Klub LDR (Bagian 4)*

Aku belum bertemu Yan lagi sejak pertemuan hari Minggu kemarin. Yan sempat menelponku dan mengajak bertemu. Tapi aku ingin merasa lebih yakin sebelum menemuinya. Dan Senin pertama sejak kepulangan Yan itu, aku sedang berjalan menuju kantin di belakang kantor saat sebuah tangan menepuk bahuku. Refleks aku menoleh.

“Bu Kas?” sapaku tak percaya.

Yang kusapa hanya tersenyum.

“Bisa ngobrol sebentar, Tik?” katanya kemudian.

Aku mengangguk.

Kami lalu berjalan bersama. Terus terang aku merasa sedikit canggung dengan pertemuan ini. Tak biasanya bu Kas menemuiku di luar pertemuan Klub LDR. Di kantor apalagi. Pasti ada hal penting yang membuatnya melakukan ini.

“Mbak Im di mana, bu?” tanyaku berbasa-basi.

“Mbak Im pulang kampung. Suaminya sakit lagi,” jawab bu Kas.

Kami lalu duduk di salah satu bangku di kantin. Aku menatap bu Kas penuh tanya. Bu Kas menyadari rasa penasaranku.

“Nes, aku sengaja menemuimu di sini karena ingin bicara padamu sebagai teman, bukan hanya sebagai anggota Klub LDR,” jelasnya.

“Aku tahu kamu selalu membandingkan dirimu dengan Tik. Aku setuju kalian berdua memang mirip. Tapi hidup Tik adalah hidupnya, Nes, bukan hidupmu. Kamu tak perlu khawatir bahwa apa yang terjadi pada Tik akan terjadi padamu juga,” kata bu Kas padaku.

“Dan yang paling penting, apapun yang terjadi pada Tik, bukanlah salahmu. Bukan salah Klub LDR. Bukan salah siapa-siapa,” tegas bu Kas.

Aku hanya bisa menunduk.

Bu Kas lalu bercerita bahwa dia dan suaminya juga pernah berada di ambang perceraian. Dia juga bilang bahwa mbak Im-lah yang menyelamatkan pernikahan mereka. Saat mendengar itu, kepalaku mendongak. Mbak Im yang menyelamatkan pernikahan bu Kas? Apa pula maksudnya ini?

“Kamu tahu Nes? Salah satu hal yang membuat LDR terasa lebih ringan adalah keyakinan bahwa semua itu hanya sementara. Bahwa cepat atau lambat kita akan bersama lagi. Tapi segera setelah semuanya menjadi permanen, kita meragu, LDR jadi berkali-kali lebih berat.”

“Waktu itu aku hampir menyerah. Dan tak ada yang menghalangiku sebenarnya. Keluargaku tak akan keberatan. Aku tak punya anak untuk dijadikan pertimbangan,” bu Kas bercerita panjang lebar.

Aku diam mendengarkan. Bu Kas melanjutkan bahwa setelah dua tahun, Bu Kas merasa jenuh dengan jarak yang ada. Dia bosan dengan rutinitas begitu-begitu saja yang dimilikinya bersama suami. Hubungan yang ada tiba-tiba terasa hambar. Mereka bahkan tidak bertengkar. Bu Kas hanya tak lagi mau diajak video call. Jumlah panggilan tiap minggu juga makin berkurang. Lalu suatu hari, Bu Kas melihat Mbak Im sedang duduk menulis surat di kamarnya.

“Ngapain kamu, Im?” tanya bu Kas waktu itu.

Mbak Im kaget dan langsung berusaha menyembunyikan kertas di hadapannya.

“Hayo apa itu? Jangan bilang kamu mau pamit lho ya,” kata Bu Kas.

“Enggak kok Bu, ini cuma, itu, surat, buat bapaknya anak-anak,” jawab Mbak Im akhirnya.

Surat? Jaman semaju ini masih kirim surat? batin Bu Kas.

“Kenapa kirim surat segala, Im? Kan tinggal nelpon atau sms?” Bu Kas beralasan.

Saat itulah mbak Im bercerita bahwa dulu ketika suaminya yang bekerja, mereka rajin berkirim surat. Surat menyurat adalah kebiasaan mereka sejak masih pacaran dulu. Kebiasaan sepele ini, menurut mbak Im, membantu menjaga cinta mereka agar tetap menyala di masa-masa tua. Mbak Im juga bercerita bahwa dia punya banyak kebiasaan bersama yang lain. Seperti segelas teh manis kental di pagi hari dan sepiring singkong bakar yang selalu disiapkan suaminya setiap dia pulang. Atau pergi ke salah satu sungai di desa mereka, berdua saja tanpa anak-anak.

“Biar engak bosan saja kok, Bu,” pungkas Mbak Im.

Dari situ Bu Kas menyadari bahwa hubungan memang harus dijaga. Tidak cukup hanya dijalani begitu saja. Cinta tetap harus dipupuk dan diperjuangkan. Kita juga harus fokus pada tujuan. Pada apa yang kita cari dari hubungan itu.  

“Saat itulah aku memutuskan untuk gantian mengunjungi suamiku. Bukan dia yang pulang,” cerita Bu Kas.

Bu Kas juga mulai mengirimi suaminya foto-foto kegiatan dan memintanya melakukan hal yang sama. Dengan begitu, mereka bisa saling merasakan dan memahami pengalaman keseharian masing-masing. Bu Kas menambahkan bahwa LDR mungkin memang bukan untuk semua orang.

Tapi dalam relasi pasangan, kadang masalahnya bukan di jarak. Jarak hanya menjadi penguat fondasi yang sudah lemah dari awal. Hubungan itu sinergi, and there’s no such thing as one sollution fits all. Setiap pasangan harus merumuskan resep mereka sendiri.

 “Aku dengar dari Rum kalau Yan pulang. Dan bahwa kamu bimbang antara Yan atau Bas. Aku bisa memahami kebimbanganmu. Dan kamulah yang sebenarnya paling tahu mana yang lebih baik buatmu. Tapi kalau memang mengakhiri hubunganmu dengan Yan adalah keputusan final, pastikan dulu bahwa itu bukan karena ketakutan yang kamu ciptakan sendiri. Bukan juga karena LDR.”

Aku menelan ludah.

“Satu lagi, Klub LDR ini bukan dibuat untuk menjamin bahwa LDR para anggotanya pasti berhasil. Klub LDR ini hanyalah tempat kita berkumpul dan saling berbagi cerita. Persahabatan yang kita jalin hampir setahun ini pastinya lebih berarti daripada sekedar formalitas organisasi. Jadi jangan merasa terbebani,” tegas bu Kas.

Begitu bu Kas pergi, aku merenung lama. Mengingat-ngingat lagi apa yang kupunya bersama Yan. Mencari tahu apa yang kurasakan pada Bas. Cintakah? Atau hanya kenyamanan sesaat? Aku memutuskan untuk menemui Bas sepulang kantor nanti.

Published by

Hayu Hamemayu

A dreamer who simply loves to write and capture memories..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s