Klub LDR (Bagian 4)*

Minggu kedua Agustus, aku sedang duduk mengobrol dengan Bas di Simply Coffee seperti biasa. Hari ini seharusnya adalah jadwal pertemuan rutin klub LDR. Tapi setelah konflik dengan Tik waktu itu, sudah berminggu-minggu klub LDR vakum. Aku sendiri sejujurnya masih berharap mereka akan datang hari ini. Setidaknya Rum mungkin. Minimal dia bisa membuatku terhibur.

Saat sedang duduk menunggu itulah aku menyadari kedatangan seseorang.

“Yan?” seruku tertahan.

Aku tak mempercayai pemandangan di depanku. Yan tengah berdiri di sana, memegang buket bunga Daisy biru seperti yang sering dia lakukan dulu. Senyumnya mengembang.

“Simply Coffee, minggu kedua, pertemuan Klub LDR,” kata Yan seolah menjawab pertanyaan di mataku.

Bas mengikuti arah mataku. Yan seketika menyadari keberadaan Bas dan ada yang meredup dalam senyumnya. Sementara aku masih bengong tak tahu harus bereaksi seperti apa. Bas tersenyum mafhum lalu pamit memberiku waktu berdua saja dengan Yan.

“Jadi dia yang membuatmu menjauh akhir-akhir ini? Diakah pacarmu sekarang?” tanya Yan begitu Bas pergi.

“Kenapa kamu di sini, Yan?” aku tak menjawab pertanyaan Yan.

Yan menegakkan duduknya.

“Kupikir ini yang kamu inginkan? Aku di sini? Kita?” kata Yan sambil mengulurkan buket bunga yang dia bawa padaku.

Aku tak langsung menerimanya. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan. Kenapa Yan ada di sini? Bukankah dia seharusnya berada di Milan untuk sekolah musim panasnya? Bukankah dia bilang dia tak bisa pulang? Bagaimana perasaan Bas melihat ini semua? Bagaimana dengan perasaanku sendiri? Beragam tanya berkecamuk di benakku.

Yan menyadari kebingungan di wajahku. Lalu dia pun mengatakan bahwa dia begitu merindukanku sehingga ketika kuliah musim panasnya selesai di Milan, dia langsung memesan penerbangan ke Indonesia.

“Aku mengajukan cuti dua minggu. Seperti yang kamu bilang, aku berhak cuti kalau aku mau. Maaf Nes, seharusnya sudah kulakukan ini dari kemarin-kemarin,” jelasnya sambil tersenyum.

Tapi aku belum bisa membalas senyumnya. Yan meraih tanganku lembut.

“Nes, kamu pasti sudah tahu alasan kenapa aku pulang. Dan aku setuju usulan break kemarin itu sangat konyol. Aku minta maaf untuk itu. Tapi sekarang, setelah aku di sini, will you take me back?” jawab Yan.

Ada hangat yang terasa nyaman dalam genggaman tangan Yan.

“Tapi kamu cuma di sini untuk dua minggu, Yan. Setelah itu lalu apa? Kita akan terjebak drama yang sama lagi,” jawabku gusar.

Yan mendesah.

“Setidaknya beri kita kesempatan sekali lagi, Nes,” ujarnya.

“Atau kamu sekarang lebih memilih laki-laki itu?” tambah Yan sambil mengerling ke arah Bas di belakang kasir.

“Jangan melibatkannya, Yan. Dia bukan siapa-siapaku. Tapi minimal dia selalu ada untukku. Minimal dia ADA di sini,” aku beralasan.

“Nes, please, jangan memutarbalikkan fakta. Kamu yang sejak awal enggak mau ikut aku ke Stockholm. Kamu yang bilang kita akan baik-baik saja,” tegas Yan.

Aku terdiam.

 “Do you even love him?” tanya Yan lagi.

Love? What do you know about love?” aku tertawa sinis.

“Mungkin enggak banyak. Only what you don’t!” jawab Yan sambil tersenyum tipis.

Dan dengan begitu Yan pergi. Hatiku mencelos tapi aku tak berusaha menahannya. Aku tenggelam dalam kebingunganku sendiri. Apa yang sebenarnya kuinginkan? Yan ada di sini. Seharusnya itu menjelaskan semuanya. Seharusnya aku bahagia. Dan meski enggan mengakuinya, aku bahagia bisa melihatnya lagi. Tapi sekarang? Bagaimana dengan Bas? Apa yang sebenarnya dia harapkan dariku?

Rum datang tak lama setelah Yan pergi.

“Okay, yang barusan keluar itu Yan kan?” tanya Rum bahkan sebelum dia duduk.

Aku mengangguk. Aku kaget melihat kedatangan Rum sebenarnya. Tapi kedatangan Yan jauh lebih mengagetkanku.

“Buket bunga itu dari Yan berarti?” tanya Rum lagi.

Aku kembali mengangguk.

“Aaaakkkkk, so sweet. Jadi dia akhirnya datang dan membawakan bunga kesukaanmu. Kalian balikan kalau gitu?” cerocos Rum padaku.

Aku menatap Bas dari kejauhan. Mencoba mencari jawaban di sana. Bas tampak sedang sibuk melayani salah satu pelanggan. Rum mengikuti arah pandanganku dan menyadari kebimbanganku.

“Ahhh, I see,” gumamnya lalu duduk di sampingku.

What should I do, Rum?” tanyaku sedih.

“Aku enggak tahu, Nes. Tapi kalau aku jadi kamu, aku akan menuruti kata hatiku,” jawab Rum.

Hati? Apa aku bisa mempercayai hatiku sendiri? Kalau aku memilih Bas, apa aku akan memiliki yang kumiliki dengan Yan? Kalau aku memilih Yan, bagaimana kalau akhirnya jarak mengalahkan kami? Bagaimana kalau akhirnya dia memilih yang lain, seperti suaminya Tik? Ann misalnya.

Aku benar-benar tak bisa memutuskan.

Published by

Hayu Hamemayu

A dreamer who simply loves to write and capture memories..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s