What to Expect When Visiting Bali as Local Tourist

img_6036
The Moment Before Sunset in Sanur

Its massive tourism creates a sense that Bali somehow belongs to international tourist. At least that’s what I feel every time I come to Bali. I’m not discussing right or wrong here, I’m just saying that as a local tourist, I feel like Bali treats me differently (sometimes).

There are some reasons behind it I believe. But one of them is (maybe) because the number of international tourist is higher than the local one. I don’t have the data but you can sense it when walking through the streets in Bali which is always packed with international faces (not indigenous face like mine 😁 ). And this comes with consequences.

Based on my experiences, these are the things you can expect when visiting Bali as local tourist: Continue reading “What to Expect When Visiting Bali as Local Tourist”

“Are We There Yet?” Di Balik Perjalanan Seorang Traveler Mommy

dscf5367
Let’s travel around the world, my baby!

Sebagai seorang traveler mommy, saya sudah mengajak anak saya traveling sejak ia masih di dalam kandungan. Mulai dari mengunjungi pernikahan ke Pekalongan, menjajal hidup sendiri di rimba raya Jakarta, hingga snorkeling di Karimun Jawa, semua pernah saya lakukan dalam rentang 9 bulan masa kehamilan. Saya beruntung, semua momen-momen itu berlalu dengan baik tanpa drama yang berarti. Meskipun, seperti yang sudah diingatkan ibu saya, akibat terlalu sering diajak jalan-jalan, anak saya terlahir sebagai anak yang susah diam, hobi jalan dan gampang bosan (haha!). Dan memang, pada akhirnya, ia berada dalam kondisi-kondisi yang mau tak mau membuatnya sering bepergian.

Traveling pertama saya dengan anak, saya lakukan ketika ia masih berusia 1,5 bulan. Itu kali pertama anak saya bepergian dengan pesawat. Waktu itu saya mules-mules membayangkan apakah anak saya akan baik-baik saja selama di perjalanan. Terutama di momen lepas landas dan pendaratan. Untungnya anak saya tertidur pulas selama penerbangan pendek Jogja-Jakarta tersebut. Segera setelah itu, kami bepergian lagi saat usianya 6 bulan (ke Perth). Lalu mengunjungi Sydney dan Adelaide saat dia belum genap satu tahun. Keliling negara bagian Australia saat dia berusia dua tahun. Berkemah di Dieng saat dia tiga tahun. Ke Kuala Lumpur, Singapura, Bandung, Bali dan lain-lain saat dia berusia 4-6 tahun. Pindahan ke Swedia saat berumur 6,5 tahun. Dan yang terbaru, melakukan perjalan ke beberapa negara di Eropa dan Asia Tenggara saat dia berumur 7 tahun. Dalam perjalanan-perjalanan tersebut, ada momen serupa yang selalu muncul. Saya menyebutnya, momen “Are We There Yet?” Continue reading ““Are We There Yet?” Di Balik Perjalanan Seorang Traveler Mommy”

Mencarikan Sekolah untuk Anak

Salah satu tantangan terberat menjadi orang tua, menurut saya, adalah memilihkan/mencarikan sekolah yang baik untuk anaknya. Sejak anak saya lahir, terhitung sudah tiga kali saya (dan suami tentu saja) dibuat pusing dengan masalah mencari sekolah. Sekolah bagi kami adalah investasi. Tabungan untuk masa depan anak kami. Jadi kami tak ingin sembarangan. Tujuannya tentu saja agar anak kami mendapatkan pendidikan yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Apalagi ditambah fakta bahwa kami berdua berprofesi sebagai pendidik, maka “tuntutan” untuk mencarikan sekolah yang tepat menjadi berlipat ganda. Ibaratnya, anak orang lain saja kami didik dengan sungguh-sungguh, masak anak sendiri dicarikan sekolah yang ala kadarnya? Belum soal beban menjadi ibu bekerja yang seringkali disalahkan (dan/atau merasa bersalah) karena seolah-olah meninggalkan anak demi karir. Maka untuk saya, memilihkan sekolah menjadi perkara yang tidak main-main.

Hal ini tentu saja tidak menjadi soal kalau mencari sekolah yang bagus itu gampang. Terutama di Indonesia. Seringnya, sekolah yang berkualitas identik dengan sekolah yang mahal. Sehingga, pilihan bagi keluarga macam kami (yang masih harus hitung-hitungan dalam hal budget 😀 ) menjadi terbatas. Beruntung, selama tujuh tahun terakhir ini, kami bisa menemukan sekolah-sekolah, yang menurut kami, terbaik bagi pendidikan awal dan pendidikan dasar anak perempuan kami. Continue reading “Mencarikan Sekolah untuk Anak”

5 things Lund and Jogja have in common

From the moment I arrived in Lund, Sweden, I always feel that this southern Swedish city shares so many similarities with Jogja, my hometown, even though these cities are located at different sides of the world. Jogja and Lund are separated thousand miles away. So, how can I say that the two cities have some things in common? Well, here are the resemblances I found so far:

  1. Student City

Both Lund and Jogja are student city where universities play central role of their rhythm. Lund is the home for one of the oldest (and greatest) universities in Sweden: Lund University. Meanwhile, Jogja is famous for its numerous and reputable universities, schools and colleges. The oldest Indonesian state university (Universitas Gadjah Mada) and also the private one (Universitas Islam Indonesia) are both located in Jogja. No wonder these cities are always bustling with students and somehow always related to the universities. In Lund, for example, most residents have correlation with Lund University either as student, employee, alumni, or any other relationship. Even the Swedish singer and presenter Måns Zelmerlöw, who won the Eurovision Song contest in 2015 and was born in Lund, is the son of a Professor at Lund University. Campus life is definitely the thing that can’t be separated from Jogja and Lund. And it influences many things in the cities: the beat, the culture and even the living cost. Just like Jogja which is way cheaper than Jakarta, the living cost in Lund is also lower than Stockholm (though it’s still bit high for my budget 😀 ) Continue reading “5 things Lund and Jogja have in common”

The Story of the Unsettled Family

I was driving one of my good friends to the airport when he asked,

“So you’re moving to Sweden? All of you?”

“Yes!” I replied.

“When?”

“By the end of this month or early December maximum.”

And then he gave me that “whatttt???” look, showing how surprised he was to know about our decision.

“But you’ve just come back from Australia and build a career in Indonesia, and now you’re gonna move to somewhere far for quite a long time. Oh, wow!” he added.

“I know. We are definitely an unsettled family, hahaha, ” I said in laugh.
Continue reading “The Story of the Unsettled Family”