Circle Route: Epilog

Rasa-rasanya aku ingin menggantikan sopir yang melajukan bus dengan lambat. Bahkan sering sekali berhenti untuk mengangkut penumpang.

“Aduh Pak Sopir, aku mau deh membayar tiga kali lipat asal bus ini melaju dengan lebih cepat. Aku tak sabar ingin segera sampai di Kewuru,” batinku jengkel.

Sebenarnya aku capek bukan main. Tapi aku tak mau menunda-nunda. Makanya begitu aku menemukan buku dari Bagas, langsung kupesan tiket pesawat ke Jogja. Beruntung ini bukan akhir pekan, jadi tiket yang relatif murah masih banyak tersedia. Aku tak sempat mengabari siapa-siapa. Tidak Tim, atau Kaila, atau bahkan kakakku, Bara. Aku toh takkan berlama-lama di Kewuru. Hanya bertemu Bagas, lalu aku akan kembali ke Jakarta dalam dua atau tiga hari. Begitu rencanaku. Aku bahkan tak membawa banyak barang. Hanya baju ganti dan beberapa keperluan personal yang sempat kujejalkan di ranselku.

Setelah penerbangan hampir satu jam, sesampainya di bandara Jogja aku langsung mencegat bus yang mengantarku ke terminal antar kota untuk kemudian menaiki bus yang lain lagi, menuju Kewuru. Sama seperti ketika pertama kali aku datang ke desa itu. Rute yang cukup panjang. Jelas saja aku capek. Tapi harapan untuk segera bertemu Bagas mengurangi capekku. Berganti dengan rasa jengkel pada sopir bus yang menjalankan busnya seperti siput. Continue reading “Circle Route: Epilog”

Circle Route: Kemana cinta akan membawaku pergi, setelah ini?

Hari ini tepat dua minggu sejak kepulanganku dari Perth. Kepulangan yang membuatku sadar. Aku dan Banyu barangkali memang berjodoh. Tapi hanya sebagai teman. Setelah melalui lika-liku perjalanan yang melelahkan, harus kami akui bahwa kami tidak bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat. Mungkin kami pernah saling jatuh cinta. Tapi waktu telah mengubah semuanya. Termasuk perasaan kami. Meski demikian, sungguh aku tidak menyesal. Bagaimanapun, aku bersyukur bisa memperjelas ini semua. Sekarang aku yakin dengan perasaanku sendiri. Yakin bahwa jodohku bukan Jembar. Bukan Banyu. Meskipun aku belum tahu juga siapa.

Kadang aku berpikir, seandainya saja jodoh itu membawa spanduk, membawa papan nama bertuliskan namaku seperti orang-orang yang menjemput di bandara. Mungkin akan lebih mudah bagiku untuk menemukannya. Tapi sayangnya tidak. Aku dipaksa untuk pandai mengartikan setiap pertanda dan menebak-nebak, siapakah jodohku yang sebenarnya, dan kalau boleh jujur, hal itu sama sekali tidak mudah buatku. Nyatanya sudah dua kali aku salah tebak.

“Ah ya sudah, dijalani saja, mungkin waktuku memang belum tiba,” batinku pasrah. Continue reading “Circle Route: Kemana cinta akan membawaku pergi, setelah ini?”

Circle Route: Cerita Banyu (Bagian Lima)

 

17952709_10158641741145094_6826364875224157142_nKadang, yang dibutuhkan cinta adalah kesempatan

Aku baru saja menuruni tangga menuju pintu keluar bandara saat sebuah suara dengan aksen yang khas memanggil namaku.

“Banyu,” kata suara itu.

Aku menoleh. Ternyata Mikhaela. Dia tampak seperti baru pulang dari jalan-jalan. Sebuah tas ransel besar dia bawa tanpa kesusahan di punggungnya. Dia lalu berlari-lari ke arahku.

Hi, how are you? What are you doing here?” berondongnya.

“Aku baik, barusan nganter temen, dia mau pulang ke Indonesia,” jawabku.

Sudah lama aku tidak bertemu Mikhaela. Seingatku kami hanya bertemu sekali setelah aku bilang bahwa aku sedang tidak siap untuk berkomitmen. Setelah itu, aku tak mendengar kabar apapun darinya. Dia masih cantik seperti dulu. Sekalipun hanya memakai kaos singlet dan celana jeans belel seperti saat ini.

“Kamu sendiri apa kabar? Dari mana bawa-bawa ransel segedhe itu?” tanyaku heran.

I’m great. Aku baru pulang dari Cradle Mountain, Tasmania. It’s so awesome. You should go there,” katanya antusias. Continue reading “Circle Route: Cerita Banyu (Bagian Lima)”

Circle Route: Love is just too complicated

Pagi hari berikutnya, aku meminta Andrea menemaniku membeli souvenir khas Perth untuk oleh-oleh di E-shed Market, pasar yang terletak dekat Stasiun Fremantle. Kami sepakat untuk menggunakan kereta saja dan bukannya menyetir mobil sendiri. Aku suka menggunakan transportasi umum di sini. Nyaman dan bersih. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan transportasi umum di Indonesia. Dalam hati aku berharap semoga suatu saat nanti, transportasi umum di Indonesia juga akan senyaman dan seramah di sini.

Sesampainya di E-Shed market aku langsung memborong beberapa barang. Didgeridoo atau alat musik indigenous milik bangsa Aborigin di Australia, bumerang, magnet kulkas dari tumbuhan asli di sini, juga kaos dan tas dan dompet dari kulit Kangguru. Lumayan juga harganya. Beruntung penjualnya orang Indonesia yang sudah 18 tahun tinggal di sini, jadi dengan murah hati dia memberiku diskon yang lumayan. Aku senang bukan main.

Sementara aku sibuk memilah-milih oleh-oleh, Andrea sibuk mencicipi sampel gratis beraneka rasa macadamia, kacang khas Australia, di salah satu kedai. Di sini memang lazim bagi penjual untuk memajang sampel gratis dari barang-barang yang mereka jual. Aku dan Andrea sering berburu sampel gratisan tersebut. Dari mulai keju, yoghurt, sampai buah-buahan, semua sudah pernah kami jajal. Kalau sedang beruntung, kami bahkan tak perlu mengeluarkan uang untuk jajan saking mudahnya menemukan sampel-sampel gratis, baik di Perth maupun daerah sekitarnya seperti Morley, Subiaco, atau Fremantle. Continue reading “Circle Route: Love is just too complicated”

Circle Route: Farewell Party

Setelah hampir dua jam bercerita panjang lebar dan saling mencurahkan isi hati di kafe langganan Banyu, kami kembali ke rumah Zach. Begitu kami sampai, Andrea langsung menghampiriku dan tampak khawatir. Aku segera mengatakan bahwa semua baik-baik saja.

I’ll tell you the complete story later,” bisikku.

Banyu lalu mengenalkanku pada Zach, juga Phillippe dan Antonio. Aku senang berkenalan dengan mereka. Meskipun baru kenal, mereka tidak belagu atau terlalu jaga image. Phillipe bahkan tak henti-hentinya membuat lelucon yang membuat kami semua tertawa ngakak. Kami terus mengobrol lalu tiba-tiba Zach mengusulkan untuk mengadakan semacam farewell party untukku malam ini, di rumahnya. Mulanya aku menolak. Tapi cuma aku yang menolak sementara yang lainnya setuju. Aku kalah suara. Malam ini, they will throw a farewell party for me.

Aku mengusulkan untuk memesan pizza saja. Gampang dan enak. Mental gemar jajanku ternyata belum punah. Tapi lagi-lagi tak ada yang setuju dengan usulku. Mereka semua ternyata gemar memasak. Akhirnya diputuskan bahwa kami akan memasak yang cukup serius. Continue reading “Circle Route: Farewell Party”