Circle Route: Epilog

Rasa-rasanya aku ingin menggantikan sopir yang melajukan bus dengan lambat. Bahkan sering sekali berhenti untuk mengangkut penumpang.

“Aduh Pak Sopir, aku mau deh membayar tiga kali lipat asal bus ini melaju dengan lebih cepat. Aku tak sabar ingin segera sampai di Kewuru,” batinku jengkel.

Sebenarnya aku capek bukan main. Tapi aku tak mau menunda-nunda. Makanya begitu aku menemukan buku dari Bagas, langsung kupesan tiket pesawat ke Jogja. Beruntung ini bukan akhir pekan, jadi tiket yang relatif murah masih banyak tersedia. Aku tak sempat mengabari siapa-siapa. Tidak Tim, atau Kaila, atau bahkan kakakku, Bara. Aku toh takkan berlama-lama di Kewuru. Hanya bertemu Bagas, lalu aku akan kembali ke Jakarta dalam dua atau tiga hari. Begitu rencanaku. Aku bahkan tak membawa banyak barang. Hanya baju ganti dan beberapa keperluan personal yang sempat kujejalkan di ranselku.

Setelah penerbangan hampir satu jam, sesampainya di bandara Jogja aku langsung mencegat bus yang mengantarku ke terminal antar kota untuk kemudian menaiki bus yang lain lagi, menuju Kewuru. Sama seperti ketika pertama kali aku datang ke desa itu. Rute yang cukup panjang. Jelas saja aku capek. Tapi harapan untuk segera bertemu Bagas mengurangi capekku. Berganti dengan rasa jengkel pada sopir bus yang menjalankan busnya seperti siput.

Bus yang aku tumpangi baru saja meninggalkan perbatasan kota Jogja. Kewuru masih 60 kilometer lagi. Masih sangat jauh. Aku membuang bosan dengan mendengarkan koleksi lagu-lagu lama di iPodku. Telingaku terlambat di satu lagu berjudul Flying Without Wings. Lagunya Westlife, boyband favoritku saat masih duduk di bangku SMP. Aku geli sendiri teringat betapa dulu aku dan teman-temanku begitu terobsesi dengan Westlife. Sampai-sampai mengoleksi semua poster dan pernak-pernik yang berhubungan dengan boyband asal Irlandia itu. Aku menyentuh tombol “play”. Sambil menatap ke luar jendela dalam bus yang merayap pelan, kuresapi lirik lagu romantis yang satu itu:

Everybody’s looking for a something

One thing that makes it all complete

You’ll find it in the strangest places

Places you never knew it could be

Aku tertegun. Seperti lagu itu, barangkali Kewuru memang tempat yang asing untukku. Hanya beberapa bulan kuhabiskan waktu di sana. Itupun hanya di rumah salah satu penduduknya. Bukan sepenuhnya di Kewuru. Tapi barangkali justru di tempat asing itu, sesuatu yang melengkapi hidupku berada. Barangkali, Bagas adalah keping terakhir dari puzzle yang tengah aku susun. Maybe, he is the one who makes it all complete.

Setelah hampir dua jam, akhirnya aku sampai juga di Kewuru. Tak sabar rasanya untuk segera berlari ke rumah Bagas. Aku tak bisa membayangkan dengan pasti bagaimana reaksinya saat melihatku. Akan terkejutkah dia? Apakah dia akan senang bertemu denganku lagi? Beragam tanya hilir mudik di benakku. Aku tak pernah mengira bahwa aku akan kembali ke Kewuru secepat ini. Tidak setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta, ke Kewuru, kembali ke Jakarta bahkan jauh-jauh ke Perth.

Barangkali cinta itu seperti circle route.

Di mana kita harus menempuh jalan yang memutar, hanya untuk kembali ke tempat yang sudah kita tahu sebelumnya.

Mungkin kita tak pernah tahu seberapa banyak pemberhentian sementara yang harus kita singgahi.

Mungkin juga kita tak pernah tahu berapa lama waktu yang harus kita habiskan untuk menempuh rute itu.

Yang kita tahu cuma satu: selalu ada yang tidak sementara, yang menggenapi, yang menjadi pemberhentian terakhir

Aku mempercepat langkahku. Berlari-lari kecil menuju rumah bergaya klasik di ujung jalan. Tas ranselku yang salah satunya berisi buku pemberian Bagas terantuk-antuk di punggung. Ya, aku datang karena ke sinilah hatiku membawaku. Ke Kewuru. Ke Bagas. Di depan rumah bergaya klasik itu terdapat sebuah taman kecil berhias kolam dengan ikan warna-warni di dalamnya. Seorang Ibu yang tampak anggun sedang merawat anggrek di dekat kolam itu. Sepertinya dia Ibunya Bagas. Wajah mereka mirip. Langkahku terhenti di pagar. Aku menyapa Ibu tersebut.

“Permisi Bu, Bagasnya ada?” kataku sumringah. Tak sanggup menyembunyikan rasa senangku karena akan bertemu Bagas.

Si ibu mendongak. Menatapku heran untuk sesaat lalu berkata:

“Bagasnya lagi pergi itu nak. Tadi katanya mau beli sesuatu di kota. Mau ditunggu di dalam?” ujarnya ramah.

Aku sedikit kecewa. Tapi tak apalah. Yang penting Bagas masih tinggal di sini. Jadi aku bisa menemuinya nanti.

“Maaf, nak ini siapa ya? tanya Ibu Bagas padaku.

“Saya Bening Bu, temannya Bagas, dari Jakarta,” jelasku.

“Oh yang menulis novel itu ya? yang kemarin sempat tinggal di tempat Pak Is?” tanyanya ramah.

“Iya Bu,” jawabku pendek. Aku senang Ibunya Bagas mengenaliku.

“Ayo-ayo, masuk aja nak, nunggu Bagasnya di dalam aja,” ajaknya.

Aku menurut saja. Kubuntuti langkah Ibunya Bagas ke ruang tamu bergaya Jawa. Penuh dengan ukiran dan hiasan antik. Aku ingat dulu Tini pernah bilang bahwa keluarga Bagas masih keturunan Kraton Jogja. Pantas saja rumahnya klasik dan penuh koleksi antik begini.

“Duduk Nak,” pinta Ibunya Bagas padaku.

Dia lalu duduk di sampingku. Lalu dengan kebahagian yang membuatku heran dia mulai bercerita tentang Bagas. Tanpa diminta dia bercerita semua tentang anak tunggalnya itu. Tentang masa kecilnya. Tentang cita-citanya. Juga tentang pekerjaan barunya.

“Bagas akhirnya mau mengajar lagi nak, tapi sekarang mengajar musik di universitas di Jogja. Baru minggu depan mulainya. Makanya ini dia ke kota nyari-nyari keperluan untuk dibawa ke Jogja” terangnya padaku. Tampak jelas dia sangat bahagia dengan keputusan anaknya. Aku juga senang, sekaligus terkejut. Ternyata sudah banyak yang berubah sejak aku meninggalkan Kewuru beberapa bulan lalu.

Tak terasa hari makin sore. Secangkir teh manis yang disuguhkan Ibunya Bagas padaku sudah habis kuminum. Tapi Bagas belum menampakkan batang hidungnya juga. Firasatku tak enak. Aku mulai meragukan keputusanku kembali ke Kewuru. Aku datang untuk memastikan bahwa ada sesuatu antara aku dan Bagas. Memastikan bahwa ada sesuatu yang istimewa di antara kami. But is there any? Jangan-jangan ini semua hanya perasaanku saja. Perasaan sepihak. Bagas memang pernah bilang bahwa dia menyukaiku sewaktu kami berduaan di Bukit Jati, tapi mungkin itu cuma suka saja. Bukan cinta. Tak berbeda denganku, ibunya Bagas juga tampak gelisah. Sesekali ia melirik jam dinding tua di sudut ruang tamu.

“Aduh, ini anak kemana sih. Lama sekali perginya. Enggak bawa handphone lagi,” gerutunya.

Aku tak menimpali. Sibuk dengan perasaanku sendiri. Khawatir kalau keputusan yang kuambil ini salah. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di tempat Pak Is saja. Awalnya, Ibunya Bagas berusaha menahanku. Tapi aku bersikukuh. Aku berjanji akan kembali malam harinya. Aku lalu berpamitan pada Ibunya Bagas, dan berjalan ke arah rumah Pak Is. Baru beberapa meter melangkah, kuputuskan untuk mengubah rencanaku. Kubelokkan langkah kembali ke arah Pasar Kliwon.

Kekecewaanku karena tak bisa langsung bertemu Bagas membuatku cemas dan lapar sekaligus. Cemas jika semua tak berjalan seperti yang kuharapkan. Lapar karena aku belum makan sejak pagi. Maka kuputuskan untuk kembali ke Pasar Kliwon dan bukannya langsung ke rumah Pak Is. Mungkin semangkuk mie ayam paha ala warung Kondang Jaya bisa mengurangi lapar sekaligus cemasku.

Dengan sedikit gontai, aku melangkah ke warung yang tenar sesuai namanya itu. Untung warungnya masih buka. Si Bapak penjual yang dulu juga masih sama. Dia bahkan masih mengenaliku. Setelah berbasa-basi sebentar aku memesan semangkuk mie ayam paha dan segelas es teh. Persis seperti yang kupesan dulu. Lalu aku duduk di bangku yang paling belakang dan dekat dengan jendela yang menghadap ke pasar. Di bangku yang sama saat aku pertama kali bertemu Bagas.

Aku baru saja hendak menyantap mie ayam paha di depanku saat aku merasa de javu. Beberapa bulan lalu, aku juga duduk di sini. Di bangku yang sama. Menyantap mie ayam yang sama. Bedanya saat itu, ada seorang laki-laki berambut ikal dan bertopi hitam yang tiba-tiba melangkah masuk, menyanyikan lagu lalu tiba-tiba duduk menyantap mie ayamnya di depanku.

“Ya, mirip seperti laki-laki yang baru saja masuk itu,” batinku.

“Tunggu. Itu bukan Bagas kan?” aku menggumam sambil menatap laki-laki berambut ikal dan bertopi hitam yang tengah berjalan ke arahku.

Aku memicingkan mata minusku untuk memastikan apakah laki-laki itu Bagas atau bukan. Laki-laki itu tampak tersenyum dan langsung mengambil tempat duduk di depanku yang masih terbengong-bengong. Ternyata memang Bagas. Aku tidak sedang berhalusinasi karena terlalu kecapekan. Atau karena terlalu berharap ingin bertemu dengannya. Dia benar Bagas. Mendadak aku gugup sekaligus bahagia setengah mati melihat laki-laki di depanku ini. Dia tak banyak berubah. Masih cuek dan ganteng seperti dulu.

“Kamu kok tahu aku di sini?” tanyaku heran setelah bisa menguasai rasa grogi yang barusan muncul saat melihatnya lagi.

“Panjang ceritanya,” kata Bagas.

“Sepanjang apa?” tanyaku iseng.

“Kamu harus menghabiskan seluruh hidupmu bersamaku untuk mendengar keseluruhan ceritanya,” jawabnya sambil menggenggam jemariku. 

-Tamat-

img_2034.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s