Mengapa Swedia Peduli dan Mengapa Kita Lupa

Tiga bulan terakhir, pemberitaan tentang Greta Thunberg, anak muda Swedia yang mogok sekolah karena mengkampanyekan perubahan lingkungan memenuhi media dan lini masa saya. Di waktu yang hampir bersamaan, muncul kabar tutupnya Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, dan keresahan warga Jogja soal mau dibawa ke mana sampah-sampah mereka. Belum soal kabar paus yang mati karena menelan berkilo-kilo plastik. Semua hal ini membangkitkan keinginan lama saya untuk menulis tentang pengelolaan sampah di Swedia.

Swedia memang bisa dibilang sangat serius soal pengelolaan sampah dan kepedulian lingkungan. Greta adalah bukti nyata bagaimana kesadaran lingkungan menjadi keseharian di negara ini. Dan dia tidak sendirian. Banyak Greta-Greta yang lain yang menjadikan kesadaran lingkungan sebagai gaya hidup. Mereka adalah hasil dari sistem yang sudah disiapkan sedari awal. Pilah-pilih sampah sudah diajari sejak dini. Reduce, reuse, recycle bukan hanya berhenti sebagai slogan. Bahkan, sekolah-sekolah berlomba-lomba menjadi green flag school, salah satu program EU untuk menginisiasi dan melibatkan anak-anak muda dalam menjaga lingkungan, dimulai dari ruang kelas mereka.

Continue reading “Mengapa Swedia Peduli dan Mengapa Kita Lupa”