Bagaimana Caranya Merindumu?

“Sengaja tak lagi kulirik jam yang berdetik.

Agar tak terasa lama, saat-saat kita kembali bersua.

Karena sungguh, aku tak tahu lagi bagaimana caranya menunggumu.

Bait-bait kangenku mulai sumbang.

Kalimat-kalimat rinduku mulai berulang-ulang.

Mungkin rasaku telah kehabisan kosakata.

Menantimu telah mementahkan semua frasa.

Atau mungkin sudah saatnya kamu pulang.

Agar semua kerinduan ini cukup tersampaikan dalam satu pelukan.”

Jogja-Lund

7 Oktober 2016

Sajak Cinta-Rangga

Kemarau yang basah,

Membawa serta rindu yang gelisah

Sementara batin terus bertanya,

Akankah kita kembali bertemu setelah tujuh purnama?

Juli yang dingin,

Membawa serta kenangan delapan musim

Sementara hati tak sabar menunggu,

Menanti sehari terasa sewindu

Aku dan kamu bukanlah Cinta dan Rangga,

Tapi jarak,

Menempatkan kita pada nasib yang sama..

 

Jogja-Lund

28 Juli 2016

Tapi Rindu

Kembang tak pernah mengeluh,

Pada angin yang membuatnya jatuh.

Pasir tak pernah berisik,

Saat laut mendadak surut, atau beriak naik.

Sementara aku terus mengeluh.

Tentang jarak yang membuatku rapuh.

Sungkan aku pada kembang,

Malu aku pada pasir,

Tapi aku takluk,

Pada rindu.


Jogja-Lund

18 Juli 2016

Kita, dan Kesunyian Masing-masing

Di sana,

Kau berkawan dengan bosan.

Sepi tak henti berlalu lalang.

Dan lengang menjelma rindu,

Mengetuk-ngetuk pintu kesabaranmu.

 

Di sini,

Keterasingan menjadi rutin.

Sepi mampir saban hari.

Dan rindu menjelma harapan.

Mendamba pelukmu barang sebentar.

 

Jarak merengkuh kita dalam nasib yang sama.

Memunculkan hening.

Menyemaikan nelangsa.

 

Ah,

Kita dan kesunyian masing-masing…

 

 

Jogja-Lund

1 Juni 2016