Lost in Translation: Mencari Makna tanpa Kendala Bahasa

Setiap orang pasti pernah mengalami momen lost in translation. Jangankan ketika berada di negara asing dan dalam bahasa asing, di dalam negeri dengan bahasa yang sama pun terkadang kita masih saling mempertukarkan makna yang berbeda-beda. Secara tata bahasa, lost in translation diartikan sebagai proses hilangnya sebagian dan/atau keseluruhan makna akibat proses translasi. Kalimat yang bisa dicontohkan misal kalimat dalam bahasa Jawa ‘Alon-alon waton kelakon’ yang kerap diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “Slowly but Sure.” Terjemahan ini memang  dirasa benar, tapi tetap tidak bisa mewakili keseluruhan makna yang ada dalam kalimat sebelumnya. Ada makna yang kemudian hilang karena kata-kata seringkali merupakan representasi budaya, sehingga unik dan tidak bisa diterjemahkan mentah-mentah.

Contoh yang lain adalah kata dalam bahasa Swedia ‘Lagom’, yang sering diterjemahkan sebagai moderate atau cukup. Beberapa yang lain menerjemahkannya menjadi “not too much, not too little” (saya bayangkan kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia akan jadi “yang sedang-sedang saja” 😀 ). Namun, menurut pengakuan penutur lokal, tidak ada satupun dari terjemahan tersebut yang benar-benar bisa menggambarkan makna asli dari lagom karena dia terikat dengan budaya dan makna yang dibagikan secara kolektif di Swedia. Beberapa kata barangkali memang diciptakan untuk tidak bisa diterjemahkan, dan kalau dipaksa justru akan membuat maknanya melenceng kemana-mana. Begitulah yang disebut dengan lost in translation menurut para ahli. 🙂

Continue reading “Lost in Translation: Mencari Makna tanpa Kendala Bahasa”