Better When I’m Writing

Zaki asked me the other day, what things I am still passionate about lately. I gave him three answers, and among those, the first and most definite one was writing. Later I realised that writing is actually the only thing I consistently do since I was still in the elementary school. Though I must admit, I never had any chance to work on it properly.

Part of it was because it seemed like being a writer was less prestigious than being a doctor, or a teacher, or an astronaut, or an architect, or any other profession in this world. And it was just so hard to keep your passion when everyone around you didn’t take it really seriously. In my case, I found it was hard for me not to be tempted with the idea of being “somebody”. And the general definition of “somebody” in Indonesia is anything but freelance, including writing. Most people will consider it as merely a hobby.

I got some people who supported my passion, in different ways, though. My dad used to take me to his school library so I spent most of my childhood drowning into books and that’s how book became one of my obsessions (there’s a story about it here). My mom gave me a diary so I had something to write on. And there was a teacher in my junior high school who once asked me to join a writing competition. I didn’t join the competition at the end (because I wasn’t sure what to write and bit lazy, to be honest) but he was one of the few people who made me feel that I can write. Somehow. Someday. Continue reading “Better When I’m Writing”

Senandung Musim Gugur

Jauh sebelum saya mengunjungi negara empat musim, musim gugur sudah menjadi musim favorit saya. Meski lahir dan besar di negara dua musim yang hanya mengenal hujan dan kemarau, entah mengapa saya merasa terhubung dengan memori musim gugur yang saya baca di majalah-majalah, saya lihat di televisi atau saya bayangkan dari puisi-puisi. Mungkin karena karakter dasar saya yang (sok) romantis dan melankolis. Sehingga daun-daun jatuh saya anggap sebagai momen magis yang menghanyutkan.

Jangankan musim gugur di belahan bumi selatan atau utara, “musim gugur” di kampung halaman saya, yang ditandai dengan daun-daun pohon Akasia yang berguguran, atau pohon Jati yang meranggas, sudah cukup membuat saya duduk melamun lama menikmati setiap detilnya.

img_6857
Musim gugur di kampung halaman

Ah, saya ini memang sentimentil. Gemar berkubang dalam romantisme yang saya buat-buat sendiri.

Continue reading “Senandung Musim Gugur”

Kid’s Stories Project: The Toothless Naia

 

Story by Hayu Hamemayu and Hayya Habibi

Illustration by Hayya Habibi

Long long time ago, there was a little girl named Naia. She lived in a bamboo village near forest with her momma. Among all things in this world, Naia loved sweets. She ate a lot of candies, chocolates and marshmallows. But, Naia hated brushing her teeth. Her momma kept telling her that it is important to brush her teeth at least twice a day, but Naia didn’t listen.

Every time her momma tried to brush her teeth, Naia always ran away or hid in the forest near her house. Her momma tried to catch her but Naia was so quick she was barely able to keep up.

At night, Naia would go to her room quietly and pretended that she had fell asleep when her momma called her and asked her to brush her teeth. Naia did anything not to brush her teeth. Continue reading “Kid’s Stories Project: The Toothless Naia”

Circle Route: Epilog

Rasa-rasanya aku ingin menggantikan sopir yang melajukan bus dengan lambat. Bahkan sering sekali berhenti untuk mengangkut penumpang.

“Aduh Pak Sopir, aku mau deh membayar tiga kali lipat asal bus ini melaju dengan lebih cepat. Aku tak sabar ingin segera sampai di Kewuru,” batinku jengkel.

Sebenarnya aku capek bukan main. Tapi aku tak mau menunda-nunda. Makanya begitu aku menemukan buku dari Bagas, langsung kupesan tiket pesawat ke Jogja. Beruntung ini bukan akhir pekan, jadi tiket yang relatif murah masih banyak tersedia. Aku tak sempat mengabari siapa-siapa. Tidak Tim, atau Kaila, atau bahkan kakakku, Bara. Aku toh takkan berlama-lama di Kewuru. Hanya bertemu Bagas, lalu aku akan kembali ke Jakarta dalam dua atau tiga hari. Begitu rencanaku. Aku bahkan tak membawa banyak barang. Hanya baju ganti dan beberapa keperluan personal yang sempat kujejalkan di ranselku.

Setelah penerbangan hampir satu jam, sesampainya di bandara Jogja aku langsung mencegat bus yang mengantarku ke terminal antar kota untuk kemudian menaiki bus yang lain lagi, menuju Kewuru. Sama seperti ketika pertama kali aku datang ke desa itu. Rute yang cukup panjang. Jelas saja aku capek. Tapi harapan untuk segera bertemu Bagas mengurangi capekku. Berganti dengan rasa jengkel pada sopir bus yang menjalankan busnya seperti siput. Continue reading “Circle Route: Epilog”

Circle Route: Cerita Banyu (Bagian Lima)

 

17952709_10158641741145094_6826364875224157142_nKadang, yang dibutuhkan cinta adalah kesempatan

Aku baru saja menuruni tangga menuju pintu keluar bandara saat sebuah suara dengan aksen yang khas memanggil namaku.

“Banyu,” kata suara itu.

Aku menoleh. Ternyata Mikhaela. Dia tampak seperti baru pulang dari jalan-jalan. Sebuah tas ransel besar dia bawa tanpa kesusahan di punggungnya. Dia lalu berlari-lari ke arahku.

Hi, how are you? What are you doing here?” berondongnya.

“Aku baik, barusan nganter temen, dia mau pulang ke Indonesia,” jawabku.

Sudah lama aku tidak bertemu Mikhaela. Seingatku kami hanya bertemu sekali setelah aku bilang bahwa aku sedang tidak siap untuk berkomitmen. Setelah itu, aku tak mendengar kabar apapun darinya. Dia masih cantik seperti dulu. Sekalipun hanya memakai kaos singlet dan celana jeans belel seperti saat ini.

“Kamu sendiri apa kabar? Dari mana bawa-bawa ransel segedhe itu?” tanyaku heran.

I’m great. Aku baru pulang dari Cradle Mountain, Tasmania. It’s so awesome. You should go there,” katanya antusias. Continue reading “Circle Route: Cerita Banyu (Bagian Lima)”