Klub LDR (Tamat)*

Beberapa hari setelah pertemuan darurat Klub LDR, Rum berhasil menemukan di mana Tik tinggal sekarang. Ternyata Tik kembali ke rumah orang tuanya di Tangerang selama proses perceraian dengan suaminya. Maka sore itu kami mengunjungi satu rumah di Kawasan Serpong.

Seorang asisten rumah tangga mempersilahkan kami masuk setelah Rum bertanya apakah Tik ada di sana dan dijawab dengan “ya”. Kami diminta menunggu di ruang tamu. Begitu Tik keluar, Rum langsung memeluknya sementara Bu Kas menghela nafas lega. Hal yang sama juga dilakukan Mbak Im. Mataku berkaca-kaca. Tik tampak lebih kurus dari beberapa waktu yang lalu, tapi nyala di dalam matanya tetap di sana. Tak ada yang berubah.

Tik lalu duduk dan menjawab bahwa dia baik-baik saja saat ditanya kabarnya oleh bu Kas. Proses perceraian tetap berjalan. Tapi dia yakin itu adalah yang terbaik untuk dia dan suaminya.

“Kamu benar baik-baik saja?” timpalku, mengulang pertanyaan Tik padaku dulu.

Wajah Tik mengarah ke arahku. Kami saling menatap untuk sepersekian detik. Seolah berusaha memahami pikiran masing-masing. Lalu kami berduapun tergelak mengingat momen di Klub LDR waktu itu. Rum tampak tak paham dengan apa yang kami bicarakan. Begitu juga dengan Bu Kas dan Mbak Im.

Sorry ya, Tik. Aku enggak pernah benar-benar meluangkan waktu untukmu dan teman-teman yang lain. Maafkan aku karena sudah bersikap egois,” tambahku kemudian.

 “Maafin aku juga karena terlalu terbawa emosi waktu itu. Klub bodoh ini ada gunanya kok,” katanya.

 “Jadi, apa aku masih boleh bergabung klub ini bu ketua?” tambah Tik menggodaku.

“Hmm. Sebagai ketua aku menyatakan kamu, Artika, sebagai the honorary member dari klub LDR, sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” jawabku sambil tersenyum lebar.

Tik ikut tersenyum dan memelukku.

“Awwwwww, group huggggg” kata Rum sambil langsung mendorong kami semua berpelukan.

Kami berlima duduk melingkar di sudut Simply Coffee favorit kami. Tangan kami mengenggam cangkir kopi masing-masing. Mata kami menerawang, sibuk dengan pikiran kami sendiri-sendiri. Aku tidak tahu persis apa yang dipikirkan Mbak Im, Tik, Rum dan Bu Kas. Aku hanya tahu bahwa pikiranku saat ini tidak bisa lari dari kebenaran kata-kata Mbak Im tempo hari: “Ya memang berat mbak, tapi kata orang tua, garwa itu sigaraning nyawa. Belahan jiwa. Masak untuk belahan jiwa kita enggak mau berjuang?”

Sepulang dari rumah orang tua Tik waktu itu, aku memang sengaja duduk di samping Mbak Im untuk mengobrol tentang LDRnya. Dan begitulah jawaban mbak Im ketika kutanya soal beratkah menjalani LDR setelah bertahun-tahun. Aku tertegun saat mendengar jawaban mbak Im. Di balik sikap sederhananya, mbak Im ternyata menyimpan kebijakan-kebijakan yang luar biasa.

Tanpa perlu berteriak-teriak soal gender dan feminisme, Mbak Im dan suami sudah melakukan itu ketika memutuskan “bertukar” posisi bekerja. Tanpa perlu konsultasi dengan para ahli relasi, Mbak Im dan suami sudah membuktikan bahwa hubungan LDRpun bisa dijalani dengan utuh dan membahagiakan. Dan yang lebih mengejutkanku adalah jawaban Mbak Im ketika kutanya soal perasaannya.

“Mbak Im, dari mana mbak Im yakin kalau suami mbak Im itu belahan jiwanya mbak Im?”

Mbak Im tak langsung menjawab pertanyaanku. Dia tampak berusaha merumuskan kata-kata yang pas. Setelah beberapa menit, mbak Im akhirnya berkata:

“Soalnya, setiap melihat bapaknya anak-anak, di mana pun itu, saya merasa pulang, Mbak.”

Detik itu, aku tak sanggup bertanya-tanya lagi.

Itu adalah kejadian hampir tiga bulan yang lalu. Aku mencamkan kalimat mbak Im baik-baik di kepalaku. Siapapun belahan jiwaku, he must be my home, seseorang yang membuatku merasa pulang.

Published by

Hayu Hamemayu

A dreamer who simply loves to write and capture memories..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s