Circle Route: Love is just too complicated

Pagi hari berikutnya, aku meminta Andrea menemaniku membeli souvenir khas Perth untuk oleh-oleh di E-shed Market, pasar yang terletak dekat Stasiun Fremantle. Kami sepakat untuk menggunakan kereta saja dan bukannya menyetir mobil sendiri. Aku suka menggunakan transportasi umum di sini. Nyaman dan bersih. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan transportasi umum di Indonesia. Dalam hati aku berharap semoga suatu saat nanti, transportasi umum di Indonesia juga akan senyaman dan seramah di sini.

Sesampainya di E-Shed market aku langsung memborong beberapa barang. Didgeridoo atau alat musik indigenous milik bangsa Aborigin di Australia, bumerang, magnet kulkas dari tumbuhan asli di sini, juga kaos dan tas dan dompet dari kulit Kangguru. Lumayan juga harganya. Beruntung penjualnya orang Indonesia yang sudah 18 tahun tinggal di sini, jadi dengan murah hati dia memberiku diskon yang lumayan. Aku senang bukan main.

Sementara aku sibuk memilah-milih oleh-oleh, Andrea sibuk mencicipi sampel gratis beraneka rasa macadamia, kacang khas Australia, di salah satu kedai. Di sini memang lazim bagi penjual untuk memajang sampel gratis dari barang-barang yang mereka jual. Aku dan Andrea sering berburu sampel gratisan tersebut. Dari mulai keju, yoghurt, sampai buah-buahan, semua sudah pernah kami jajal. Kalau sedang beruntung, kami bahkan tak perlu mengeluarkan uang untuk jajan saking mudahnya menemukan sampel-sampel gratis, baik di Perth maupun daerah sekitarnya seperti Morley, Subiaco, atau Fremantle. Continue reading “Circle Route: Love is just too complicated”

Circle Route: End of the road?

17883761_10158609302955094_1988778744314504892_n“Jadi, kamu penulis sekarang?” tanya Banyu memecah kebisuan di antara kami.

Aku mengangguk.

“Baguslah, akhirnya kamu bisa mewujudkan mimpimu. Well done,” katanya lagi.

Aku hanya kembali mengangguk. Sebelum bertemu dengannya aku selalu berpikir untuk mengajukan serentetan pertanyaan yang sudah kususun rapi di otakku. Tapi hari ini, berdiri di depannya lagi, setelah sekian lama, pertanyaan-pertenyaan itu menguap entah ke mana. Berganti dengan perasaan lega yang sekaligus asing. Berganti dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Masihkah dia sama seperti dulu? Masihkah dia Banyu yang dulu? Masihkah aku Bening yang dulu?

“Mau kopi?” tanya Banyu akhirnya.

“Oke,” jawabku pendek. Kopi bukan minuman favoritku. Tapi mungkin kafein yang ada di dalamnya bisa memberiku keberanian untuk berbicara. Continue reading “Circle Route: End of the road?”

Circle World: The world is changing, things never stay the same

302922_10150800961365094_1480626495_nHari-hariku berlalu dengan cepat di Perth. Tapi aku belum mendengar kabar apapun dari Banyu. Aku sudah bertanya pada beberapa orang Indonesia yang kutemui di sini. Tapi tak ada yang kenal Banyu. Mendengar namanya pun belum pernah. Bahkan pernah dengan sengaja aku menyambangi kampusnya dulu yang terletak di Joondalup, sekitar setengah jam dengan kereta dari pusat kota Perth, tapi hasilnya tetap nihil. Sesampainya di sana, aku hanya mendapati diriku duduk melamun menatap danau di tengah kampus Banyu yang riuh oleh itik-itik yang berenang mencari ikan, dan bukannya menemukan Banyu atau setidaknya mendapatkan jejaknya.

Aku mulai frustasi. Sepertinya semesta memang tidak mengijikan kami bertemu. Sepertinya memang tidak akan pernah ada kesempatan bagi kami berdua untuk sekedar duduk dan mengrobrolkan perasaan kami. Memperjelas apa yang sebenarnya terjadi di antara kami berdua. Continue reading “Circle World: The world is changing, things never stay the same”

Circle Route: Beach is a good place to think about future

IMG_8723Excuse me, do you mind if I sit here? This is my favorite spot,” kata seorang perempuan bule padaku sambil menunjuk spot persis di sebelahku.

Siang ini aku menghabiskan waktu di Cottesloe Beach, pantai cantik yang berhias bangunan tua di salah satu sudut pantainya. Pantai yang selalu ada di hampir semua kartu pos yang dijual di Perth. Di pantai itu aku duduk menunggu matahari terbenam. Sore itu Cottesloe Beach ramai oleh pengunjung. Maklum, Perth mulai hangat. Summer is just right in the corner, kalau kata orang-orang di sini. Musim panas hampir tiba. Pantai menjadi surga bagi orang-orang yang tersiksa selama musim dingin. Sementara buatku, pantai menjadi surga karena selalu membuatku teringat Banyu dan kegemaran kami mengejar senja bersama, juga Bagas, untuk secuil senja di pantai Kewuru yang sempat kami nikmati berdua.

No, I don’t mind,” kataku akhirnya pada perempuan bule tersebut.

I’m Andrea,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.

I’m Bening,” balasku.

Where are you from, Ben..ning?” dia tampak kesusahan menyebut namaku.

“Indonesia,” jawabku.

“Aha. Indonesia. I’ve been there,” katanya antusias.

Lalu dia bercerita tentang Bali, Lombok, Jogja, Jakarta dan daerah-daerah lain yang sudah pernah dia kunjungi. Aku jadi minder karena bahkan aku yang orang Indonesia belum pernah mengunjungi sebagian besar tempat-tempat yang dia sebutkan. Andrea berasal dari Jerman, tapi tengah berlibur di Perth. Seketika kami menjadi teman baik. Kami punya banyak persamaan. Sama-sama menyukai pantai adalah salah satunya.

Do you know, Bening? Beach is a good place to think about future,” kata Andrea. Continue reading “Circle Route: Beach is a good place to think about future”

Circle Route: G’day, Perth!

550729_10151834322610094_344548011_nAku tak mengantar Re ke bandara. Selain karena penerbangan mereka yang terlalu pagi (iya, jam 6 itu masih terlalu pagi buatku yang doyan melek malam dan baru tidur selepas subuh) juga karena aku tak tahu harus naik apa sepulangnya dari bandara nanti. Aku masih takut naik taksi. Selain takut tersesat juga takut dicharge mahal (duh, memangnya ini Jakarta). Tapi Re pun menganjurkan agar aku di hotel saja.

“Simpan uangmu untuk hal-hal lain yang lebih perlu,” begitu dia bilang.

Jadi setelah berpamitan dengan Re, Ocha, Gin juga Panji, di lobby hotel dan melambai ke arah dua Swan Taxi yang membawa mereka menjauh, hal pertama yang kulakukan adalah kembali tidur.

Aku terbangun sekitar jam 9 dan memutuskan untuk mandi lalu ke kota dan mengunjungi Information Centre untuk mengambil beberapa peta dan brosur wisata yang pasti berguna karena sering memuat banyak diskon/kupon di dalamnya. Setelah itu, aku bergegas membuat kartu Smartrider untuk menggunakan transportasi umum selama di Perth. Beruntung hotelku tidak jauh dari pusat kota jadi aku bisa berkeliaran di seputaran kota dengan berjalan kaki, tapi kartu Smartrider tetap akan berguna kalau aku ingin mengunjungi daerah-daerah lainnya yang tak mungkin ditempuh dengan berjalan kaki.

Sambil menikmati Sunny Side Up atau telor ceplok dan roti panggang minus bacon sebagai sarapan yang telat, aku memelototi peta di depanku. Mencoba memetakan daerah-daerah mana saja yang harus kukunjungi selama di sini, juga daerah-daerah yang memungkinkanku untuk menemui Banyu. Continue reading “Circle Route: G’day, Perth!”