Kudu Ngguyu

Akhir-akhir ini saya merasa “kudu ngguyu”. Yaitu semacam perasaan harus tertawa, karena menghadapi logika-logika yang tidak “berjalan” sebagaimana mestinya. Kudu ngguyu juga bisa menjadi sindiran halus, ketika kita menghadapi sikap-sikap tertentu yang menggelikan (untuk tidak menyebutnya memalukan).

Kudu ngguyu saya yang pertama, saya rasakan ketika saya melewati Monumen Jogja Kembali (Monjali) pada hari Minggu (1/2) lalu. Pagi itu, Monjali ramai dipadati pengunjung. Usut punya usut, ternyata ada seorang pria berkumis tebal, yang wajahnya ramai menghiasi baliho akhir-akhir ini, sedang mendeklarasikan niatnya untuk menjadi calon presiden RI pada Pemilihan Umum mendatang. Dengan yakin, dia mengklaim dirinya “Presiden Perubahan”.

Saya kudu ngguyu, karena saya tidak mengenalnya–dalam arti tahu sepak terjangnya–teman saya juga tidak, dan begitu juga dengan temannya teman saya. Jadi, percaya diri sekali ketika pria tersebut kemudian merasa layak menjadi presiden. Meskipun mungkin, kami saja yang tidak gaul hingga tidak mengenal sosok tersebut.

Continue reading “Kudu Ngguyu”