On BTS: Catching up with the rest of the world

This might sound ridiculous amid the waves of KPop, but to be honest, I’m zero about Korean pop culture.

I learnt about it during my master program when I took the Media in Asia course. But apart from its historical context, its massive and rapid development, I know nothing. And  I’m not a huge fan of it either. In my defence, I have watched some Korean movies and series, such as My Sassy Girl, Miracle in Cell No 7, Train to Busan, and Coffee Prince. And I agree they’re quite good. But those are all I know and those only 😀 .

In terms of music, the only icon I knew was Rain because he was the brand ambassador for a shampoo brand back then so I saw him quite often on TV ads. I know, I know, it’s so last year, don’t judge me 😄 Oh and Psy with his Oppa Gangnam Style, because he’s such a global phenomenon, and who doesn’t know him anyway 😀

Then few months ago I heard about BTS, probably the most popular Korean boyband on earth right now. I had no idea who they were. Never listened to their songs either. I thought they were just like any other KPop groups, but then I heard that they were on the cover of TIME Magazine.

bts
Picture is retrieved from Billboard

Okay. That was something.

Then I heard that they delivered a speech in the UN.

bts-united-nations-768x532
Pictured is retrieved from CLEO

 

Wow. Now we’re talking.

That time I said to myself: I have to know this boyband. I don’t want to live in a cave anymore 😄

So I began my “research” last week.

Continue reading “On BTS: Catching up with the rest of the world”

Menyuruh Anak ke Warung

Bagi sebagian orang tua, menyuruh anak membeli sesuatu di warung mungkin hanyalah perkara sepele. Hanya soal permintaan tolong sederhana yang tidak perlu dibesar-besarkan. Apa sih istimewanya mengirim anak berbelanja?

Tapi buat saya, menyuruh anak ke warung adalah momen serius yang terkait banyak hal. Tidak hanya soal memberi kepercayaan, tapi juga soal kemandirian, rasa percaya diri hingga melatih keberanian. Dan bukan hanya untuk si anak. Tapi juga untuk saya sendiri, sebagai ibu.

Momen menyuruh anak ke warung ini baru saja saya alami akhir pekan kemarin. Saat saya meminta anak sulung saya membeli roti dan susu di toko dekat rumah. Sudah lama memang saya berencana melakukan hal ini. Selain untuk melatih anak saya, juga untuk melatih saya melepas anak pergi sendiri. Sebenarnya sudah beberapa kali anak saya pergi tanpa saya atau Ayahnya. Tapi selalu dalam rombongan. Entah itu teman sekolah, anggota keluarga besar, atau tim sepak bola. Belum pernah dia pergi melakukan sesuatu sendirian.

Maka ketika akhir pekan lalu stok susu dan roti kami habis, saya pun menawarinya untuk membeli dua hal itu di warung yang berjarak sekitar 350m dari rumah. Sebelum-sebelumnya saya sudah berulang kali mengatakan bahwa akan ada saat di mana saya memintanya pergi berbelanja tanpa saya. Sehingga ketika hari itu tiba, dia tidak kaget. Setelah menjelaskan ini-itu dan memberinya arahan yang dirasa perlu, saya membekalinya uang 50 kronor, tas belanja dan ponsel saya untuk berjaga-jaga, lalu melepasnya berangkat belanja sendiri. Estimasi saya, aktivitas berbelanja itu akan dia lakukan dalam kurun waktu 15 menit. Dan saat itulah saya sadar, 15 menit itu adalah salah tingkah terpanjang pertama saya sebagai ibu 😄

Continue reading “Menyuruh Anak ke Warung”