Klub LDR (Bagian 2)*

Sabtu adalah hari yang paling kutunggu-tunggu dalam seminggu. Karena di hari Sabtulah aku melakukan panggilan video dengan Yan. Sabtu adalah hari di mana kami bisa mengobrol berdua dengan hangat sambil melihat wajah masing-masing. Sabtu adalah waktu spesial untuk kami berdua. Hanya aku dan Yan. Tapi Sabtu itu, bukannya Yan, justru wajah seorang perempuan bule tak kukenal yang muncul di layar saat aku menelpon.

“Yannnnn, it’s on,” teriak perempuan itu.

Aku hanya melongo.

Hi Nes, I heard a lot about you. Yan is in the kitchen now but he’ll be here soon,” kata perempuan yang kemudian kutahu bernama Ann, teman satu ruangan Yan di kampus.

“Hi,” balasku dengan tampang kebingungan.

Hi honey. Sorry tadi lagi ngambil sesuatu di dapur. How was your week, sayang?” kata Yan ringan seolah tidak ada yang aneh dengan kejadian barusan.

 “Oh, she’s cute, Yan!” tambah Ann.

Thanks, I think,” jawabku, masih mencoba mencerna semuanya.

Meski dalam hati aku tak suka dibilang cute. Please deh, cute is for teenager. I’m an adult.

Setelah saling berkenalan dan berbasa-basi sebentar, Ann pamit. Meninggalkan kami berdua saja. Memang sudah begitu seharusnya. Ini kan hariku dan Yan.

“Kamu enggak ngerasa tadi itu aneh?” kataku tajam begitu Ann pergi.

Jujur aku merasa cemburu pada Ann. Mereka teman satu ruangan. Mereka bertemu hampir setiap hari. Dan nama mereka saja berima: Ann dan Yan. Jangan-jangan … kepalaku pening dijejali berbagai kemungkinan.

Tapi Yan hanya tertawa. Menurutnya kedatangan Ann pagi itu tidaklah aneh. Ann sedang jogging dan melewati area apartemen Yan. Lalu dia bertanya apakah Ann bisa mampir sebentar untuk meminta kopi Indonesia yang dijanjikan Yan tempo hari. Yang tentu saja Yan iyakan. Tapi tepat saat Yan baru saja mau mengambil kopinya di dapur, panggilan videoku masuk. Dan Yan meminta Ann menerimanya lebih dulu karena tak mau membuatku menunggu.

Penjelasan Yan terdengar masuk akal, tapi aku masih bisa merasakan sisa-sisa api cemburu di dadaku. Aku tetap tak suka Yan dekat dengan perempuan lain. Apapun alasannya.

“Jangan berpikir yang enggak-enggak, Nes. You know me,” kata Yan mencoba menenangkanku.

Iya, aku tahu aku kenal Yan. Dan susah memang membayangkan dia selingkuh. Maksudku, Yan bukan jenis laki-laki seperti itu. Selama ini dia sudah cukup membuktikan komitmen dan kesungguhannya padaku. Tapi kalau sedang berjauhan begini, wajar kan kalau aku khawatir?

Jarak kadang membuat hal-hal yang tadinya bukan masalah menjadi tampak seperti masalah. Jarak juga bisa menjebakmu untuk membandingkan. Melihat dan memperhatikan apa yang tidak dimiliki oleh pasanganmu yang kini tampak jelas dimiliki oleh orang lain. Kehadiran dan ketersediaan waktu misalnya.

Aku teringat nasehat Tik tentang bersikap jujur. Maka akupun memutuskan untuk jujur pada Yan tentang perasaanku.

“Aku percaya kamu, Yan. Tapi aku berhak untuk khawatir, kan? Jadi tolong, jaga jarak untukku, ya,” kataku padanya.

Yan tersenyum dan mengangguk mantab.

“Pasti,” tegasnya.

(Bersambung)

Published by

Hayu Hamemayu

A dreamer who simply loves to write and capture memories..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s