Tentang Kehilangan dan Patah Hati Itu

Saya berusaha untuk tidak buru-buru mencap 2020 sebagai tahun yang buruk. Saya masih ingin percaya bahwa kejadian-kejadian beberapa bulan terakhir ini hanya kerikil yang terjal di awal, dan akan membaik pada akhirnya. Ini toh baru bulan kelima, masih ada tujuh bulan untuk menebus bulan-bulan tidak menyenangkan sebelumnya.

Tapi jujur, berat merawat optimisme itu. Terutama sejak kabar-kabar kehilangan berjejalan di lini masa. Dari yang sekedar grafik dan angka hingga nama-nama yang akrab di telinga: Glenn Fredly, Irrfan Khan dan yang baru saja, Didi Kempot.

Setiap nama tersebut memiliki memori tersendiri bagi saya.

Glenn Fredly adalah penanda masa remaja yang dipenuhi tayangan MTV. Gayanya di video ”Cukup Sudah” membantu mendefinisikan kata ”cool” di masa itu. Lirik lagunya yang romantis selalu membuat saya terpikat, baik saat sedang atau tidak punya pasangan. Bahkan, ”Terpesona” masih menjadi lagu wajib saya setiap kali karaoke.

Lalu, meski tak sebanyak Glenn, memori atas Irrfan Khan adalah memori yang menawarkan warna lain untuk kegemaran saya menonton film India. Dia tidak mencuri perhatian lewat gaya dan penampilan fisik, tapi aktingnya di The Lunchbox, The Namesake dan Piku meninggalkan kesan yang tidak sedikit.

Sementara Didi Kempot, lagu-lagunya selalu mengingatkan saya pada siang-siang yang terik di Gunungkidul.

Pada angin kering musim kemarau yang bebas keluar masuk dari jendela dan pintu yang dibuka lebar-lebar. Pada satu momen ketika dua orang pekerja bangunan sedang mengganti ubin, salah satunya sambil menghisap rokok dan menggumam pelan, samar-samar melantunkan Ketaman Asmara yang diputar dengan lantang dari VCD player di ruang tengah.

Begitulah memang cara mendengarkan musik di desa saya: diputar keras-keras seolah sedang berlomba. Tumpang tindih dengan suara mesin kompresor dari bengkel milik tetangga. Dan deru mobil serta sepeda motor yang berlalu lalang di jalan raya, persis di depan rumah.

Pikiran saya merekam episode-episode kehidupan itu sebagai memori yang menyenangkan. Karenanya, kepergian si penyumbang memori mengusik ketenangan dari kenangan-kenangan itu, menimbulkan rasa kehilangan dan patah hati. Karena bagaimanapun, mengutip Didi Kempot sendiri, “aku nelangsa, mergo kebacut tresna” (aku merasa nelangsa, karena terlanjur cinta) (Cidro, 1989).

Maka atas nama kehilangan serta patah hati itu, saya membuat satu video dengan latar lagu Sewu Kutha yang saya nyanyikan awal Februari lalu. Meski tidak istimewa, semoga bisa menjadi penanda kenangan yang tersimpan lama.

Membawa atau Tidak Membawa Keluarga saat Bersekolah di Luar Negeri

Ketika sudah berkeluarga, keputusan untuk studi lanjut di luar negeri bukanlah perkara mudah, mengingat lebih banyak yang harus dipertimbangkan daripada saat masih berstatus lajang. Setidaknya itulah yang dirasakan beberapa orang yang belakangan menghubungi saya, terkait pengalaman saya membawa dan dibawa keluarga bersekolah di luar Indonesia.

Saya sendiri cenderung memilih opsi membawa serta keluarga saat studi lanjut. Mengapa? Karena menurut pengalaman kami yang belum seberapa, saya dan suami tidak terlalu ahli dalam hal LDR. Haha. Setelah pernah dipaksa berjauhan selama delapan bulan, kami sepakat untuk memilih dekat meskipun sering ribut daripada jarang marahan tapi jauh 😀

Tapi, tentu saja itu preferensi saya pribadi. Tidak bisa serta merta diterapkan ke individu atau keluarga yang lain. Yang jelas, seperti juga keputusan-keputusan yang lain, tetap ada yang perlu dipertimbangkan untuk membawa atau tidak membawa serta keluarga saat bersekolah di luar negeri. Berikut hal-hal yang menurut saya perlu ditengok ulang:

Jakarta (CGK)-Copenhagen (CPH), enaknya naik apa?

Sejak pindah ke Swedia dan beberapa kali menempuh rute CGK-CPH dengan bergonta-ganti maskapai, sejumlah kawan meminta saya mereview rute dan maskapai-maskapai tersebut. Sejujurnya, saya (atau kami lebih tepatnya), tidak punya preferensi khusus dalam memilih maskapai. Hanya tiga hal yang selama ini kami jadikan acuan:

  • Satu kali transit (karena lebih dari itu terlalu rempong buat kami yang bawa anak)
  • Terjangkau harganya (makanya yang saya review ini semuanya kelas Ekonomi yaaaa 😄 )

dan,

  • Tidak punya record yang terlalu parah (karena maskapai yang sempurna itu tidak ada saudara-saudara)

Continue reading “Jakarta (CGK)-Copenhagen (CPH), enaknya naik apa?”

Lund, Jogja dan segala sesuatu di antaranya

Pulang tahun ini bisa dibilang sedikit di luar rencana. Awalnya kami berniat pulang ke Indonesia di akhir tahun, sekalian mengungsi dari musim dingin Swedia yang ajaib. Juga menunggu tabungan agak ”mendingan” dulu setelah libur panjang musim panas tahun lalu 😅.

Tapi dua kabar baik di bulan Maret membuat kami menata ulang semua rencana perjalanan.

Pertama, adik ipar saya menerima lamaran dari calon suaminya waktu itu. Rencana pernikahan pun disusun dan waktu yang tepat bagi semuanya adalah di bulan Juli. Kedua, tes urin yang saya lakukan menunjukkan bahwa saya positif hamil dengan perkiraan lahir Desember 2018, sehingga tidak mungkin melakukan perjalanan di bulan-bulan itu. Dua hal ini, kemudian membuat kami memindahkan rencana pulang ke Indonesia ke bulan Juli.

Continue reading “Lund, Jogja dan segala sesuatu di antaranya”

What to Expect When Visiting Bali as Local Tourist

img_6036
The Moment Before Sunset in Sanur

Its massive tourism creates a sense that Bali somehow belongs to international tourist. At least that’s what I feel every time I come to Bali. I’m not discussing right or wrong here, I’m just saying that as a local tourist, I feel like Bali treats me differently (sometimes).

There are some reasons behind it I believe. But one of them is (maybe) because the number of international tourist is higher than the local one. I don’t have the data but you can sense it when walking through the streets in Bali which is always packed with international faces (not indigenous face like mine 😁 ). And this comes with consequences.

Based on my experiences, these are the things you can expect when visiting Bali as local tourist:

Continue reading “What to Expect When Visiting Bali as Local Tourist”

“Are We There Yet?” Di Balik Perjalanan Seorang Traveler Mommy

dscf5367
Let’s travel around the world, my baby!

Sebagai seorang traveler mommy, saya sudah mengajak anak saya traveling sejak ia masih di dalam kandungan. Mulai dari mengunjungi pernikahan ke Pekalongan, menjajal hidup sendiri di rimba raya Jakarta, hingga snorkeling di Karimun Jawa, semua pernah saya lakukan dalam rentang 9 bulan masa kehamilan. Saya beruntung, semua momen-momen itu berlalu dengan baik tanpa drama yang berarti. Meskipun, seperti yang sudah diingatkan ibu saya, akibat terlalu sering diajak jalan-jalan, anak saya terlahir sebagai anak yang susah diam, hobi jalan dan gampang bosan (haha!). Dan memang, pada akhirnya, ia berada dalam kondisi-kondisi yang mau tak mau membuatnya sering bepergian.

Traveling pertama saya dengan anak, saya lakukan ketika ia masih berusia 1,5 bulan. Itu kali pertama anak saya bepergian dengan pesawat. Waktu itu saya mules-mules membayangkan apakah anak saya akan baik-baik saja selama di perjalanan. Terutama di momen lepas landas dan pendaratan. Untungnya anak saya tertidur pulas selama penerbangan pendek Jogja-Jakarta tersebut. Segera setelah itu, kami bepergian lagi saat usianya 6 bulan (ke Perth). Lalu mengunjungi Sydney dan Adelaide saat dia belum genap satu tahun. Keliling negara bagian Australia saat dia berusia dua tahun. Berkemah di Dieng saat dia tiga tahun. Ke Kuala Lumpur, Singapura, Bandung, Bali dan lain-lain saat dia berusia 4-6 tahun. Pindahan ke Swedia saat berumur 6,5 tahun. Dan yang terbaru, melakukan perjalan ke beberapa negara di Eropa dan Asia Tenggara saat dia berumur 7 tahun. Dalam perjalanan-perjalanan tersebut, ada momen serupa yang selalu muncul. Saya menyebutnya, momen “Are We There Yet?”

Continue reading ““Are We There Yet?” Di Balik Perjalanan Seorang Traveler Mommy”

Mencarikan Sekolah untuk Anak

Salah satu tantangan terberat menjadi orang tua, menurut saya, adalah memilihkan/mencarikan sekolah yang baik untuk anaknya. Sejak anak saya lahir, terhitung sudah tiga kali saya (dan suami tentu saja) dibuat pusing dengan masalah mencari sekolah. Sekolah bagi kami adalah investasi. Tabungan untuk masa depan anak kami. Jadi kami tak ingin sembarangan. Tujuannya tentu saja agar anak kami mendapatkan pendidikan yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Apalagi ditambah fakta bahwa kami berdua berprofesi sebagai pendidik, maka “tuntutan” untuk mencarikan sekolah yang tepat menjadi berlipat ganda. Ibaratnya, anak orang lain saja kami didik dengan sungguh-sungguh, masak anak sendiri dicarikan sekolah yang ala kadarnya? Belum soal beban menjadi ibu bekerja yang seringkali disalahkan (dan/atau merasa bersalah) karena seolah-olah meninggalkan anak demi karir. Maka untuk saya, memilihkan sekolah menjadi perkara yang tidak main-main.

Hal ini tentu saja tidak menjadi soal kalau mencari sekolah yang bagus itu gampang. Terutama di Indonesia. Seringnya, sekolah yang berkualitas identik dengan sekolah yang mahal. Sehingga, pilihan bagi keluarga macam kami (yang masih harus hitung-hitungan dalam hal budget 😀 ) menjadi terbatas. Beruntung, selama tujuh tahun terakhir ini, kami bisa menemukan sekolah-sekolah, yang menurut kami, terbaik bagi pendidikan awal dan pendidikan dasar anak perempuan kami.

Continue reading “Mencarikan Sekolah untuk Anak”