Di Bawah Pohon Berdaun Salju | Under The Snow-Leaf Tree

Di bawah pohon berdaun salju itu, kutemukan kita.
Duduk berdua menatap ranting-ranting putih yang mulai merenta.
Aku akan mengeluh kedinginan.
Lalu kau akan merapatkan pelukanmu.
Dan para tetangga akan bertanya-tanya.
Untuk apa kita duduk berdua di bawah pohon berdaun salju.
Saat suhu tak mau bergerak dari titik beku.
Yang tak mereka tahu, di bawah pohon itu, tersimpan rindu.” 


“Under that snow-leaf tree, I found us.
Sitting side by side, staring at the branches turned white.
I would complain about the cold.
Then you’d took me to your arms to hold.
And the neighbors would wonder.
Why should we sit under that snow-leaf tree.
When the temperature dropped under zero degree.
What they didn’t know, under that three, there was love.”

Seorang Penulis yang Bertanya pada Dirinya Sendiri

Seorang penulis suatu hari bertanya pada dirinya sendiri.

Apa jadinya jika dunia kehabisan kosakata?

Akankah diksi menjadi sunyi?

Tak ada lagi awalan atau akhiran?

Tak perlu lagi imbuhan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tak kunjung ia temu jawabnya.

Tapi setengahnya ia tak lagi peduli.

Toh, kata sekarang makin kehilangan makna.

Tak lagi diperhatikan tanda bacanya.

Tak lagi dihiraukan ejaan dan aturan bakunya.

Seseorang bisa bilang ”kami” atau ”kita” tanpa peduli bedanya.

Barangkali penulis itu sedang mencari cerita dibalik bahasa

Atau,

Ia hanya seorang penulis yang tengah lelah merajut aksara.

 

Lund, 15 Desember 2017

The Colors of Autumn

img_6375

The leaves turned red on those days of October

When fall was here and winter was near

Could you taste the sweetness in the air?

The taste of a life free from despair?

I pictured us walking hand in hand

Along the way where everywhere was a yellow lane

I remembered how I would have waited for you

On that old wet bench in Lundagård around 1 pm or two

Our love grew strong despite the wind

Flourishing like mushrooms under the autumn rain

I became gold, you were getting brown

To the colors of heaven we were all belong.

img_6599

Lund, 2017/10/23

Surat-surat yang Tak Pernah Sampai*

Hari masih pagi saat aku berdiri, menunggu dengan tak sabar, antrian di Inglewood OPost. Dari jauh kulihat hanya dua, dari biasanya empat, konter layanan yang buka. Tak heran antriannya sepanjang ini. Aku menghitung dalam hati jumlah orang yang berdiri di depanku. Masih delapan lagi. Masih lama. Aku menghembuskan nafas panjang. Mulai bosan dengan hal yang sudah kali kedua ini kulakukan.

Continue reading “Surat-surat yang Tak Pernah Sampai*”

Bagaimana Caranya Merindumu?

“Sengaja tak lagi kulirik jam yang berdetik.

Agar tak terasa lama, saat-saat kita kembali bersua.

Karena sungguh, aku tak tahu lagi bagaimana caranya menunggumu.

Bait-bait kangenku mulai sumbang.

Kalimat-kalimat rinduku mulai berulang-ulang.

Mungkin rasaku telah kehabisan kosakata.

Menantimu telah mementahkan semua frasa.

Atau mungkin sudah saatnya kamu pulang.

Agar semua kerinduan ini cukup tersampaikan dalam satu pelukan.”

Jogja-Lund

7 Oktober 2016

Kita, dan Kesunyian Masing-masing

Di sana,

Kau berkawan dengan bosan.

Sepi tak henti berlalu lalang.

Dan lengang menjelma rindu,

Mengetuk-ngetuk pintu kesabaranmu.

 

Di sini,

Keterasingan menjadi rutin.

Sepi mampir saban hari.

Dan rindu menjelma harapan.

Mendamba pelukmu barang sebentar.

 

Jarak merengkuh kita dalam nasib yang sama.

Memunculkan hening.

Menyemaikan nelangsa.

 

Ah,

Kita dan kesunyian masing-masing…

 

 

Jogja-Lund

1 Juni 2016

Kisah Para Sepatu

Satu demi satu,

Sepatu-sepatu mulai bertingkah mendedah kisah

Bertutur kata layaknya manusia

“Memangnya kamu saja yang punya cerita,” begitu kata mereka

 

Satu demi satu,

Sepatu-sepatu mulai bertingkah mendedah kisah

 

“Aku sepatu yang paling disayang” kata sepatu tertua

Wajahnya usang pertanda usia

 

“Tapi aku yang paling cantik” tukas si sepatu batik

“Setiap memakaiku orang selalu melirik.”

 

“Kalian tak lagi dipuja seperti aku,” ujar si sepatu baru

Wajahnya mulus belum lagi berdebu

 

Sepatu-sepatu lalu berdebat siapa yang paling hebat

Baru berhenti saat si empunya sepatu lewat

 

Sepatu-sepatu lalu diam seribu bahasa

Manusia tak perlu tahu mereka punya cerita..

 

Perth, 23 Oktober 2012