Klub LDR (Tamat)*

Hari ini, ada rapat penting dalam pertemuan Klub LDR. Rum akan menikah dengan Dev, pacarnya. Kami kebagian peran menjadi bridesmaid bersama dua sahabatnya yang lain. Seperti yang sudah diduga, Rum heboh luar biasa dengan pernikahannya yang akan berlangsung enam bulan lagi itu. Aku senang melihat Rum begitu bersemangat. Minimal meskipun Tik dan aku gagal mempertahankan LDR kami, Rum berhasil melaluinya dengan baik.

Segala persiapan pernikahan Rum terasa begitu menyita waktu sampai-sampai aku tak lagi ingat urusan Bas dan Yan. Ternyata, I’m doing fine just by myself. Atau setidaknya begitulah menurutku. Lalu hari yang ditunggu pun datang juga. Pesta pernikahan Rum berlangsung meriah. Saat itulah aku melihat sosok yang familiar di barisan groomsmen. Aku melangkah mendekat ke arahnya.

“Yan?” laki-laki berjas biru itu menoleh.

“Nes?” Yan tampak terkejut melihatku.

“Oh, jadi Arumi itu Rum?” tambah Yan.

Aku mengangguk. Rupanya, salah satu groomsmen Dev adalah Yan. Rum memang pernah menyebut bahwa salah satu groomsmennya Dev adalah sahabat masa kecilnya yang sudah lama tidak bertemu. Rum sendiri belum pernah bertemu dengan teman kecil Dev itu. Tapi aku tak menyangka orang itu adalah Yan.

Melihat Yan lagi setelah berbulan-bulan, dadaku sesak dipenuhi kenangan-kenangan. Yan masih memiliki pandangan itu. Pandangan yang meneduhkan. Seketika aku seperti memahami apa yang disampaikan Mbak Im. Aku merasa menemukan rumahku kembali. Aku merasa pulang. Benarkah Yan adalah belahan jiwaku? Tapi bagaimana dengan LDR? Sanggupkah aku berjauhan lagi?

Kami lalu melangkah menjauh dari keramaian. Ada banyak hal yang ingin kuobrolkan dengan Yan.

“Apa kabar? Kok kamu bisa ada di sini?” tanyaku penasaran.

“Iya, aku diminta jadi groomsmannya Dev. Terus kebetulan, aku lagi fieldwork di Singapore, jadi sekalian,” jawab Yan.

“Oh, berapa lama?” nada suaraku terdengar terlalu berharap.

“Enam bulan,” jawab Yan.

Lalu ada jeda yang terasa janggal di antara kami. Seolah masing-masing dari kami ingin menyampaikan sesuatu tapi tak bisa.

“Gimana kabar Ann?” tanyaku kemudian.

Yan tampak kaget mendengar pertanyaanku. Tapi lalu menjawab:

“Baik. Program S3nya akan selesai dalam tiga bulan ini,” jawabnya.

“Bagaimana dengan Bas?” Yan bertanya balik.

“Baik. Masih ngurusin Simply Coffee,” jawabku.

Tiba-tiba kami mendengar namaku dipanggil.

“Nes, ayo sini. Sesi foto nih,” seru Tik dari kejauhan.

Aku mengangguk pada Tik dan menoleh ke arah Yan.

“Yuk,” ajakku.

Yan mengangguk. Saat aku baru berjalan beberapa langkah, Yan tiba-tiba menyeletuk:

“Aku tak ada hubungan apa-apa dengan Ann kalau itu maksudmu.”

Diam-diam, aku menghela nafas lega lalu menoleh.

“Aku juga tak ada hubungan apa-apa dengan Bas kalau itu maksudmu,” jawabku.

Yan tersenyum lalu mengulurkan lengannya. Saat menyambut uluran tangan Yan itulah, aku sadar, dalam berhubungan, kita tidak perlu resep khusus. Kita hanya perlu orang-orang yang tepat untuk menjalani hubungan itu bersama-sama. Karena pada akhirnya hubungan bukanlah tentang jarak, hubungan adalah tentang fondasi. Dan aku ingin mencoba lagi dengan Yan. Aku ingin menata ulang hubungan ini bersama Yan.

“Nes …” panggil Yan tiba-tiba.

“Ya?”

“Kamu tahu? Ke manapun aku pergi, hanya di dekatmu aku merasa pulang,” ucapnya.

Langkahku terhenti.

The feeling is mutual,” kataku sambil menatap ke dalam mata Yan.

Kami saling bertatapan lama. Saling mencoba memahami apa yang tidak bisa kami sampaikan dengan kata-kata. Lalu tiba-tiba sebuah lengan menarikku dari Yan.

“Duh ini bu Ketua malah pacaran aja. Yuk ah, si Rum udah sewot tuh,” kata Tik.

“Pinjem Nes sebentar ya Yan. Ntar habis ini boleh dimiliki seutuhnya deh,” tambah Tik.

Aku tertawa mendengar olok-olok Tik. Begitu juga dengan Yan. Lalu kami berdua pun bergegas ke arah Rum yang sudah manyun karena ingin segera foto bersama.

“Nih, bu Ketua Klub LDR sudah datang. Yuk foto,” ajak Tik.

“Ke mana aja sih, Nes? Gerah tahu nunggunya,” omel Rum.

“Orang dia malah pacaran sama salah satu groomsman,” kata Tik.

What? Gerak cepat juga kamu Nes?” kata Rum.

“Sama yang mana, Nes?” bu Kas penasaran.

“Sama Yan lah siapa lagi?”

“Lhoh kok Yan ada di sini? Emang salah satu groomsmen kamu Yan, sayang?” tanya Rum polos.

“Yan? Ardiyan maksudmu? Iya itu teman kecilku yang kuceritain waktu itu,” jawab Dev.

Rum hanya melongo. Tik menggeleng-gelengkan kepala sementara Bu Kas mengelus dada seperti terharu. Mata Mbak Im juga tampak berkaca-kaca bahagia.

“Udah ah kok jadi ngebahas aku sih. Jadi foto enggak nih?” protesku.

“Jadi dong. Klub LDR say cheese,” teriak Rum.

Dan kami berlimapun tertawa bahagia.

– Tamat –

Published by

Hayu Hamemayu

A dreamer who simply loves to write and capture memories..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s