Angin Musim Gugur di Dobutsuen-Mae*

Mulanya kupikir itu semua hanya kebetulan. Sebuah kebetulan bahwa aku dan dia akan selalu berada di stasiun yang sama. Di jam yang hampir selalu sama. Suatu kebetulan bahwa aku dan dia akan selalu berdiri berhadap-hadapan dan hanya terpisah dua jalur kereta. Satu-satunya yang membedakan kami adalah kereta yang kami naiki. Kereta kami berlawanan arah. Aku menuju Namba, dia menuju Tennoji. Selebihnya, kami adalah dua manusia yang tidak saling kenal yang jadwal hidupnya bersinggungan di stasiun Dobutsuen-Mae.

Mungkin itu memang hanya sebuah kebetulan. Entah ada berapa ratus orang yang pulang dan pergi melalui stasiun ini di jam-jam kerja. Kami barangkali bukan satu-satunya. Namun, entah kenapa aku menyukai kebetulan ini. Aku diam-diam menikmatinya. Diam-diam melekatkan sesuatu yang istimewa pada laki-laki itu, dan pada bagaimana kami bertemu di stasiun kereta.

Lalu aku pun mulai membuatnya menjadi kebiasaan. Aku ingin selalu melihatnya di jalur kereta seberang. Maka jadwalku pun kusesuaikan dengan jadwal dia datang menunggu kereta. Jam 07.00 pagi. Selalu seperti itu.

Selama menunggu kereta kami datang, yang itu biasanya sekitar 7 menit, aku mencuri teduh di wajah laki-laki itu. Laki-laki yang tak pernah kutahu namanya. Laki-laki yang tidak kutahu persis apa pekerjaannya atau apa yang dia lakukan di Tennoji. Laki-laki yang selalu mengenakan setelan warna gelap. Kadang biru tua. Kadang hitam pekat. Laki-laki yang selalu mendengarkan sesuatu dengan earphone-nya dan sibuk dengan telepon genggam di tangannya. Laki-laki yang sesekali tampak serius, sesekali tampak tersenyum oleh sesuatu yang dia lihat di telepon genggamnya.

Pelan tapi pasti, aku mulai menyukai cara dia menenteng tas-nya di sebelah kiri. Aku menyukai cara dia membenarkan letak kacamatanya.

Bahkan aku mulai menyukai cara dia menengok ke arah pintu stasiun saat memastikan apakah kereta benar-benar akan datang.

Sekali dua kali dia pernah melihat ke arahku. Mungkin merasa bahwa dirinya sedang kuperhatikan. Tapi aku selalu bisa menutupi lagakku dengan baik. Aku selalu berhasil pura-pura mengamati jadwal atau gambar binatang-binatang di Tennoji Zoo yang tertempel di dinding stasiun. Setidaknya begitulah menurutku. Aku tidak ingin tertangkap basah sedang memperhatikan laki-laki yang tidak kukenal. Bisa-bisa aku dianggap orang gila. Dan dengan statusku yang bukan penduduk tetap di sini, anggapan itu jelas tak baik untukku.

Aku kembali menatap dua jalur di depanku. Stasiun Dobutsuen-Mae ini memiliki dua jalur untuk arah yang berlawanan seperti lazimnya stasiun-stasiun di sini. Di depanku persis adalah jalur untuk kereta ke arah Namba yang akan aku naiki. Sementara di seberangnya, adalah jalur untuk kereta dari arah Namba menuju Tennoji. Jalur laki-laki itu.

Angin musim gugur berhembus dari lorong di sebelah kiriku. Menandakan kereta akan segera datang. Aku menatap tangga di sebelah kiri jalur yang menuju Tennoji. Dia masih juga belum kelihatan. Kereta ke arah Namba bergegas memasuki stasiun. Begitu juga kereta yang biasa membawanya ke arah Tennoji. Aku memutuskan untuk menunggu. Siapa tahu dia kesiangan. Atau sebab lain yang membuat dia terlambat sepuluh menit dari biasanya. Mungkin dia akan datang sebentar lagi. Sehingga aku bisa melihat wajahnya sebelum berangkat kerja. Seperti biasa.

Waktu bergerak sangat lambat. Kulirik jam di pergelangan tanganku. Lalu ke jam yang tergantung di langit-langit stasiun. Hampir jam 07.13. Kereta kedua akan segera datang. Dan akupun harus segera bergegas jika tak ingin terlambat. Tapi aku tidak bisa pergi. Tidak sebelum aku melihat wajah teduhnya seperti biasa. Tidak sebelum aku bisa melihat senyumnya usai membaca sesuatu yang entah apa di dalam telepon genggamnya.

Dua kereta sudah terlewat. Aku bergeming. Setengah berdoa aku berharap bahwa entah bagaimana laki-laki itu akan muncul. Berdiri di jalur di seberangku seperti biasa. Mendengarkan lagu sambil mengutak-atik telepon genggam di tangannya.

Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Di mana dia? Tidak biasanya dia terlambat seperti ini. Sesekali aku berjinjit meskipun itu tidak benar-benar membantu. Aku tidak tahu benar apa yang harus kulalukan. Aku hanya tidak bisa tidak bertemu dengannya. Tidak setelah hampir tiga bulan aku selalu melihatnya berdiri di sana. Di stasiun Dobutsuen-Mae. Menunggu kereta ke arah Tennoji. Di depanku.

Aku masih sibuk memperhatikan tangga di jalur seberang saat tiba-tiba sebuah suara yang terdengar asing menyapa di belakangku: “Daijoubu desu ka? Are you okay?”

Aku mendongak.

Tiba-tiba saja, laki-laki itu sudah berdiri di sampingku. Laki-laki yang biasanya berdiri di seberangku itu kini ada di dekatku. Di sebelahku. Dengan setelan jas warna gelap yang sama. Dengan tas yang dicangklong di pundak kirinya. Dengan kacamata yang tidak bisa menyamarkan mata teduhnya.

Aku mengangguk lemah. Masih terkejut sekaligus terpesona dengan kehadirannya yang tiba-tiba.

Dia tersenyum lalu melepas earphone yang selalu terpasang di telinganya. Diulurkannya tangannya padaku, “I’m Kiyoshi. O namae wa?” katanya.

Entah karena dinginnya udara musim gugur Osaka atau karena dadaku yang tiba-tiba berdegup kencang, mulutku terkunci rapat. Aku kehabisan kata-kata.

Published by

Hayu Hamemayu

A dreamer who simply loves to write and capture memories..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s