikan, dan bukannya menemukan Banyu atau setidaknya mendapatkan jejaknya.

Aku mulai frustasi. Sepertinya semesta memang tidak mengijikan kami bertemu. Sepertinya memang tidak akan pernah ada kesempatan bagi kami berdua untuk sekedar duduk dan mengrobrolkan perasaan kami. Memperjelas apa yang sebenarnya terjadi di antara kami berdua. Continue reading “Circle World: The world is changing, things never stay the same”