Cemprut: Life Must ‘Craft On!’*

‘Craft On!’ That’s the closing line used by Cemprut, an indie craft label, which is owned by Sri Rahadiyanti Aphrodita (Dita) and Agung Nuzul Wibowo (Agung). This line also represents the spirit of the young couple, to keep crafting and creating something, no matter what.

It was in early 1990’s when Dita started her hobby as a crafter. She was still in the elementary school when she first made pencil topper. She crafts anything and everything ever since. From personalized pins to photo frames, from jeans bags to cute plushy dolls.

Continue reading “Cemprut: Life Must ‘Craft On!’*”

Warung Nusantara, Warungnya Koes Plus Mania

Tempat-tempat makan berbasis komunitas banyak menjamur di Jogja. Mulai dari angkringan. lesehan hingga kedai kopi. Tapi tak banyak yang mengusung tema komunitas penggemar musik tertentu (grouppies). Warung Nusantara adalah satu dari yang sedikit itu. Terletak di Dongkelan, Kabupaten Bantul, warung ini mencoba menawarkan suasana khas Koes Plus untuk para pelanggannya. Tidak main-main, warung ini tak hanya memutar lagu-lagu Koes Plus, tapi juga memajang memorabilia semua hal yang berhubungan dengan Koes Plus seperti lukisan, patung, album, dll.

Menariknya, warung ini terletak jauh dari keramaian kota. Suasana sub-urban yang nyaman dan tidak bising justru menjadi daya tarik tersendiri dari Warung Nusantara ini. Terlebih lagi penataan tempat yang unik. Meja dan kursi etnik diatur sedemikian rupa hingga ke halaman belakang. Bagi yang berminat lesehan, tersedia tempat yang nyaman, bahkan, bar juga bisa Anda temukan di warung ini.

Soal menu, yang spesial adalah sayur brongkos, yaitu sejenis masakan yang memadukan kacang-kacangan, kulit melinjo, tahu dan santan yang kental. Menu-menu yang lain pun tak kalah menarik, berbagai masakan khas rumah bisa Anda nikmati secara prasmanan (self service) disini. Nuansa yang “homy” memang terasa kental di warung Nusantara. Jangan khawatir menjadi canggung atau jengah jika baru pertama datang karena Anda akan disambut oleh keramahan khas komunitas yang membuat Anda betah berada di warung ini. Begitu memasuki warung ini, Anda akan disambut dengan sapaan “Halo, Selamat Datang” yang ramah dari si pemilik warung. Juga jangan khawatir menjadi bosan dengan menu yang ada karena Warung Nusantara selalu mengganti menu-menunya setiap hari. Hanya ada satu menu tetap yaitu sayur brongkos.

Makanan-makanan tersebut ditata dalam sebuah tempat yang menyerupai gerobrak angkringan. Sementara sayur brongkosnya diletakkan di sebuah kuali di dalam angkringan tersebut. Tempat piring dan sendoknya pun unik. Berupa laci tertutup yang harus ditarik dulu untuk membukanya. Warungnya sendiri sangat sederhana. Terbuat dari batu bata yang (secara sengaja) belum diplester dengan semen, juga ada anyaman bambu yang semakin membuat tempat ini unik. Halaman belakangnya dibiarkan terbuka sehingga anda bisa menikmati langit malam sambil bersantap dengan gemerisik suara daun pohon bambu yang ditiup angin.

Baru dua tahun warung ini dibuka. Tepatnya 11 November 2006, pasangan Mbak Ida dan Mas Yanto (pemilik warung Nusantara) awalnya hanya berniat untuk membuat semacam tempat berkumpul bagi para Koes Plus Mania (sebutan bagi penggemar Koes Plus). Bahkan tak terbersit di benak mereka untuk mendirikan sebuah warung, yang ada hanya tempat ngumpul-ngumpul, berbagi cerita dan bernyanyi bersama. Tapi ternyata, dalam berkumpul-berkumpul tersebut mereka membutuhkan teman yang berupa makanan dan minuman. Akhirnya, pasangan suami istri tersebut sepakat untuk menyertakan makanan dan minuman sederhana di tempat tersebut.

Namun, jika Anda bukan penggemar Koes Plus, jangan khawatir tidak akan bisa membaur atau menikmati tempat ini. Lagu-lagu Koes Plus hanya diputar secara live (langsung) setiap sabtu malam, sementara pada malam-malam lain, lagu-lagu Oldies-lah yang diputar di Warung Nusantara. Bahkan jika Anda gemar bernyanyi, Anda bisa ikut serta menyumbangkan lagu ketika pertunjukan tersebut berlangsung.

Jadi jika Anda ke Jogja, dan kebetulan juga Anda adalah penggemar Koes Plus, jangan ragu untuk mampir. Sekedar mendengarkan lagu-lagu Koes Plus dan menikmati secuili surga kuliner di Jogja yang (semoga tetap) berhati nyaman.

Notes: tulisan dengan tema serupa juga terarsip di liburaninfo.com dan kompascommunity.com

Menikmati Senja di Perbatasan Jogja

Jogja masih sore ketika saya dan seorang teman sampai di tempat ini. Sekilas, tak ada yang istimewa. Apa sih menariknya sebuah tempat yang hanya kebetulan lebih tinggi dari dataran di sekitarnya?.

Tapi benar kata Tukul: “Don’t judge the book by its cover”, jangan menilai buku melalui sampul luarnya. Di balik kesannya yang sederhana, bukit yang satu ini ternyata mampu menyuguhkan pemandangan cantik untuk saya nikmati.

Terletak di sebelah tenggara kota Jogja, Hargodumilah, begitu nama bukit ini, merupakan rangkaian perbukitan yang menghubungkan Jogja dengan salah satu kabupatennya yaitu kabupaten Gunung Kidul. Jalan raya Jogja-Wonosari membelah bukit ini sehingga memungkinkan Anda untuk merasa di puncak khayangan setiap kali melewatinya. Yang ditawarkan oleh bukit ini adalah panorama khas perbukitan. Hampir sama dengan Puncak di Jawa Barat atau Ungaran di Semarang. Berdiri di bukit ini memungkinkan Anda untuk melihat Jogja dari segala penjuru. Laiknya melihat miniatur Jogja dalam bentuknya yang sangat kecil, dan Serasa mencermati diorama pada sebuah museum. Belum jika kebetulan Anda mengunjungi bukit ini di sore hari, Anda akan mendapati senja yang tak kalah menarik dibanding senja di tempat-tempat lain. Langit Jogja yang membentang luas, berpadu dengan semburat jingga yang diciptakan senja, benar-benar memberikan pemandangan yang mengundang decak kagum. Kemudian ketika malam datang, semburat senja tersebut berganti dengan gemerlap lampu-lampu perkotaan yang tak kalah cantiknya.

Continue reading “Menikmati Senja di Perbatasan Jogja”