Daftar Wajib Kunjung Perth

Mengaku meninggalkan sebelah hatinya di kota paling terisolasi di dunia: Perth, saya baru sadar bahwa saya justru sangat jarang menulis apapun (kecuali ini) tentang Perth. Keinginan untuk menulis ini mendadak muncul setelah beberapa kawan meminta rekomendasi tempat-tempat menarik di Perth karena akan mengunjunginya dalam waktu dekat (dan membuat saya iri berat!). Jadi, keirian itu saya salurkan dengan membuat daftar ini saja. Jauh lebih sehat daripada nggrundel dan merutuk diri, kan? Siapa tahu dengan begitu, saya pun akan kembali mengunjungi Perth suatu hari nanti (kabulkan doa hamba ya Allah) 🙏🏼🤠

Oh ya, sekedar disclaimer, daftar ini saya buat berdasarkan pengalaman saya tinggal di sana pada 2011-2013, jadi mungkin beberapa data sudah kadaluarsa. Tapi tenang saja, beberapa info hasil bertanya pada mbah google sudah saya tambahkan. So, here is the list: Continue reading “Daftar Wajib Kunjung Perth”

What to Expect When Visiting Bali as Local Tourist

img_6036
The Moment Before Sunset in Sanur

Its massive tourism creates a sense that Bali somehow belongs to international tourist. At least that’s what I feel every time I come to Bali. I’m not discussing right or wrong here, I’m just saying that as a local tourist, I feel like Bali treats me differently (sometimes).

There are some reasons behind it I believe. But one of them is (maybe) because the number of international tourist is higher than the local one. I don’t have the data but you can sense it when walking through the streets in Bali which is always packed with international faces (not indigenous face like mine 😁 ). And this comes with consequences.

Based on my experiences, these are the things you can expect when visiting Bali as local tourist: Continue reading “What to Expect When Visiting Bali as Local Tourist”

“Are We There Yet?” Di Balik Perjalanan Seorang Traveler Mommy

dscf5367
Let’s travel around the world, my baby!

Sebagai seorang traveler mommy, saya sudah mengajak anak saya traveling sejak ia masih di dalam kandungan. Mulai dari mengunjungi pernikahan ke Pekalongan, menjajal hidup sendiri di rimba raya Jakarta, hingga snorkeling di Karimun Jawa, semua pernah saya lakukan dalam rentang 9 bulan masa kehamilan. Saya beruntung, semua momen-momen itu berlalu dengan baik tanpa drama yang berarti. Meskipun, seperti yang sudah diingatkan ibu saya, akibat terlalu sering diajak jalan-jalan, anak saya terlahir sebagai anak yang susah diam, hobi jalan dan gampang bosan (haha!). Dan memang, pada akhirnya, ia berada dalam kondisi-kondisi yang mau tak mau membuatnya sering bepergian.

Traveling pertama saya dengan anak, saya lakukan ketika ia masih berusia 1,5 bulan. Itu kali pertama anak saya bepergian dengan pesawat. Waktu itu saya mules-mules membayangkan apakah anak saya akan baik-baik saja selama di perjalanan. Terutama di momen lepas landas dan pendaratan. Untungnya anak saya tertidur pulas selama penerbangan pendek Jogja-Jakarta tersebut. Segera setelah itu, kami bepergian lagi saat usianya 6 bulan (ke Perth). Lalu mengunjungi Sydney dan Adelaide saat dia belum genap satu tahun. Keliling negara bagian Australia saat dia berusia dua tahun. Berkemah di Dieng saat dia tiga tahun. Ke Kuala Lumpur, Singapura, Bandung, Bali dan lain-lain saat dia berusia 4-6 tahun. Pindahan ke Swedia saat berumur 6,5 tahun. Dan yang terbaru, melakukan perjalan ke beberapa negara di Eropa dan Asia Tenggara saat dia berumur 7 tahun. Dalam perjalanan-perjalanan tersebut, ada momen serupa yang selalu muncul. Saya menyebutnya, momen “Are We There Yet?” Continue reading ““Are We There Yet?” Di Balik Perjalanan Seorang Traveler Mommy”

Kali Ketiga Melancong Ke Pulau Pinang

Sejak akhir 2015 lalu, terhitung sudah tiga kali saya mengunjungi Pulau Pinang (Penang), negara bagian di semenanjung barat laut Malaysia. Awalnya sekadar mengikuti suami yang melakukan penelitian di kota ini. Tapi lambat laun, saya pun mulai menyukai Penang dan menganggapnya sebagai rumah singgah yang kesekian (mana-mana dianggap rumah pokoknya, dasar nomaden! 😆😆).

Salah satu hal yang membuat saya menyukai kota ini adalah perasaan bahwa waktu terasa terbekukan di Penang. Menjelajahi pusat kota ini seperti masuk dalam salah satu adegan film Warkop DKI “Jodoh Bisa Diatur” yang saya tonton berulang-ulang semasa kecil. Satu episode yang menceritakan bagaimana Dono, Kasino, Indro datang ke Malaysia untuk mencari kekasih hati Dono dan anaknya, yang bernama Rios atau si Montok. Film ini terekam kuat di benak saya karena satu kalimat: “Itu bukan Rios, itu anak kingkong”. 😅😅 (Yang nak bernostalgia dengan film itu sila datang di mari. 😄) Continue reading “Kali Ketiga Melancong Ke Pulau Pinang”

Visiting Singapore in a Tight Budget

There’s a lot of things to do in Singapore actually. But, in the most expensive city in the world, things often come with the price (literally) 😅. So, if you want to visit Singapore in a friendly budget, here are some tips and recommended spots you can visit for free based on my personal experiences 😁:

1. Merlion and surrounds

20914580_10159310716225094_783356096808568801_nTake a mandatory photo in front of the most famous landmark in Singapore, then go for a stroll to the Cavenagh bridge. You can enjoy the view of Marina Bay, Singapore Flyer, bronze sculptures, and colorful buildings at Boat Quay, along the way. Reward yourself with a slice of traditional Singaporean ice cream when you arrived at the bridge. Just remember to choose the local brand one (not that famous red love shape brand, if you know what I mean) as it is tastier and lot cheaper 😉 . Talking from my experience, the location for local brand seller’s near Cavenagh bridge is at the other side of the river or the north bank. 

Continue reading “Visiting Singapore in a Tight Budget”