Halo | Hello | Hallå

Hi there!

Welcome to my site where I want to invest in writing.

My name is Diyah Hayu Rahmitasari, better known as Hayu Hamemayu which is actually my pen name. I am the author of Circle Route, the co-author of Siklus Cinta and Jendela-jendela Aba (Laki-laki dalam Kereta short story) and the alpha female of the Unsettled Family. My work has appeared in The Jakarta PostMedia IndonesiaKompasMajalah KartiniMedium, The Newbie Guide to Sweden, and Indonesia Travel Magazine among others.

I was born and raised in Yogyakarta, Indonesia, used to study and live in Perth, Western Australia, and currently pursuing my dream as a writer in Lund, Sweden.

Feel free to click around and if you find something interesting to read, happy reading!

Little Asia in Lund*

*originally published for The Newbie Guide to Sweden on May 27, 2020

What do you miss the most when you’re living far from home? For me, it’s 3Fs: Families, Friends and Food!

Coming from a country known for its distinctive and rich-in-flavour foods, there are times when I crave for a little taste of home in Sweden. Lucky for me, there are some Asian speciality shops and restaurants in Lund where I can find remedy whenever homesickness strikes.

Of course it’s not apple to apple if we compare them with the shops and restaurants back home, in terms of stock and variety. But it’s still good to have them here. Especially now, when travelling overseas is not recommended and visiting your family back home is not a reasonable option.

These places can help you bring a bit of taste of Asia to your kitchen:

Eid al-Fitr celebration #inthetimeofcoronavirus

Every Eid celebration has its own story.

And I will remember this year’s Eid al-Fitr (1441H/2020) as a very quiet and lonesome one, even for me who hasn’t been home for Eid for years.

There was no communal Eid prayer in the morning. No family gathering. No friend visit. Nothing really special for a big day like Eid.

We got used to the idea of celebrating Eid far from home actually. This is not our first time celebrating Eid not in Indonesia. But at least in the time before coronavirus, we got to pray in nearest mosque or park, met friends and later gathered with them, so the festive spirit was still there. We also had an Eid festival where we could really enjoy the joyful moment and meet fellow Muslims in Sweden.

But this year, we just prayed at home with Zaki as the imam and the preacher. Then video calling all day long to greet our extended families, both from my side and Zaki’s. It’s still good to see them, talk to them, laugh with them.

But there’s this void that needs to be filled somehow.

I know I should be grateful. At least I’m still able to celebrate it in good health, not in exile or war zone. Nobody said #lifeinthetimeofcoronavirus was gonna be easy. So I think I just need to make peace with the fact that things are different now, including Eid celebration.

Although we plan, God also plans, and He is the best planner after all.

So, for the sake of keeping the Eid spirit, Zaki and I decided to still cook Eid specialty dishes, like opor and sambal balado, even though it’s just gonna be us who eat them 😄. I even made apem, a rice flour cake specially served during Eid in my hometown.

The essence of Eid al-Fitr is joy, supposedly for being reborn as a better person as we celebrate it after the fasting month. That’s why on Eid we gather with families and friends, we cook good food, we dress nicely, and we are obliged to pay Zakat, so that those who are less fortunate can also celebrate the day and be in joy.

This year’s Eid celebration is definitely one of a kind. But let’s hope that it’s just temporary and that we will be able to have a proper and better Eid al-Fitr celebration next year onwards.

Finally, from my family to yours, we wish you a blessed and a joyful Eid. I hope we can still find a ray of happiness and gratitude, despite the pandemic situation we are currently facing.

Eid mubarak! Glad Eid! Selamat Idulfitri 1441H!

Klub LDR (Bagian 3)*

*Dimuat di Majalah Kartini Edisi November 2018 – Januari 2019

Kulangkahkan kaki memasuki Simply Coffee dengan lesu. Aku sempat berpikir untuk tidak datang di pertemuan hari ini. Tapi pasti perasaanku akan jadi lebih buruk kalau aku tidak datang. Bagaimanapun, klub ini adalah salah satu fondasi kekuatanku menjalani LDR.

“Hai Nes, gimana kabarnya Yan?” tanya Rum saat aku baru saja duduk di sudut langganan kami.

Aku tak langsung menanggapi. Baru Rum yang datang siang itu. Tik, Bu Kas dan Mbak Im belum terlihat batang hidungnya. Di luar sedang hujan lebat. Mungkin mereka terjebak macet.

“Baik … mungkin,” jawabku akhirnya dengan ekspresi tak yakin.

Rum langsung menyadari mendung di wajahku.

“Wow, jangan bilang kalian sedang bertengkar. Kok bisa? Apa masalahnya?” goda Rum sambil menyondongkan badan ke arahku, menunggu cerita lengkap.

Aku hanya mendesah. Sudah beberapa minggu ini memang LDRku dan Yan bermasalah. Berawal dari jadwal telepon yang menyita waktu dan tenaga. Kerjaku yang jadi berantakan. Yan yang seperti asyik dengan kehidupan barunya. Dua Sabtu terakhir ini saja, dia menerima panggilan video saat sedang jalan-jalan ke luar kota. Sementara aku di sini, tenggelam dalam rutin yang begitu-begitu saja. Hidup Yan bergerak maju ke depan, penuh hal-hal baru. Sedangkan hidupku terjebak dalam kubangan yang sama dan setiap sudut kota seperti menyiksaku dengan kenangan bersama Yan.

Belum soal Ann. Meski aku sudah meminta, Yan tak bisa benar-benar menjaga jaraknya. Pernah suatu ketika aku menelponnya di siang hari karena sedang tak enak badan. Dan aku bisa mendengar suara Ann menggoda Yan dari kejauhan. Wajar sih, karena di jam itu Yan sudah berada di kantor dan mereka satu ruangan jadi Ann pasti tahu kalau Yan sedang menerima telpon. Tapi tetap saja. Suara Ann hanya membuatku makin meriang.

“Kenapa sih kamu enggak pulang saja summer nanti,” rajukku saat itu.

“Kan aku sudah bilang aku ada summer course,” jawab Yan sabar.

“Iya, tapi masak kamu enggak bisa ijin? Atau menunda ikut tahun depan? Atau apapun. Swedia kan negara sosialis. Kamu berhak cuti kalau memang kamu mau. Jangan-jangan kamu saja yang enggak mau pulang,” tembakku asal.

“Nes, aku benar-benar enggak bisa ngomongin itu sekarang. Aku lagi kerja, Nes. Please,” kata Yan.

Dan kalimat itu membuatku murka. Langsung kuputus panggilan teleponku dan kubanting ponselku ke atas kasur. Aku benar-benar merasa bukan lagi bagian dari prioritas Yan. Terus kenapa kalau dia lagi kerja? Apa aku tidak lagi punya hak untuk menghubunginya kapanpun aku mau? Apa Yan bahkan tak peduli kalau aku sedang tak enak badan? Aku mengamuk dalam hati.

Yan mengirim pesan agar aku beristirahat dan bahwa dia akan menelponku lagi malam harinya. Tak kubalas. Aku juga tak mengangkat teleponnya. Tidak malam itu. Tidak juga hari-hari setelahnya. Aku ingin Yan tahu bahwa dia sudah bersikap tidak adil padaku. Dan aku ingin dia merasakan yang aku rasakan.

“Entahlah Rum. Aku bingung,” jawabku setelah terdiam lama.

Klub LDR (Bagian 2)*

*Dimuat di Majalah Kartini Edisi November 2018 – Januari 2019

“Trtttt…trrrr…trtttt” ponselku bergetar di atas meja.

Aku tersentak bangun dari tidurku dan meraba-raba meja untuk meraihnya.

“Halo? Nes?” suara Yan terdengar dari seberang.

“Whoammmm, ya?” jawabku dengan suara serak.

Mata sepatku melirik ke arah jam di dinding. Pukul 12.20 dini hari. Aku dan Yan memang punya janji telepon malam ini. Dan karena Yan baru pulang dari kampusnya pukul 18.00 waktu Swedia, yang berarti tengah malam di sini, akupun jatuh ketiduran saat menunggu telponnya.

“Ngantuk ya, sayang?” tanya Yan klise.

Aku cemberut meski Yan tak bisa melihatku. Tentu saja aku ngantuk. Ini sudah lewat tengah malam.

“Enggak kok,” kataku berbohong.

Lalu kamipun tenggelam dalam obrolan tentang aktivitas kami seharian ini.

Sejak Yan berangkat ke Stockholm tiga bulan lalu, hampir setiap hari kami bertukar kabar lewat telepon, video call, atau minimal saling mengirimi pesan. Berkat teknologi, jarak memang jadi “terasa” lebih dekat. Dibandingkan LDR-LDRku sebelumnya, LDR kali ini bisa dibilang lebih tertata. Tapi tetap saja, perbedaan waktu membuat kami berdua kewalahan. Aku jadi sering bangun lebih siang karena harus melakukan panggilan rutin ke Yan tengah malamnya. Pagiku juga jadi selalu buru-buru. Tak bisa lagi kunikmati kopi pagiku dengan santai dan berangkat kerja tanpa kuatir ketinggalan kereta.

Tapi aku tak bisa menyalahkan siapapun. Kondisi ini berat bagiku maupun Yan. Dan dengan beban Yan yang kuliah sambil bekerja di kampus karena sistem S3 di Swedia menuntutnya begitu, aku tak punya hati untuk merajuk. Kami sudah pernah mencoba mengganti jadwal telepon kami ke pagi hari waktu Swedia. Tapi susah bagiku untuk menerima telepon saat jeda makan siang. Belum rapat kantor yang bisa molor sewaktu-waktu. Jadwalku sendiri tak selalu jelas waktu istirahatnya. Akhirnya kami kembali ke pengaturan awal. Telepon di malam hari. Panggilan video di akhir pekan. Pesan di waktu-waktu yang tidak perlu ditentukan.

Selain mengobrol dengan teman-teman di kantor, hiburanku di masa LDR ini adalah bertemu dengan para anggota Klub LDR. Lima orang yang tadinya asing tersebut kini telah menjadi sahabat-sahabat baikku. Yang selalu bisa menghiburku dengan caranya masing-masing. Misal pernah suatu kali aku datang ke pertemuan kami dengan tampang awut-awutan karena kurang tidur. Bu Kas langsung memesankan kopi favoritku tanpa kuminta. Dan Tik langsung menepuk-nepuk punggungku sambil bilang: “Be strong, girl! Kami semua ngerasain yang kamu rasain,”

Thanks! Kita pasti bisa,” kataku sambil mengepalkan tangan.

“Lagipula, siapa sih yang belum pernah LDR? Ki Hajar Dewantara saja pernah,” tambahku sok bijaksana.

“Oh ya?” tanya Rum polos.

“Makanya baca Rum, jangan stalking instagram artis doang,” timpal Tik ketus membuat Rum manyun.

Selain mereka, aku juga jadi berteman dengan Bas, si barista yang kusapa di hari pertama pertemuan Klub LDR. Kunjungan rutinku ke Simply Coffee membuat kami jadi sering bertemu. Dan karena seringnya aku yang datang paling awal, aku jadi terbiasa mengobrol dengan Bas lebih dulu. Bas juga kadang nimbrung sebentar kalau kafe sedang sepi. Sekedar basa-basi atau bertanya soal kelanjutan LDR kami masing-masing. Dia tak ubahnya anggota tambahan tidak tetap Klub LDR. Rum yang paling sumringah setiap kali Bas mendekati sudut tempat kami duduk. Senyumnya merekah dan matanya berbinar seperti remaja bertemu artis idola. Wajar sih, Bas memang ganteng.

Klub LDR (Bagian 1)*

*Dimuat di Majalah Kartini Edisi November 2018 – Januari 2019

Prolog

Simply Coffee hari ini tak terlalu ramai. Aku duduk di salah satu sudut dan sedang mengecek pesan di grup WhatsApp, saat barista datang membawa pesananku. Kulirik sekilas tanda nama di dada kirinya: “Bas”. Sudah jadi kebiasaanku memang untuk selalu mencari tahu siapa orang yang akan atau sedang kuajak bicara. Bagian dari pekerjaanku sebagai communication manager mungkin.

“Makasih, Bas,” ucapku padanya.

Dia tampak terkejut.

“Benar Bas, kan?” ujarku sambil menunjuk tanda namanya.

“Oh iya, sorry. Aku cuma kaget karena enggak biasanya disapa dengan nama,” jawabnya.

“Hahaha. Kayaknya itu tujuan pakai tanda nama deh, supaya orang tahu namamu,” kataku.

“Mungkin. Cuma enggak semua orang cukup peduli untuk memperhatikan,” dalihnya.

Enjoy your coffee,” tambahnya sambil tersenyum sebelum berlalu.

Aku balas tersenyum dan kembali ke kesibukanku mengecek grup WhatsApp. Hari ini adalah pertemuan pertama Klub LDR, sebuah klub yang berisi sekelompok orang bernasib sama: mau tak mau, suka tak suka, harus-wajib-kudu menjalani LDR alias Long Distance RelationSHIT! Sorry, maksudku, RelationSHIP!

Anggotanya ada lima yaitu aku sendiri, Nes, pendiri sekaligus ketua klub yang ditinggal pacarnya kuliah lagi di Eropa utara; Tik, enterpreneur muda yang suaminya bekerja di Kapal Pesiar; Rum, bankir kece yang pacarnya kerja di pertambangan; Bu Kas, anggota paling senior, ibu rumah tangga yang suaminya mengelola bisnis di Dubai; dan Mbak Im, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah bu Kas dan meninggalkan suaminya di kampung halaman bersama anak-anaknya.

Klub ini terbentuk gara-gara aku menulis pengalaman LDRku di blog yang kemudian rajin dikunjungi dan dikomentari oleh mereka, kecuali mbak Im yang ikut bergabung karena ajakan Bu Kas. Setelah sering bertukar komentar dan saling tahu bahwa ternyata kami tinggal di kota yang sama, tercetus ide untuk  membuat klub. Sebuah klub yang punya agenda rutin bertemu sebulan sekali setiap akhir minggu kedua. Macam arisan sosialita di kota-kota besar itulah. Dengan bertemu langsung, kami bisa sharing, ngobrol, curhat, bercanda, dan saling menghibur secara intens. Sehingga LDR kami akan terasa lebih tertanggungkan. Minimal kami punya support group untuk sekadar berkeluh kesah. Karena menurut kami, tidak ada yang lebih memahami LDR selain orang yang sedang atau pernah menjalaninya.

Ngomong-ngomong, LDR kali ini bukanlah yang pertama buatku. Dalam dunia percintaan sepertinya aku memang kena kutuk: harus selalu menjalani LDR. Bagaimana enggak? Ini adalah LDR kelimaku dalam dua belas tahun. Iya. Kelima. Gila, kan?

What Covid-19 has taught me about Sweden*

Picture by Arsalan Khan. Retrieved from here

When you’re living in a foreign country, it feels like you’re living in two different worlds. As if you set your feet on two different places: your hometown and your current place. Consequently, you can’t stop wondering, comparing, and analysing, which one gives you the better fit. This makes you feel wobbly and restless sometimes, especially in the situation of a pandemic of Covid-19 like what we have lately.


The last couple of months have been a really hard time for everyone. We are forced to embrace the new normal and to redefine the concept of life as we know it. New vocabularies now become part of our daily life: COVID-19, social distancing, flatten the curve, flock immunity, lockdown, and so on. However, the situation had also brought a new revelation for me.

And this revelation revolves around one word: TRUST.

Can you trust the level of trust in Sweden?

I don’t have any trust issue, but when it comes to politics and government, I was raised and taught to be sceptical or at least questioning the system. But in Sweden, this has been constantly challenged.

In the context of COVID-19, Sweden has a different approach from my home country or any other country for that matter. Sweden employs quite loose regulations, even compared to neighbouring countries like Denmark and Norway.

Tentang Kehilangan dan Patah Hati Itu

Saya berusaha untuk tidak buru-buru mencap 2020 sebagai tahun yang buruk. Saya masih ingin percaya bahwa kejadian-kejadian beberapa bulan terakhir ini hanya kerikil yang terjal di awal, dan akan membaik pada akhirnya. Ini toh baru bulan kelima, masih ada tujuh bulan untuk menebus bulan-bulan tidak menyenangkan sebelumnya.

Tapi jujur, berat merawat optimisme itu. Terutama sejak kabar-kabar kehilangan berjejalan di lini masa. Dari yang sekedar grafik dan angka hingga nama-nama yang akrab di telinga: Glenn Fredly, Irrfan Khan dan yang baru saja, Didi Kempot.

Setiap nama tersebut memiliki memori tersendiri bagi saya.

Glenn Fredly adalah penanda masa remaja yang dipenuhi tayangan MTV. Gayanya di video ”Cukup Sudah” membantu mendefinisikan kata ”cool” di masa itu. Lirik lagunya yang romantis selalu membuat saya terpikat, baik saat sedang atau tidak punya pasangan. Bahkan, ”Terpesona” masih menjadi lagu wajib saya setiap kali karaoke.

Lalu, meski tak sebanyak Glenn, memori atas Irrfan Khan adalah memori yang menawarkan warna lain untuk kegemaran saya menonton film India. Dia tidak mencuri perhatian lewat gaya dan penampilan fisik, tapi aktingnya di The Lunchbox, The Namesake dan Piku meninggalkan kesan yang tidak sedikit.

Sementara Didi Kempot, lagu-lagunya selalu mengingatkan saya pada siang-siang yang terik di Gunungkidul.

Pada angin kering musim kemarau yang bebas keluar masuk dari jendela dan pintu yang dibuka lebar-lebar. Pada satu momen ketika dua orang pekerja bangunan sedang mengganti ubin, salah satunya sambil menghisap rokok dan menggumam pelan, samar-samar melantunkan Ketaman Asmara yang diputar dengan lantang dari VCD player di ruang tengah.

Begitulah memang cara mendengarkan musik di desa saya: diputar keras-keras seolah sedang berlomba. Tumpang tindih dengan suara mesin kompresor dari bengkel milik tetangga. Dan deru mobil serta sepeda motor yang berlalu lalang di jalan raya, persis di depan rumah.

Pikiran saya merekam episode-episode kehidupan itu sebagai memori yang menyenangkan. Karenanya, kepergian si penyumbang memori mengusik ketenangan dari kenangan-kenangan itu, menimbulkan rasa kehilangan dan patah hati. Karena bagaimanapun, mengutip Didi Kempot sendiri, “aku nelangsa, mergo kebacut tresna” (aku merasa nelangsa, karena terlanjur cinta) (Cidro, 1989).

Maka atas nama kehilangan serta patah hati itu, saya membuat satu video dengan latar lagu Sewu Kutha yang saya nyanyikan awal Februari lalu. Meski tidak istimewa, semoga bisa menjadi penanda kenangan yang tersimpan lama.